
Satu bulan kemudian...
Satu buah brankar tampak didorong masuk ke sebuah ruang operasi. Beberapa saat kemudian, satu buah brankar lainnya pun merasuki ruang operasi tersebut.
"Dokter, bolehkah saya melihat saudara saya terlebih dulu?" ucap sebuah suara yang terbaring di brankar paling akhir yang masuk ke dalam ruang operasi tersebut. Dokter tersebut lalu menganggukkan kepalanya.
"Silakan, Nyonya Caitlyn," jawab dokter tersebut.
Seorang suster di samping dokter tersebut lalu menyibakkan tirai yang membatasi kedua brankar yang ada di dalam ruang operasi tersebut.
Saat tirai itu terbuka, tampak sosok wanita cantik dengan mata terpejam tengah terbaring di atas brankar dengan wajah yang tampak pucat.
"Amber," ucap Caitlyn saat melihat Amber. Dia kemudian sedikit menggeser tubuhnya lalu mencoba menggenggam tangan Amber.
"Amber, tahukah kau? Sebenarnya banyak sekali kata yang ingin kuucapkan padamu, tahukah kau sebenarnya aku ingin bisa tertawa di sampingmu. Tahukah kau aku juga ingin menggendong putramu, tapi aku cukup sadar siapa diriku. Kau mungkin selalu merasa kurang nyaman jika aku di sampingmu. Aku menyadari itu, Amber. Sekali lagi aku minta maaf atas sikap mantan suamiku yang telah membuatmu begitu tersakiti, maafkan Jeff, Amber. Aku tahu saat ini kau sudah hidup bahagia dengan Edrick, dan dengan putramu. Karena itulah, kau harus bertahan hidup, kau harus bertahan hidup untuk putramu dan suami, kau harus sembuh Amber, dan aku yakin setelah ini semuanya pasti akan berakhir. Aku yakin, kau pasti sembuh dan bisa hidup bahagia dengan keluarga kecilmu. Amber, berjuanglah agar kau bisa bertahan, banyak yang menantimu Amber. Suamimu dan putramu sangat membutuhkan dirimu, berjuanglah Amber," ucap Caitlyn.
Dia kemudian melepaskan tangannya pada tangan Amber lalu menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya para dokter yang ada di sampingnya.
"Tolong selamatkan saudari saya, Dok!"
"Tentu Nyonya, Caitlyn. Sekarang, apa anda sudah siap?"
"Iya Dok," jawab Caitlyn.
Seorang dokter anestesi kemudian mendekat pada Caitlyn lalu menyuntikkan sebuah cairan berwarna kuning. Perlahan, mata Caitlyn pun mulai terpejam.
'Terima kasih dunia, terima kasih telah memberikan kesempatan bagiku untuk hidup di dunia ini. Terima kasih telah mempertemukanku dengan orang-orang yang sangat menyayangiku. Jika setelah ini aku tidak bisa kembali membuka mataku, aku cuma berharap agar semua orang yang menyayangiku bisa hidup bahagia. Tuhan, tolong berikan kesembuhan untuk Amber, hanya itu pintaku,' batin Caitlyn sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang.
Edrick, Jenny, dan Edison tampak begitu cemas berdiri di depan ruang operasi. Sesekali, Edrick tampak mondar-mandir di depan ruang operasi tersebut sambil berdecak.
"Edrick, tenanglah."
__ADS_1
"Ini sudah hampir empat jam, Mommy. Aku sudah sangat cemas, bagaimana keadaan mereka di dalam?" ujar Edrick.
"Lima jam Edrick, bukankah tadi dokter mengatakan waktu operasi bekisar antara 3 sampai 5 jam," ujar Jenny. Meskipun tak dapat dipungkiri jika Jenny pun tak kalah cemas. Keringat dingin tak henti membasahi tubuhnya, irama detak jantungnya pun berdetak begitu kencang, sedangkan seluruh tubuhnya terasa bergetar sejak memasuki rumah sakit itu.
Namun, Jenny menyembunyikan semua rasa cemas yang ada di dalam hatinya sendiri agar tidak membuat Edison dan Edrick juga merasa semakin cemas, saat ini dia hanya bisa merrremas pakaiannya sambil mencoba menenangkan hatinya.
Edrick pun hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya lalu kembali duduk di samping Edison.
Setengah jam kemudian, tampak pintu operasi pun terbuka. Seorang dokter keluar dari ruang operasi tersebut. Mereka kemudian mendekat pada dokter tersebut yang tampak menyunggingkan sebuah senyuman tapi juga menyiratkan kecemasan.
