Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)

Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)
Foto Pernikahan


__ADS_3

Melihat Amber yang hanya terdiam, Edrick pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Amber dan menyentuh wajahnya. Mendapat sentuhan dari Edrick, Amber pun terdiam dan tampak memejamkan matanya.


"Ed," desah Amber lirih.


Melihat Amber yang tampak menginginkan dirinya, Edrick pun semakin tak ragu untuk mendekatkan wajahnya pada Amber lalu mengecup bibir tipis itu. Mendapat kecupan hangat dari Edrick, Amber pun membuka matanya.


Saat melihat Amber tampak terkejut mendapat kecupan darinya, Edrick pun terlihat salah tingkah. Namun saat senyuman disertai keharuan menghiasi wajah Amber, Edrick pun ikut tersenyum. Apalagi saat ini Amber tampak menganggukkan kepalanya seolah mengijinkan Edrick untuk menyentuhnya. Edrick pun mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya di bibir Amber yang langsung dibalas oleh paguttan ringan oleh Amber.


Keduanya kini pun saling memaggut, ciuman ringan itu kini berubah menjadi ciuman yang semakin menuntut. Edrick pun menekan tengkuk Amber hingga ciuman keduanya semakin dalam.


Tanpa basa-basi, Edrick pun mulai mencium tengkuk dan leher Amber. "Oughhhh Ed," lenguhhan Amber pun lolos begitu saja.


"Amber," desah Edrick di telinga Amber. Amber pun menganggukkan kepalanya.


"Di ranjang?" tanya Edrick.


"Ya," jawab Amber.


"Kau tidak keberatan!"


"Aku istrimu, lakukan yang kau mau!"


"Benarkah?"


"Sure, tapi perutku sudah besar Ed," jawab Amber lirih.


"Tidak masalah, kita akan melakukannya dengan hati-hati. Boleh kan?" Amber pun menganggukkan kepalanya.


Melihat anggukan kepala Amber, Edrick kemudian membopong tubuh Amber ke atas ranjang tanpa melepaskan paguttan bibirnya dari Amber.

__ADS_1


Setelah mereka di atas ranjang, Edrick kemudian melummat kembali bibir ranum milik Amber sambil menyelipkan tangannya ke dalam pakaian Amber kemudian merremas buah dada Ambar yang membuat Amber kembali mengeluarkan *******.


"Oughhhh, oughhhh, Edrick! Please!"


Edrick pun menganggukkan kepalanya lalu mulai melucuti pakaian milik Amber hingga menyisakan bra dan dalaman segitiga berwarna hitam. Dia lalu membuka kait bra warna hitam tersebut lalu melemparkannya begitu saja dan mulai melummat dan mengissap buah dada milik Amber.


"Edrick, damn!"


"Do you like it?"


"Yeah!"


Edrick kemudian mulai menciumi kembali tubuh polos istrinya mulai dari leher, buah dada, perut, sambil melepas cellana dalam milik Amber hingga tubuh itu benar-benar telanjang. Sementara handuk yang dikenakan oleh Edrick pun sudah terlepas dari tubuhnya.


"Edrick.., i want more!" pinta Amber.


Edrick pun tersenyum, dia kemudian memasukkan juniornya ke dalam liang hangat milik Amber lalu mulai memainkan pingguulnya dan menghentakkan kakinya secara perlahan karena perut Amber yang sudah semakin membesar.


"Oughhhh, ouhghhh Amber! Ah!" teriak Edrick hingga sebuah lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya.


Edrick kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Amber. "I love you," bisik Edrick di telinga Amber.


'Love?' gumam Amber.


'Benarkah Edrick mencintaiku? Benarkah yang dia lakukan padaku karena dia mencintaiku bukan karena sudah tak sanggup menahan nafsunya sebagai seorang laki-laki?' gumam Amber.


'Ah mungkin dia hanya salah bicara,' gumam Amber kembali. Perlahan, dia pun mulai memberanikan diri untuk membuka suaranya.


"Ed!"

__ADS_1


"Ada apa?"


"Ada badai salju, sebaiknya kau tidak usah berangkat ke kantor."


Edrick pun menganggukkan kepalanya. "Sepertinya hari ini aku juga sedang tidak ingin berangkat ke kantor, Amber. Lagipula sudah lama aku tidak mengambil cuti," jawab Edrick.


"Boleh kan aku menghabiskan waktu seharian bersamamu di sini?" sambung Edrick kembali.


