
Cukup lama, Amber hanyut dalam tangisannya di pelukan Edrick. Hingga beberapa saat kemudian, saat dia terlihat mulai tenang, Edrick pun memberanikan diri mengangkat wajah Amber lalu menghapus air matanya.
"Jangan menangis, jangan menangis Amber. Ingat ada aku, aku di sini. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Aku akan ada di sampingmu."
"Terima kasih, Ed."
"Amber, bolehkah aku bertanya padamu?"
Amber lalu menghapus air matanya dengan kasar. "Apa yang ingin kau tanyakan, Ed?"
"Amber, apakah laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab? Apa dia tidak mau mengakui darah daging yang saat ini ada di dalam kandunganmu?"
Mendengar pertanyaan Edrick, Amber pun tersenyum kecut. "Bukan, dia tidak seperti itu. Dia laki-laki yang bertanggung jawab, dia bahkan sangat menyayangi anak ini. Tapi..."
"Tapi apa Amber? Kenapa kau tidak menikah saja dengan laki-laki itu? Bukankah dia sangat menyayangi anak ini? Aku yakin kalian pasti bisa hidup bahagia."
Amber lalu menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Ed. Dia sudah menikah dan sangat mencintai istrinya. Aku tidak mau berdiri diantara dua orang yang saling mencintai. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita yang merebut laki-laki lain, dan aku juga tidak ingin anak ini dianggap sebagai anak dari hasil hubungan gelap. Aku tidak mau, Ed."
"Tapi bukankah laki-laki itu juga mencintaimu? Bukankah anak yang kau kandung adalah buah dari hasil cinta kalian berdua?"
"Tidak, anak ini adalah hasil dari hubungan kesalahan satu malam yang telah kami lakukan. Sebut saja, ini adalah hasil dari sebuah ketidaksengajaan. Dia melakukan semua itu karena dalam pengaruh alkohol, dan ketidaksengajaan ini menyeretku ke dalam sebuah hubungan yang rumit karena saat ini rumah tangga mereka juga sedikit berantakan. Ini semua terjadi karenaku, Ed."
"Tidak Amber, hubungan satu malam itu bukan sepenuhnya atas kesalahanmu. Tapi juga laki-laki itu. Dia benar-benar laki-laki yang sangat bodoh!"
"Tapi kesalahan satu malam itu juga bukan sepenuhnya kesalahan dirinya karena aku juga ikut membalas permainannya. Saat itu kami berdua sama-sama dalam pengaruh alkohol."
Edrick pun begitu terkejut mendengar perkataan Amber, dia kemudian mendekat pada Amber lalu menggenggam tangannya saat isakkan Amber kian terdengar kencang. "Amber, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Apa kau sudah membicarakan tentang ini semua dengan mereka berdua? Terutama dengan istri dari laki-laki itu?"
"Aku sudah bicara dengan mereka berdua. Mereka adalah pasangan suami istri yang sudah lama menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan. Dan aku sudah mengambil keputusan untuk memberikan anak ini pada mereka berdua."
__ADS_1
"Amber, pikirkan lagi baik-baik keputusanmu itu!"
"Aku sudah memikirkan semua ini. Aku bahkan sudah memikirkan perkembangan anak ini nantinya kedepan. Aku tidak ingin dia bersamaku, bukan karena aku tidak menyayanginya. Tapi aku tidak ingin ada cap buruk yang melekat pada anakku yang bisa saja mengganggu psikologisnya. Aku ingin anakku tubuh dalam satu keluarga yang utuh, aku tidak ingin anakku mendapat olok-olokan dari lingkungan sekitar kami, Ed. Aku sangat menyayangi anak ini, dan anak ini berhak untuk hidup bahagia."
"Jadi kau ingin anak ini tumbuh dalam sebuah keluarga? Lalu kenapa kau tidak menikah saja dengan laki-laki itu? Bukankah dia juga harus bertanggung jawab atas semua kebodohannya itu Amber? Kau tidak pantas menanggung semua ini sendiri."
"Menikah? Maksudmu menikah dengan laki-laki yang tidak pernah mencintaiku? Laki-laki yang selalu menyebut nama wanita lain saat bersama denganku? Tidak Edrick. Aku tidak mau, ini terlalu menyakitkan bagiku. Cinta yang tidak pernah terbalaskan sangatlah menyakitkan, Ed. Aku tidak mau menjalin hubungan seperti itu, tidak akan pernah ada kebahagiaan yang dirasakan. Sedangkan aku juga berhak bahagia, aku juga berhak bahagia."
"Cinta yang tak terbalas memang sangat menyakitkan, Amber. Sangat menyakitkan, bahkan aku sudah mengalami itu selama bertahun-tahun. Dan bodohnya aku, sampai saat ini aku masih mencintai wanita itu. Aku memang terlalu naif," ucap Edrick.
Amber lalu tersenyum kecut mendengar perkataan Edrick. "Ternyata lelaki tampan dan mapan sepertimu juga bisa mengalami kisah cinta yang rumit? Kupikir semuanya akan begitu mudah bagimu."
"Amber, masalah hati bukanlah perkara yang mudah. Cinta itu indah, tapi juga terkadang rumit karena cinta tidak pernah bisa berlogika."
"Kau benar Ed, cinta adalah masalah hati bukan pikiran. Sedangkan logika hanya ada di dalam pikiran kita bukan ada di dalam hati kita."
"Bukankah tadi sudah kukatakan alasanku padamu? Aku ingin anak ini hidup bahagia, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang utuh, dan tidak mendapatkan cap negatif dari orang lain. Aku hanya ingin anakku bahagia, meskipun aku tahu aku pasti akan sangat menderita."
"Dan aku tidak rela wanita sepertimu hidup menderita, Amber."
Amber lalu mengalihkan pandangannya pada Edrick. "Apa maksudmu, Ed,?"
"Aku juga ingin kau bisa bahagia, aku juga ingin kau bisa merawat putramu tanpa mendapatkan cap negatif dari orang lain karena kau bukan seorang wanita perebut laki-laki lain, Amber."
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Bukankah kau ingin anakmu hidup dalam lingkungan keluarga yang utuh?"
"Ya."
__ADS_1
"Menikahlah Amber."
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu. Sampai kapanpun aku tidak mau menikah dengannya, Ed."
"Bukan dengan laki-laki itu."
"Lalu dengan siapa? Apa kau menyuruhku untuk mencari laki-laki yang mau menikah dengan seorang wanita yang sedang mengandung darah daging dari laki-laki lain. Mana ada Ed, tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan wanita sepertiku."
"Ada Amber, pasti ada yang mau menikah denganmu."
"Kau jangan bercanda, Ed. Itu hal yang sangat mustahil, tidak mungkin ada yang mau menikah denganku."
"Bagaimana jika laki-laki itu adalah aku. Apa kau mau menikah denganku?"
Bersambung...
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor ya, karyanya Kak Julia Fajar, ceritanya dijamin keren abis loh, nyesel kalo ga mampir.
Blurb:
Menikah dini bukanlah kemauan Mutiara, melainkan kesepakatan antar orangtua yang ingin menyatukan persahabatan dan bisnis mereka.
Keegoisan itu telah menempatkan Mutia pada posisi sulit, dia hanya dianggap sebagai istri di atas kertas. Perjuangannya untuk menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga tidak pernah dihargai karena Sultan memiliki wanita lain dan membawanya tinggal di dalam rumah mereka.
Ego dan kesabaran Mutia pun tertantang, dia memutuskan untuk mengelola bisnis keluarga dan bekerjasama dengan pesaing bisnis suaminya yang ternyata lebih bisa menghargainya.
__ADS_1