
"Apa benar yang kau katakan Jeff? Caitlyn mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukku?"
"Jadi kau belum tahu siapa yang mendonorkan sumsum tulang belakangmu itu?"
Amber kemudian menggelengkan kepalanya sambil menahan perasaan yang begitu bergejolak.
"Kenapa? Kenapa tidak ada yang pernah menceritakan semua ini padaku? Kenapa Mommy dan Edrick juga tidak pernah mengatakan semua ini padaku?"
"Itu karena Caitlyn yang memintanya. Dia meminta pada kedua orang tuamu untuk tidak menceritakan semua ini padamu. Dia takut jika kau tahu dia yang memberikan sumsum tulang belakangnya padamu, kau akan menolak pemberiannya. Dia takut kau akan menolak donor itu, karena yang dia inginkan hanyalah menyelamatkanmu. Dia sangat menyayangimu dengan tulus Amber, tidak sepantasnya kau bersikap seperti itu pada kembaranmu, dia kakakmu. Dia yang menyelamatkan nyawamu."
Amber pun begitu tertegun mendengar perkataan Jeff. Hatinya terasa begitu campur aduk menahan perasaan sedih, haru, tapi juga sedikit masih menyimpan rasa benci pada Caitlyn.
"Ja.. jadi selama ini Caitlyn saat ini tidak pernah menjengukku karena dia..."
"Dia koma," potong Jeff.
"Koma?" tanya Amber sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, dia saat ini sedang koma. Setelah operasi transplantasi sum sum tulang belakang dia mengalami koma karena Caitlyn tidak mengatakan jika dia alergi pada obat-obatan tertentu. Dia melakukan semua itu untuk menyelamatkan nyawamu, karena bagi Caitlyn kau lebih berhak untuk hidup dibandingkan dengan dirinya!"
Cairan bening pun mulai menetes dari sudut mata Amber.
"Kenapa kau menangis Amber? Bukankah selama ini kau menyebut Caitlyn sebagai serigala berbulu domba? Kenapa kau harus menangisi wanita yang kau sebut sebagai serigala berbulu domba? Atau kau mulai menyadari siapa yang serigala berbulu domba sebenarnya?"
__ADS_1
"Cukup Jeff!"
"Kenapa? Memang bukankah itu yang sebenarnya? Kau memang serigala berbulu domba! Dan sayangnya juga aku terlambat menyadari itu! Kau selalu bersikap seolah-olah tidak berdaya agar aku luluh padamu, tapi sayangnya hati tidak bisa dibohongi, Amber. Perasaanku memang awalnya tulus padamu tapi entah mengapa hatiku selalu menolakmu, meskipun berulang kali aku mengucapkan kata cinta padamu. Semua itu hanya sebuah ucapan di bibir saja.
"Aku tahu, Jeff! Aku tahu kau tidak pernah mencintaiku, karena itulah aku berusaha melakukan apapun agar kau jatuh cinta padaku! Karena saat bersamaku, hanya nama Caitlyn yang selalu kau sebut!"
"Perasaan memang tidak bisa dibohongi, dan cinta tidak bisa dipaksakan, Amber. Sebenarnya awalnya aku sangat menyesal telah mempermainkan perasaanmu tapi setelah aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya, aku merasa sangat bersyukur karena aku tidak jatuh pada perangkapmu dan mempertanggung jawabkan atas hal yang tidak pernah kulakukan. Meskipun itu artinya aku juga harus melepaskan Caitlyn."
"Aku ingin bertemu dengan Caitlyn," ucap Amber lirih.
"Aku akan mengantarmu bertemu dengan Caitlyn jika kau sudah menghapus semua rasa benci di dalam hatimu. Aku hanya ingin kau menyayangi Caitlyn, seperti dia menyayangimu."
Amber pun menganggukan kepalanya. "Ya, iya Jeff. Aku akan menghilangkan rasa benciku pada Caitlyn. Aku akan mencoba memperbaiki semua sikapku."
Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu mendorong kursi roda Amber ke ruang perawatan Caitlyn yang sudah dipindahkan dari ruang ICU.
"Awalnya Caitlyn ada di ruang ICU, tapi beberapa hari ini kondisinya membaik, jantung dan paru-parunya yang awlanya sudah berfungsi dengan normal kembali. Jadi, dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan," terang Jeff.
"Syukurlah," jawab Amber singkat.
Mereka kemudian sampai di ruang perawatan Caitlyn. Jeff pun membuka pintu perawatan itu.
CEKLEK
__ADS_1
Perlahan pintu itu pun terbuka. Jeff mendorong kursi roda Amber ke dalam ruangan tersebut.
Hati Amber kini terasa begitu sesak melihat seorang wanita yang kini terbaring tidak berdaya di atas brankar.
"Cat," panggil Amber lirih. Air matanya pun kembali menetes saat sudah berada di samping Caitlyn. Amber lalu menatap tubuh Caitlyn yang terlihat begitu rapuh.
Wajah cantiknya terlihat begitu pucat, tubuhnya kurus, dan rambut indahnya kini terlihat kusut dan kering.
"Cat," panggil Amber kembali sambil terisak.
"Maafkan aku Caitlyn, maafkan aku Cat!" ucap Amber.
Amber pun tak kuasa menahan perasaan sakit di dalam hatinya. Sakit karena merasa bersalah pada sosok lemah yang ada di hadapannya kini. Sebuah rasa bersalah akan dosa yang telah dia lakukan pada Caitlyn, wanita yang terjadi kakak kandungnya sekaligus yang menyelamatkan hidupnya.
'Cat, maafkan aku Cat. Maafkan aku jika selama ini aku telah menyakitimu. Maaf jika sejak pertemuan pertama kami aku memang berniat untuk merebut Jeff darimu. Aku tahu, kemungkinanku untuk hamil saat kami pertama melakukan hubungan itu sangat kecil karena saat itu bukan memasuki masa suburku. Maka, saat Anthony meminta kembali padaku, aku sengaja sedikit merayunya dan kami melakukan hubungan terlarang itu. Maafakan aku, Cat. Maafkan aku yang sudah dengan sengaja merusak rumah tanggamu, bahkan aku juga sudah dengan sengaja memberikan obat perangsang saat Jeff ke apartemenku, sama seperti yang dilakukan oleh Aunty Diane. Caitlyn, maafkan aku. Aku benar-benar menyesali semua yang telah kulakukan pada kalian, maaf jika aku sudah merusak rumah tangga kalian. Caitlyn, jika aku bisa menukar nyawaku, lebih baik aku yang ada di sini, aku lebih pantas mendapatkan semua ini. Tuhan, tolong beri aku kesempatan untuk meminta maaf pada Caitlyn, tolong beri Caitlyn kesempatan untuk hidup bahagia bersama dengan Jeff,' gumam Amber.
Amber kemudian menggengam tangan Caitlyn. "Cat, bangun Cat! Bangun Cat, maafkan aku. Tuhan, beri aku kesempatan untuk meminta maaf pada saudariku, ijinkan aku untuk memiliki kesempatan agar bisa tertawa, bersanda gurau, dan saling berbagi cerita dengan Caitlyn. Cat, ayo bangun Cat!"
Air mata Amber pun kini mulai menetes membasahi tangan Caitlyn. Tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras dari alat elektrokardiograf yang ada di samping Caitlyn.
TTTUUUUUUUUUUUUUUUTTTTTTTTTT
"CAITLYN!!" teriak Jeff.
__ADS_1