Amber pun tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Edrick pun ikut tersenyum lalu menciumi tengkuk Amber kembali yang membuat Amber kembali mengeluarkan dessahan.


***


Di tengah lebatnya salju yang turun, Jeff tampak menatap ke arah balkon kamar yang ada di lantai dua rumah tersebut.


Senyum pun mulai tersungging di bibirnya saat melihat sosok seorang wanita yang terlihat sedang mondar-mandir di dalam kamar tersebut.


"Sudah tujuh bulan lamanya, Cat. Tahukah kau jika aku begitu merindukanmu? Rasa rindu ini sudah sangat menyesakkan dadaku hingga rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan pada seisi dunia jika aku sangat merindukanmu. Tahukah kau, tujuh bulan lamanya aku selalu ada di sini, hanya untuk sekedar mengamatimu, dan menikmati indahmu dalam diamku. Kau terlalu Indah bagiku, Cat."


Jeff kemudian menghembuskan nafasnya lalu menghapus air mata yang perlahan mulai keluar dari sudut matanya.


"Caitlyn, sebenarnya aku sudah sangat tersiksa dengan semua ini, tapi aku tahu, aku cukup tahu diri jika kau hanyalah bagian dari masa lalu. Dan aku cukup tahu diri untuk tidak berharap apapun kembali padamu. Kau sudah memilih, dan berpisah dariku adalah pilihan yang kau pilih, tapi entah mengapa cintaku ini tidak pernah pudar ataupun berkurang sedikitpun padamu. Mungkin aku bodoh, tapi lebih baik aku merasakan bersahabat dengan luka daripada melupakanmu. Caitlyn, besok aku akan pergi, aku akan pergi sejauh mungkin agar tidak semakin merasa tersiksa akan rindu ini. Karena rindu ini adalah rindu yang takkan pernah berlabuh. Caitlyn, meskipun cinta ini terasa begitu melelahkan, tapi selamanya aku akan tetap mencintaimu, kau akan selalu menjadi bagian terindah dalam hidupku," ucap Jeff sambil menyeka air matanya.


Dia kemudian mengendarai mobilnya menjauhi rumah Caitlyn. "Selamat tinggal, Cat. Semoga kau selalu bahagia," ucap Jeff sambil menatap foto pernikahan mereka yang ada di dalam mobilnya.


***


Sementara Caitlyn tampak memegang sebuah foto sepasang pengantin yang terlihat begitu bahagia. Senyum lebar disertai raut wajah yang begitu bahagia tampak menghiasi wajah sepasang pengantin yang ada di dalam foto tersebut.


"Lima tahun yang lalu, adalah awal bagiku merasakan hidup yang begitu indah. Menikah denganmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Lima tahun hidup berumah tangga denganmu, aku selalu mendapatkan kasih sayang dan cinta yang begitu besar darimu, bahkan aku tidak pernah menyangka jika kau bisa berkhianat di belakangku. Saat itu, aku sangat terluka, dan memilih untuk berpisah darimu. Kupikir itu adalah keputusan yang tepat, tapi ternyata aku salah. Jeff, kau ada dimana? Sudah tujuh bulan lamanya kau menghilang begitu saja dariku. Maafkan aku, maaf jika saat itu aku sudah memaksakan kehendakku dan membuatmu tertekan. Saat itu, yang kupikirkan hanyalah kebahagiaan untuk saudariku, Amber. Aku sangat menyayangi Amber hingga mengabaikan perasaanmu. Aku mengabaikan perasaanmu sebagai manusia biasa yang berhak menentukan hatinya pada siapa dia akan berlabuh."

__ADS_1


Caitlyn lalu menghapus perlahan air mata yang membasahi pipi mulusnya sambil mengusap wajah Jeff yang ada di foto pernikahan mereka.


"Maafkan aku dengan segala kekuranganku, Jeff. Aku selalu terbawa emosi dalam mengambil keputusan, aku tidak pernah menyadari jika dalam sebuah hubungan rumah tangga, pasti akan selalu ada cobaan yang datang. Aku terlalu mementingkan egoku, dan tidak pernah menyadari jika semua yang menimpa rumah tangga kita adalah sebuah cobaan. Seharusnya aku belajar untuk memahami bukan meninggalkan. Jeff, jika masih diberi kesempatan, aku ingin bertemu denganmu kembali dan mengatakan jika aku masih sangat mencintaimu."


__ADS_2