Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)

Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)
Salju Di Bulan Desember


__ADS_3

Salju masih turun dengan begitu derasnya, sementara Edrick kini tampak kian erat memeluk tubuh telanjang Amber di balik selimut tebal di kamar mereka.


Tawa dan canda pun tampak terdengar dari bibir keduanya. Sesekali, Edrick menciumi kembali tengkuk dan bahu Amber yang membuat Amber mengeluarkan dessahan lirih.


"Hahahahaha, cukup Edrick hentikan!" ujar Amber saat Edrick tak berhenti menciumi tubuhnya.


"I love you," bisik Edrick di telinga Amber yang membuat Amber membalikkan tubuhnya menghadap pada Edrick.


"A.. Apa maksudmu, Ed?" tanya Amber. Edrick kemudian membelai wajah Amber dengan perlahan. "Aku mencintaimu, Amber. Aku mencintaimu," ujar Edrick sambil menatap Amber dengan tatapan yang begitu dalam.


Amber pun hanya mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Edrick sambil menahan perasaannya yang terasa begitu berkecamuk. 'Apa sebenarnya maksud satu perkataan Edrick? Apakah dia benar mencintaiku?' gumam Amber.


"Ed," ucap Amber lirih.


"Jadi kau tidak percaya dengan perkataanku?" tanya Edrick. Amber pun hanya diam terpaku, sambil menatap Edrick yang saat ini terlihat menatapnya dengan tatapan yang semakin dalam, seolah meyakinkan Amber jika saat ini dia sedang tidak berbohong.


"Amber, percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu, Amber. Aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu, saat ini hanya ada kau yang ada di dalam hatiku. Aku sangat mencintaimu, tolong percayalah padaku."


"Ja-jadi kau melakukan semua ini?"


Edrick pun menganggukkan kepalanya. "Jadi kau pikir aku melakukan semua ini hanya karena nafsuku semata Amber?"


"Maaf," Jawab Amber lirih.


"Amber dengarkan aku. Aku melakukan semua ini karena aku benar-benar jatuh cinta padamu, bukan hanya karena nafsuku semata. Apa kau masih belum juga percaya padaku? Lalu apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku?"


"Cukup, Ed. Tidak ada yang perlu kau lakukan, aku percaya padamu, laki-laki sepertimu tidak mungkin berbohong padaku. Aku percaya padamu."


"Terima kasih, Amber. Terima kasih."


Amber pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau mau melakukannya denganku?"


Mendengar pertanyaan Edrick, Amber pun tersipu malu. "Kau kenapa, Amber? Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apakah itu artinya jika kau juga mencintaiku?"


Amber pun kembali tersenyum, meskipun dengan sedikit keraguan, Amber akhirnya menganggukkan kepalanya.


Melihat Amber yang saat ini sedang mengangguk dengan sedikit canggung, Edrick pun tersenyum. Dia kemudian mendekatkan tubuhnya kembali pada Amber lalu memeluknya dengan begitu erat.


"Amber, jika pada saat menikah janji yang kita ucapkan hanya sekedar di bibir saja, mulai saat ini berjanjilah juga di dalam hati kita masing-masing untuk tetap bersama dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan. Kau mau kan mendampingi hidupku selamanya? Sampai akhir hayat?"


"Ya," jawab Amber lirih.


"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Ed. Tolong jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah tinggalkan aku."

__ADS_1


"Tentu, Amber. Tentu, aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu, Amber."


Amber pun menganggukkan kepalanya lalu mengecup bibir Edrick kemudian memeluknya kembali.


'Terima kasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan tanpa menyakiti hati wanita lain. Akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan tanpa merebut seorang laki-laki yang sudah menjadi milik laki-laki lain. Akhirnya aku bisa mendapatkan cinta yang tulus dari seorang laki-laki yang hatinya benar-benar menjadi milikku. Dan yang paling penting, aku tidak pernah dibayang-bayangi oleh sebuah dosa. Tapi lalu bagaimana dengan Caitlyn? Haruskah aku meminta maaf padanya?' gumam Amber.