"Bagaimana Dok?" tanya Edison.
"Operasinya berjalan dengan lancar, setelah operasi ini saya yakin Nyonya Amber bisa sembuh dan hidup normal kembali, karena sel kankenya masih jinak sehingga belum terlalu menyebar. Sumsum tulang belakang hasil transplantasi dari Nyonya Caitlyn pun sepertinya bisa langsung berfungsi dengan baik, saya akan mengontrol produksi dari transplantasi tersebut rutin dalam beberapa hari kedepan."
"Jadi Amber bisa sembuh seperti sedia kala, Dok?"
"Ya."
"Syukurlah," ujar Jenny dan Edison.
"Maaf, untuk saat ini Nyonya Caitlyn masih harus dalam penanganan kami karena dia sebelumnya tidak mengatakan jika dia menderita alergi beberapa jenis obat-obatan tertentu. Alergi obat-obatan tersebut mengakibatkan gangguan kinerja pada jantung dan paru-paru Nyonya Caitlyn sehingga dia perlu penanganan khusus dari kami. Anda tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk Nyonya Amber dan Caitlyn."
"Astaga, aku sudah tahu ini pasti akan terjadi. Entah kenapa saat Caitlyn mengatakan akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang aku sudah merasakan firasat buruk seperti ini."
Jenny kemudian menatap Edison dan Edrick bergantian. "Benar kan apa yang kukatakan? Benar kan jika operasi ini dilakukan itu sama artinya kita mengorbankan Caitlyn. Aku tahu semua ini pasti akan terjadi, aku tahu semua ini pasti akan terjadi karena firasat seorang ibu tidak pernah salah. Aku tahu Caitlyn pasti menyembunyikan alergi obat-obatan yang dideritanya, aku tahu dia merahasiakan semua ini agar bisa menyelamatkan Amber. Karena aku tahu yang ada di dalam pikiran Caitlyn adalah Amber lebih pantas untuk hidup dibandingkan dengan dirinya. Saat ini Amber bisa sembuh, tapi apakah aku juga harus ikhlas menukar nyawa putriku untuk keselamatan putriku yang lain?" ucap Jenny dengan begitu terisak sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai.
***
Ottawa..
11.00 am
__ADS_1
Sebuah pintu kantor ruangan kantor pun terbuka. Seorang laki-laki berjalan memasuki ruangan itu sambil tersenyum pada seorang laki-laki yang duduk sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Anda memanggil saya Tuan Ansel?"
"Ya, silahkan duduk dulu, Jeff!"
"Baik Tuan."
"Jeff, kau tau proyek terbaru kita?"
"Yang ada di Washington?"
"No Jeff, klien kita memindahkan proyek baru itu ke Manhattan. Dan aku tahu kau berasal dati Manhattan, karena itulah aku ingin kau yang menangani proyek ini. Aku tahu kau pasti bisa bekerja dengan baik di kota asalmu, Jeff."
DEGGG
'Oh tidak, Manhattan?'
"Jeff, kenapa kau diam? Kau mau kan menangani proyek ini?"
"Oh, emhh begini Tuan Ansel. Bisakah anda memberi waktu saya untuk berfikir?"
"Waktu untuk berfikir? Oh baiklah jika itu maumu, Jeff. Aku akan memberimu waktu 24 jam untuk berfikir karena kita sudah tidak bisa membuang-buang waktu untuk menangani proyek tersebut."
"Baik Tuan Ansel, saya permisi dulu."
Ansel lalu tersenyum. Sedangkan Jeff keluar dari ruangan tersebut sambil menahan perasaan yang begitu campur aduk.
"Sekuat tenaga aku berusaha menjauh darimu, pergi sejauh mungkin dari Manhattan, agar bisa melupakan kenanganku bersamamu, tapi haruskah aku kembali lagi dan membuka kembali luka itu? Caitlyn, Caitlyn Wicliff jawab aku," ujar Jeff sambil menyeka air matanya.
"Caitlyn Wicliff."
__ADS_1
***
"Edison, apa Caitlyn bisa membuka matanya kembali? Dia bahkan sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup. Apakah hidup ini adil baginya Edison? Dia merelakan cintanya pergi agar tidak menyakiti, lalu haruskah dia juga harus merelakan nyawanya? Kenapa dia harus berkorban seperti itu Edison?"