Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)

Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)
Tujuh Bulan Kemudian


__ADS_3

Tujuh Bulan Kemudian...


Manhattan, 06.45 am.


Musim salju di Bulan Desember.


Amber membuka matanya, tampak di depannya seorang laki-laki berambut cokelat dengan rahang yang tegas masih meringkuk di bawah tebalnya selimut berwarna putih. Waktu memang terasa cepat berlalu, begitu pula musim yang memang juga sudah berganti. Dan saat ini di berbagai belahan kota Manhattan sudah diselimuti oleh salju tebal.


Amber lalu tersenyum, menikmati setiap lekukan wajah pria itu.


'Sudah tujuh bulan lamanya. Sudah tujuh bulan lamanya kau menikahiku, Edrick. Dan kau tetap memegang janjimu dulu padaku untuk tidak pernah menyentuhku, meskipun kita selalu tidur di atas ranjang yang sama, dalam kamar yang sama, dan dalam satu atap yang sama. Teman hidup, mungkin itulah sebutan untuk kita berdua. Tapi bolehkah aku berharap lebih dari itu?' batin Amber sambil menyunggingkan senyum tipisnya.


Amber kemudian duduk di atas ranjang sambil memegang perutnya yang sudah membesar. Merasakan setiap tendangan dari makhluk mungil yang ada di dalam kandungannya, yang kemungkinan dua minggu lagi akan sudah lahir ke dunia.


"Anakku, aku sudah tidak sabar menantikan kehadiranmu ke dunia ini, Sayang. Mommy janji, saat kau lahir, Mommy akan selalu berusaha membahagiakanmu, Sayang."


Amber kemudian menatap ke arah luar jendela, dan melihat salju yang kini telah turun. "Musim telah berganti, musim semi yang menjadi awal dari kisah pahitku telah lama berlalu, begitu pula dengan hatiku. Awalnya, kupikir akan sangat sulit melupakanmu, Jeff. Kupikir melupakanmu memang menjadi bagian tersulit dalam hatiku, tapi nyatanya aku salah. Ternyata aku salah, karena melupakan laki-laki pengecut seperti dirimu ternyata begitu mudah bagiku. Ternyata, semesta itu tidak pernah salah dalam memberi sebuah pertanda."

__ADS_1


Amber kemudian menatap wajah Edrick kembali. 'Edrick, aku tahu, aku tidak boleh berharap lebih padamu. Kau menolongku dan menutup semua aibku saja itu sudah cukup bagiku. Aku tidak boleh berharap lebih padamu, Ed. Maafkan aku jika aku memiliki sebuah rasa padamu, entahlah aku juga tidak tahu bagaimana rasa itu tiba-tiba hadir di dalam hatiku, sebuah rasa yang datangnya begitu tiba-tiba dan tanpa aba-aba. Maafkan aku jika aku mulai memiliki sebuah rasa yang bisa kusebut dengan cinta. Maafkan aku jika aku mulai jatuh cinta padamu, Edrick. Tujuh bulan kebersamaan kita, benar-benar telah membuatku tidak berdaya dan tak kuasa menolak perasaan cinta ini padamu. Maafkan aku, Ed jika aku sudah jatuh cinta padamu,' batin Amber sambil tersenyum kecut.


Amber kemudian melihat jam di dinding kamar itu. "Sudah hampir pukul tujuh pagi, sebaiknya aku menyiapkan sarapan dulu untuk Edrick," kata Amber sambil bangkit dari tempat tidurnya, lalu mengambil pakaian hangatnya. Dia kemudian keluar dari kamar itu menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Edrick.


Setelah Amber keluar dari kamar, mata Edrick tampak bergerak. Perlahan, mata cokelat itu pun terbuka dan melihat ke samping ranjang yang kini sudah kosong.


"Oh, Amber sudah bangun."


Dia kemudian juga bangkit dari atas ranjang lalu membuka pintu kamar itu. Saat pintu kamar itu belum sepenuhnya terbuka, Edrick tampak mengintip Amber yang saat ini sedang terlihat sibuk memasak di dapur.


"Amber," ucap Edrick lirih sambil tersenyum kecut.


Edrick kemudian tersenyum manis saat melihat tingkah lucu Amber yang sedang begitu kepayahan sedikit menahan mual saat mengoleskan mentega karena selama kehamilannya, dia sedikit alergi dengan bau mentega.


'Amber, kenapa aku baru sadar jika tingkahmu ternyata sangat menggemaskan. Aku memang begitu bodoh karena hanya terpaku pada satu orang wanita yang selama hidupnya tidak pernah mencintaiku. Setelah kusadari semua ini, aku begitu malu akan semua tingkah konyolku, seharusnya sejak dulu aku bisa membuka hatiku untuk wanita lain, aku memang sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan waktuku untuk merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan sekarang setelah aku berani membuka hatiku, baru kusadari jika jatuh cinta padamu itu ternyata begitu mudah Amber. Namun sayangnya, aku cukup tahu diri siapa aku dimatamu, karena aku sadar. Bagimu, aku hanyalah laki-laki yang menutup aibmu, tidak lebih dari itu. Tapi Amber, bolehkah aku berharap lebih dari itu? Bolehkah aku berharap untuk merebut hatimu untuk bisa jatuh cinta padaku?' gumam Edrick.


Dia kemudian melirik ke arah jam dindingnya. "Ah sial! Ini sudah siang, bisa-bisa aku terlambat ke kantor jika terus menerus mengamati Amber," gerutu Edrick. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Amber yang saat ini sudah selesai memasak dan menghidangkan sarapan untuk Edrick di atas meja makan tampak mengamati pintu kamar mereka.


"Ini sudah siang, kenapa Edrick belum juga keluar dari kamar?" keluh Amber.


Dia kemudian berjalan ke arah kamar, namun saat sedang berjalan ke arah kamar, tiba-tiba matanya tertuju pada berita di televisi yang menyiarkan adanya perkiraan badai salju yang akan turun di berbagai bagian kawasan N.Y.C


"Sebentar lagi ada badai salju? Ah sebaiknya kuberi tahu Edrick!" ucap Amber. Die kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mereka.


Saat Amber masuk ke dalam kamar itu, tampak Edrick yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian tubuh bawahnya.


Amber pun hanya menelan salivanya dengan kasar saat melihat tubuh atletis Edrick tanpa pakaian yang menutupi otot perut dan tangannya yang tampak terpahat sempurna.


Melihat Amber yang berdiri menatapnya dengan tatapan terpaku, perlahan Edrick pun mendekat ke arahnya.


"Amber!" panggil Edrick lirih. Namun Amber hanya terdiam, dan hanya menatap Edrick dengan tatapan yang begitu dalam.


Erick pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Amber, sedangkan Amber saat ini tampak menatap Edrick dengan tatapan yang semakin dalam. ' Amber, tolong jangan bersikap seperti ini, jika melihatmu yang seperti ini, lalu bagaimana caranya aku bisa mampu mengendalikan diriku, Amber? Aku bukanlah laki-laki sempurna yang bisa selalu menahan diri di tengah nafsuku yang begitu bergejolak padamu,' gumam Edrick.

__ADS_1


Sementara di luar, salju kini turun semakin deras, menambah hawa dingin yang kini semakin merasuk ke dalam tubuh.


__ADS_2