
Mendengar perkataan dokter tersebut, Jenny pun hanya terdiam. Saat Diane akan membalikkan tubuhnya tiba-tiba Caitlyn mencekal lengannya.
"Stop! Untuk saat ini dan selamanya, jangan pernah berharap jika kau adalah istri dari Daddy, karena bagi kami istri dari Daddy adalah Mommy Jenny. Kuharap kau cukup tahu diri setelah semua perbuatan jahatmu itu, Mommy!" bentak Caitlyn. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Jenny.
Diane pun hanya terdiam dan hanya bisa menundukkan kepalanya. "Maaf," jawabnya lirih.
"Mommy, masuklah!" pinta Caitlyn. Amber kemudian memandang wajah Jenny yang saat ini juga dipenuhi dengan air mata.
"Come on, Mommy!" perintah Amber.
"Siapa istri dari Tuan Edison?" tanya dokter itu kembali.
"Saya istrinya," jawab Jenny akhirnya berani membuka suaranya. Dia pun kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Jenny.
"Tuan Edison saat ini sudah sadarkan diri, tapi kondisinya masih sangat lemah. Silahkan anda boleh menemuinya sekarang."
"Apakah aku boleh menemuinya dengan kedua putriku?"
"Tentu saja, tapi tolong jangan berbicara mengenai hal yang berat dengannya karena kondisinya masih sangat lemah. Jika ada sesuatu yang menggangu pikirannya lagi, dia bisa mengalami serangan jantung yang lebih serius yang bisa membahayakan nyawanya."
"Baik, Dok."
"Saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dokter."
__ADS_1
Dokter tersebut lalu meninggalkan mereka, berjalan menuju ke ruangannya. Sementara itu Jenny kini tampak menarik tangan Amber dan Caitlyn.
"Ayo kita masuk, dan temui Daddy kalian," ucap Jenny.
"No, Mommy. Kami nanti saja, Mommy masuklah dan temui Daddy terlebih dulu," jawab Caitlyn.
"Ya, sebaiknya Mommy temui Daddy terlebih dulu," sambung Amber. Jenny kemudian melihat wajah kedua putrinya yang kini terlihat menganggukkan kepalanya.
Perlahan, Jenny pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang tempat Edison dirawat. Langkah demi langkah yang dia lalui terasa begitu berat, bukan karena dia tidak merindukan Edison tapi karena menahan perasaan yang begitu tak menentu. Hatinya terasa begitu kacau dan gugup karena selama dua puluh lima tahun tidak bertemu dengan Edison.
Jenny pun tak sanggup membendung air matanya saat dia sudah sampai di tepi ranjang Edison yang saat ini tampak begitu tak berdaya. Wajah tampannya tidak berubah meskipun kini telah berkeriput. Rambut cokelatnya juga telah memutih yang memenuhi sebagian kepalanya, serta tubuh kekarnya kini juga tampak sudah terlihat rapuh.
'Dua puluh lima tahun, Edison. Dua puluh lima tahun. Semua telah berubah, semua yang ada di dalam diri kita memang telah berubah, Edison. Termasuk anak-anak kita yang sudah beranjak dewasa, tapi tidak dengan cintaku padamu. Cintaku padamu tetap sama, masih sama seperti dulu saat aku baru pertama kali bertemu denganmu, sama seperti saat aku menjalin hubungan denganmu, dan sama saat seperti kita menikah, Edison. Sama seperti saat kita menikah,' gumam Jenny sambil terisak.
Tanpa Jenny sadari, air mata yang membasahi wajah Jenny pun perlahan turun dan membasahi tangan Edison.
Edison yang masih terlelap seketika pun terkejut saat tetesan air mata Jenny membasahi tangannya. Perlahan, kelopak mata Edison pun mulai terbuka.
Edison pun begitu terkejut melihat Jenny sudah ada di sampingnya. Ingin rasanya dia bangkit dan memeluk wanita yang begitu dicintainya, dan dirindukannya, tapi apa daya, tubuhnya terasa sangat lemah.
"Jenny," jawab Edison sambil menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Jenny kau disini?" sambung Edison kembali. Jenny pun hanya menganggukkan kepalanya sambil terus menangis.