'Ahhh biarkan saja, aku masih sangat membenci Caitlyn, bukankah dia memang layak dibenci?' gumam Amber kembali.


Tiba-tiba kecupan bibir berujung lummatan hangat yang begitu bergairah pun mendarat begitu saja di bibir Amber. Mereka akhirnya hanyut kembali dalam permainan yang begitu panas, permainan panas di tengah lebatnya hujan salju di bulan Desember.


Setelah berapa kali permainan panas yang mereka lakukan, akhirnya Amber dan Edrick pun terlelap sambil mendekap erat tubuh hangat mereka masing-masing.


Entah berapa lama mereka terlelap, saat Amber membuka matanya, di luar jendela tampak langit sudah gelap. Dia kemudian bangkit lalu duduk di atas ranjang.


Saat tengah duduk, tiba-tiba kepala Amber terasa begitu berat. "Ah kenapa tiba-tiba kepalaku pusing sekali? Apa aku kelelahan setelah melakukannya beberapa kali dengan Edrick? Ah, mungkin saja."


Namun, baru saja menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Amber merasakan sesuatu yang menetes dari hidungnya. Dia kemudian meraba hidungnya.


"Astaga, aku mimisan lagi? Sudah beberapa bulan ini aku selalu mengalami mimisan disertai sakit kepala dan nyeri di sekujur tubuhku. Dan, dua bulan terakhir adalah yang paling sering. Sebenarnya aku juga tidak pernah memeriksakan kandunganku ke dokter kandungan karena aku takut sesuatu terjadi padaku, tapi untungnya Edrick tak curiga jika aku berbohong padanya tentang kondisi kehamilanku. Ah, sebaiknya aku bersihkan dulu hidungku sebelum Edrick tahu jika aku mimisan. Dia pasti curiga dan menyuruhku ke dokter jika tahu aku seperti ini," ujar Amber sambil bangkit dari tempat tidurnya.


Dia kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Namun, saat baru saja masuk ke dalam kamar mandi, kepalanya tiba-tiba terasa begitu berat. Tubuh Amber yang tak mampu lagi menahan sakit di kepalanya akhirnya pun ambruk.


Tak berapa lama, Edrick yang baru saja bangun dari tidurnya dan tidak melihat keberadaan Amber lalu bangkit dan mencari Amber, setelah sebelumnya mengenakan pakaiannya.


"Amber!" panggil Edrick kembali. Tapi tetap tidak ada jawaban.


"Kau kenapa Amber? Kenapa kau diam saja?" tanya Edrick yang kini berjalan ke arah kamar mandi. Dia lalu membuka pintu kamar mandi tersebut dan begitu terkejut melihat Amber yang kini pingsan di dalam kamar mandi.


"Amber!!! Kau kenapa Amber!!!" teriak Edrick dengan begitu panik. Dia lalu membawa tubuh Amber ke atas ranjang. Edrick menangis sambil terus memanggil Amber yang keadaannya kini terlihat begitu memprihatinkan, wajahnya pucat, hidungnya tampak mengeluarkan sedikit darah bahkan terdapat tanda memar di beberapa bagian tubuhnya.


"Astagaaaa... Tidak... Tidak mungkin. Apa sebenarnya yang terjadi padamu, Amber? Bukankah kau selalu mengatakan jika kehamilanmu baik-baik saja!" teriak Edrick sambil mengusap kasar wajahnya.


'Aku harus segera membawanya ke rumah sakit,' batin Edrick. Dia lalu bergegas membopong tubuh Amber ke dalam mobil diiringi air mata yang kini mengalir deras di wajahnya, hujan salju yang begitu deras pun dia abaikan begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Edrick pun sampai di rumah sakit dan langsung membawa Amber ke ruang UGD.


Saat sedang menunggu di depan ruang UGD, Jenny, Edison, dan Caitlyn pun datang mendekat pada Edrick.


