Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)

Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)
Sebuah Luka


__ADS_3

Amber lalu mengerutkan keningnya. "Jangan becanda Edrick!" protes Amber.


"Aku tidak becanda, Amber. Aku benar-benar ingin menikahimu. Apa kau mau menikah denganku?"


"Menikah bukanlah sebuah permainan. Pernikahan adalah ikatan yang suci antara dua hati yang saling mencintai. Kau tidak boleh mempermainkan pernikahan, Ed."


"Aku tahu itu. Aku hanya ingin menolongmu, Amber. Aku hanya ingin kau tidak mendapat cap buruk dari masyarakat. Aku hanya ingin bisa menjadi ayah atas bayi yang ada di dalam kandunganmu. Aku hanya ingin melindungi kalian berdua, tidak lebih."


"Tapi kau tidak perlu melakukan semua itu, Ed. Kau tidak perlu mengorbankan masa depanmu hanya untuk membantuku. Pernikahan itu butuh cinta, bukankah kau juga tidak mencintaikuku? Kita juga tidak saling mencintai. Lalu bagaimana kita akan menjalani pernikahan ini?"


"Amber, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Pernikahan yang kita jalani, bukanlah pernikahan pada umumnya. Kita tidak perlu menjalani kontak fisik dan aku tidak akan memintamu untuk bersikap layaknya istri pada umumnya. Sungguh, aku hanya ingin melindungimu, melindungi kalian berdua. Tidak lebih."


"Tapi kau tidak perlu berkorban sebesar itu padaku, Edrick. Aku tidak mau menyusahkanmu dan merepotkanmu. Kehadiranku dan anak yang ada di dalam kandunganku pasti akan menjadi beban bagimu."


"Tidak Amber, kalian tidak menyusahkanku, merepotkanku, ataupun menjadi beban bagiku. Sebaliknya, aku justru bahagia jika ada kalian di hidupku. Setidaknya aku tidak akan kesepian, maskipun aku tidak memintamu memenuhi kewajibanmu padaku, tapi kehadiran kalian berdua tentu memiliki arti tersendiri bagiku. Amber, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin menikahimu, maukah kau menikah denganku? Ijinkan aku untuk menjadi ayah dari anak yang ada di dalam kandunganmu."


"Tapi Edrick, aku sudah berjanji akan memberikan anak ini pada suami istri itu, pada ayah kandungnya. Aku sudah berjanji setelah anak ini lahir, aku akan memberikan anak ini pada mereka berdua, aku tidak mungkin mengingkari janjiku sendiri, Edrick.


"Sekarang, aku tanya padamu. Apakah suami istri itu mau menerima anak ini? Ya, mungkin sang suami mau menerima anak ini. Tapi bagaimana dengan istrinya? Apa kau pikir menerima kehadiran anak hasil perselingkuhan suaminya itu hal yang mudah? Tidak Amber, itu hal yang sangat sulit. Sekarang aku tanyakan padamu, saat kau mengatakan akan memberikan anak ini pada mereka berdua, apakah sang istri sudah memberikan jawaban akan menerima kehadiran anak ini? Coba kau ingat kembali, Amber. Apa dia mengatakan akan menerima kehadiran anak ini? Jika saja wanita itu mau menerima kehadiran anak ini, apa kau pikir dia bisa menyayangi anakmu dengan sepenuh hati? Tidak Amber, kita juga tidak memiliki jaminan anakmu bisa hidup bahagia jika bersama dengan mereka. Apa kau ikhlas? Lalu apa yang kau dapat? Kau menderita karena kehilangan anakmu, dan anakmu juga tidak mendapatkan kasih sayang darimu. Kasih sayang sebagai seorang ibu pada anaknya. Apa kau mengerti, Amber?"


Amber pun terdiam, tampak berfikir sejenak. Lalu lamunannya tertuju pada kejadian tadi malam yang baru saja dia lewati. Tentang kemarahan Caitlyn, tentang rasa cinta Jeff yang begitu besar pada Caitlyn, dan kebohongan Jeff akan cinta palsunya. Amber lalu menghembuskan nafas panjangnya.


'Ya, memang tadi malam Caitlyn tidak memberikan jawaban apapun, entah karena dia masih marah padaku atau memang benar seperti yang dikatakan oleh Edrick. Menerima anak hasil dari hubungan gelap suaminya dengan wanita lain itu memanglah tidak mudah. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini sebelum mengambil keputusan? Oh aku memang benar-benar ceroboh. Lalu bagaimana jika aku memberikan anak ini dan dia tidak bahagia hidup dengan mereka berdua? Oh tidak, mungkin ini adalah jalan agar aku bisa bebas dari mereka berdua, mungkin ini juga adalah jalan agar aku tetap bisa membesarkan anakku dengan tanganku sendiri. Ed sudah begitu baik padaku, sebenarnya aku tidak pantas menolak kebaikannya,' gumam Amber sambil mengigit bibir bawahnya.