Dia kemudian memajukan tubuhnya lalu memeluk Edison. "Edison, aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Edison. Maafkan aku, maaf aku dulu pergi meninggalkanmu begitu saja tanpa mendengar penjelasan darimu hingga membuat kita semua terpisah begitu lama. Tolong maafkan aku, Edison."
"Kenapa kau minta maaf Jenny? Kau sama sekali tidak bersalah. Bukankah malam itu aku yang melakukan kesalahan terbesar dalam rumah tangga kita, tapi kenapa kau yang harus minta maaf? Kau tidak bersalah, Jenny. Kau sama sekali tidak bersalah."
__ADS_1
"Tapi aku juga baru tahu jika malam itu kau juga tidak sepenuhnya bersalah, Edison."
"Apa maksudmu, Jenny?"
"Jangan terlalu dipikirkan, Edison. Yang terpenting saat ini adalah kesehatanmu."
"Apa kau mau tetap ada di sampingku? Tolong temani aku, Jenny."
Jenny pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, aku sangat merindukanmu, aku tidak ingin kau pergi meninggalkan aku lagi, Jenny. Aku tidak ingin kau pergi meninggalkan aku, dua puluh lima tahun terkahir ini aku hidup penuh kehampaan. Sudah berbagi cara kulakukan untuk mencarimu, tapi aku tidak pernah bisa menemukanmu. Kau sebenarnya ada dimana, Jenny?"
Jenny pun terdiam, dia kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu menyeka air matanya. "Malam itu, malam itu dengan menaiki subway aku pergi ke Brooklyn. Aku tidak tahu aku akan pergi kemana, padahal saat itu tubuhku sangat lemas. Bahkan aku hampir saja pingsan. Di saat itulah, aku melihat ada seorang laki-laki yang dikeroyok oleh beberapa orang. Aku kemudian menolong orang itu dengan berpura-pura memanggil polisi dengan mengeluarkan suara sirine lewat ponselku. Sejak itu, aku tinggal di rumah lelaki itu. Dia bernama Robert yang merupakan preman di Brooklyn. Awalnya, Robert begitu baik dan menyayangi Amber, dia juga sama sekali tidak pernah menyentuhku tapi setelah tubuhnya menua dan tidak lagi mencari uang seperti saat dia masih muda, dia begitu kasar pada kami. Terutama pada Amber, dia menyuruh Amber bekerja sejak muda untuk memenuhi kebutuhan kami. Aku tak berdaya, kami memang telah banyak berhutang budi pada Robert selama bertahun-tahun."
"Kau tidak menikah dengan Robert?"
Jenny kemudian menggelengkan kepalanya. "Dia memiliki penyimpangan ketertarikan sekssual, jadi dia tidak pernah tertarik padaku, ataupun Amber."
"Oh syukurlah. Jenny, tolong tetaplah di sampingku. Aku membutuhkan kalian bertiga, meskipun terlambat. Aku ingin hidup bahagia dengan kalian bertiga. Kau mau kan Jenny?"
Jenny pun menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Terima kasih, Jenny. Lalu dimana Amber? Aku juga ingin bertemu dengan Amber, aku sangat merindukannya, Jenny."
"Iya Edison, aku akan panggilkan Caitlyn dan Amber," jawab Jenny.
Sementara Amber, Caitlyn, kini tampak duduk di depan ruang perawatan Edison. Sedangkan Edrick, menemani Diane pergi ke kantin untuk menenangkan diri.
"Jangan pernah berfikir aku sudah bisa berdamai dengan keadaan, Cat. Sampai saat ini aku masih sangat membencimu, kau wanita yang sangat munafik! Kau selalu ingin terlihat baik di mata semua orang! Kau di depan kami semua seolah-olah mendukung hubunganku dengan Jeff, tapi di belakang kami semua kau masih bisa bermesraan dengan Jeff kan? Buka saja topengmu itu!"
"Terserah apa katamu, aku akan tetap menyayangimu karena kau adalah saudara kembarku, kau adalah adikku, Amber."
__ADS_1
"Tutup mulutmu, Cat. Lebih baik kau pergi dengan Jeff dari sini karena aku sudah sangat muak melihat wajah kalian berdua!"
"Maaf, tapi Jeff sudah pergi, Jeff sudah pergi, dan mungkin tidak akan pernah kembali. Jeff hanya berpesan, jika dia tidak akan pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai ayah kandung dari janin yang kau kandung, Amber."