"Edrick? Bagaimana keadaan Amber?"


"Dokter masih memeriksa keadaan Amber."


"Edrick, apa sebenarnya apa yang telah terjadi? Bukankah setiap bulan kalian selalu memeriksa kehamilan Amber?"

__ADS_1


"Ya, Amber memang selalu melakukan pemeriksaan kehamilan, tapi dia selalu melakukannya sendiri. Dia selalu menolak jika aku ingin menemaninya. Maafkan aku, Mommy, Daddy. Aku benar-benar ceroboh dan tidak bertanggung jawab. Sekali lagi, tolong maafkan aku yang sudah lalai menjaga Amber."


Saat Edison dan Jenny akan membuka suaranya, tiba-tiba seorang dokter mendekat ke arah mereka.


"Keluarga Nyonya Amber?"


"Iya Dok, saya suaminya. Dan mereka kedua orang tuanya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Amber, Dok?"


"Begini, saya sebenarnya kurang mengerti mengapa kondisi Nyonya Amber dibiarkan seperti itu. Kondisinya sangat berbahaya, Tuan. Apa dia selama ini tidak pernah memeriksakan kandungannya?"


"Se... Sebenarnya apa yang terjadi, Dok? Apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya?"


"Oh begini, saat ini istri anda menderita penyakit kanker darah stadium dua. Dan ini sangat berbahaya bagi kondisi kehamilannya."


"ASTAGA!" teriak mereka semua yang ada di depan Dokter tersebut. Edrick pun terlihat sangat panik dan syok. Begitu pula dengan Jenny dan Edison, serta Caitlyn yang tampak menutup mulutnya.


'Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau kehilangan Amber. Bukankah aku baru saja mengungkapkan cintaku padanya? Lalu aku harus kehilangan darinya? Tidak aku tidak mau! Aku akan melakukan adapun agar Amber sembuh,' batin Edrick.


"Dokter, apapun akan saya lakukan. Apapun akan saya lakukan agar istri saya sembuh. Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok! Lakukan yang terbaik untuk istri saya!"


"Tenangkan diri anda, Tuan. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan bayi anda terlebih dulu. Setelah itu, agar istri anda bisa sembuh, sebaiknya kita mencari donor sumsum tulang belakang untuk istri anda. Kita harus mencari pendonor itu, Tuan."


"Biar saya yang menjadi pendonor untuk Amber, Dok. Dia saudara kembar saya, dan saya akan melakukan apapun agar dia bisa diselamatkan."


Bersambung...


NOTE:


Wajib mampir ke karya Bestie othor, novelnya Kak Chika Ssi, dijamin ceritanya keren abis deh.



Novel ini menceritakan kisah rumahtangga Nana, keponakan dari Liontin (PU Wanita Tenaga Kerja Indehoy).


Menikah muda, memang sudah menjadi pilihan Nana dan Natan. Mereka menjalani kehidupan sederhana selama bertahun-tahun. Namun, hobi baru Natan membuat kesabaran Nana diuji. Suaminya tiba-tiba membeli seekor burung elang langka dan memeliharanya.


"Mas, kita saja untuk tiap hari serba pas-pasan! Tapi apa ini? Mas Natan malah memelihara burung, yang nantinya membuat pengeluaran kita semakin membengkak!" seru Nana kesal.


"Suka-suka aku, dong! Uang-uangku sendiri!"


"Aku nggak masalah kalau hidup kita berkecukupan! Kamu saja kasih aku uang belanja pas-pasan, kadang kurang! Lalu gimana ke depannya nanti? Mas Natan juga larang aku buat kerja! Kalau pelihara burung ini, apa Mas Natan masih bisa mencukupi kebutuhan rumahtangga kita?"


Bagaimana kisah Nana Selanjutnya? Apakah dia tetap bertahan dalam kehidupan rumahtangganya? Atau memilih berpisah dan memulai hidup baru?

__ADS_1


__ADS_2