"Bagaimana apa kau sudah mengingat jawaban mereka? Tolong pikirkan semua ini baik-baik."


"Aku tidak mau merepotkanmu, Ed," ucap Amber lirih. Edrick pun tersenyum kecut.


"Berapa kali kukatakan padamu jika kau tidak pernah merepotkan aku, kehadiran kalian berdua justru akan mempermudah hidupku. Apa kau tidak mau menolongku, Amber?"

__ADS_1


"Menolongmu? Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?"


"Hahahaha, maaf jika ini terdengar seperti memperalat kalian. Setidaknya aku tidak akan merasa kesepian, aku sudah tidak memiliki orang tua lagi, Amber. Setiap hari aku menjalani kehidupan ini sendiri, terkadang aku tidak pernah pulang ke rumah jika aku belum benar-benar merasa lelah. Aku begitu kesepian, Amber. Jadi maukah kau menjadi temanku? Teman yang menemani di hari-hari sepiku ini?"


Amber pun tersenyum kecut, ingin rasanya dia mengiyakan permintaan Edrick. Tapi rasa sungkan, masih begitu menyelimuti hatinya.


"Baik, aku tidak akan memaksamu. Pikirkan semua ini dengan baik, Amber. Sekarang, aku pulang dulu. Aku tidak mau mengganggu waktumu, selamat beristirahat," ucap Edrick. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya.


Di saat Edrick akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Amber mencekal tangannya. "Tunggu dulu, Ed. Tunggu dulu!" pinta Amber.


Edrick lalu duduk kembali di samping Amber. "Apa kau sudah mengambil keputusan?"


Amber lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sudah bisa mengambil keputusan, Ed. Aku sudah memikirkan semua ini."


"Lalu bagaimana? Apa keputusanmu Amber? Aku harap keputusanmu tidak mengecewakan aku."


Amber lalu tersenyum tipis. "Ya," jawabnya lirih.


"Ya, aku mau menikah denganmu," jawab Amber sambil tersipu malu.


"Benarkah? Kau mau menikah denganku?" tanya Edrick disertai raut wajah yang begitu bahagia.


Amber kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat anggukan kepala di wajah Amber, spontan Edrick langsung memeluk Amber.


"Terima kasih, Amber. Terima kasih mau menerimaku!" ucap Edrick dengan begitu antusias.


Amber yang masih terkejut karena pelukan Edrick yang begitu tiba-tiba, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia hanya bisa menatap punggung dan tengkuk Edrick yang kini ada di depan wajahnya, hangat itu yang dia rasakan. Sehangat sebuah rasa yang kini juga menyelimuti hatinya.


"Ya, sama-sama. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Edrick. Kau sudah begitu baik padaku."

__ADS_1


"Bisa hidup dengan kalian adalah suatu kebahagiaan bagiku, Amber. Sekali lagi, terima kasih."


Amber pun menganggukkan kepalanya kembali. Fi saat itulah Edrick akhirnya tersadar, dia kemudian melepaskan pelukannya pada Amber.


"Maafkan aku, Amber. Maafkan aku, aku terlalu bahagia sampai melampaui batasanku," ucap Edrick dengan begitu salah tingkah.


"Tidak apa-apa, Ed. Lalu kapan kita akan menikah?"


"Besok, besok kita akan menikah. Sekarang bagaimana jika kita menjemput ibumu yang ada di Brooklyn untuk menghadiri pernikahan kita? Apa kau mau?"


Amber lalu menganggukkan kepalanya. 'Menjemput Mommy untuk ke Manhattan? Apakah Mommy mau datang ke kota ini lagi? Karena bagi Mommy, Manhattan adalah sebuah luka. Luka yang sampai saat ini belum aku tahu jawabannya,' gumam Amber.


Bersambung...


...***...


NOTE:


Mampir juga ya ke karya bestie othor, punya Kak Anisyah. Dijamin ceritanya keren abis, bikin baper, pokoknya ga nyesel deh.



Blurb:


DOKTER MISTERIUS VS MAFIA KEJAM


(Anisyah S)


Kecelakaan pesawat membuat Vitalia mengalami hilang ingatan (amnesia), yang pada akhirnya Ia bertemu dengan keluarga barunya, mereka mengira bahwa Vitalia adalah Putrinya yang telah lama menghilang, karena wajahnya yang mirip dengan Putrinya.

__ADS_1


Bagaimanakah Vitalia akan menjalani hidup bersama keluarga barunya??, lalu apakah Vitalia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan bertemu dengan musuhnya semasa kuliah di Oxford University untuk membalaskan dendamnya yang tak berujung??


__ADS_2