
Seluruh mata lalu memandang ke arah Caitlyn. "Anda mau mendonorkan sumsum tulang belakang anda?" tanya dokter tersebut.
"Ya, saya saudara kandungnya dan saya yakin, sumsum tulang belakang saya pasti cocok untuk Amber."
"Baik, Nona. Mari ikut saya untuk menjalani proses pemeriksaan. Anda juga harus siap dengan resiko yang kemungkinan bisa terjadi jika anda mendonorkan sumsum tulang belakang anda, Nona."
"Iya Dok," jawab Caitlyn.
"Cat, apa kau yakin?" tanya Jenny.
"Sangat yakin, Mommy. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Amber."
"Tapi kau belum pernah hamil, Cat. Bagaimana jika kondisimu menurun dan mengakibatkan efek samping pada organ tubuhmu yang lain?"
Caitlyn lalu tersenyum. "Mommy, kenapa Mommy berkata seperti itu? Bukankah saat ini yang terpenting adalah keselamatan bagi Amber? Tidak usah mencemaskan aku, Mom. Amber masih memiliki seorang anak dan suami yang membutuhkannya, sedangkan aku? Aku tidak memiliki siapapun yang benar-benar membutuhkan kehadiranku di dunia ini. Amber lebih pantas mendapatkan apa yang aku miliki, lagipula bukankah aku sudah berjanji akan memberikan semua yang aku miliki padanya?" ujar Caitlyn sambil menghapus air mata yang mengalir di wajah Jenny.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah kau juga berhak bahagia?" tanya Jenny sambil menatap Caitlyn. Namun Caitlyn hanya tersenyum sambil menghapus kembali air mata Jenny. Sementara Edison dan Edrick hanya menatap perbincangan Jenny dan Caitlyn sambil meneteskan air mata mereka.
"Believe me, Mommy," ujar Caitlyn. Dia kemudian mendekat ke arah dokter tersebut.
"Ayo Dok," ucap Caitlyn. Mereka kemudian berjalan ke arah ruang laboratorium untuk menjalani kecocokan sumsum tulang belakang Caitlyn dengan Amber.
Beberapa saat kemudian, tubuh Amber pun didorong keluar dari ruang UGD menuju ke ruang operasi untuk dilakukan operasi sesar. Edrick beserta Jenny dan Edison lalu berjalan ke ruang operasi menunggu proses operasi Amber.
Setengah jam kemudian, suara tangis bayi pun terdengar. Mereka yang juga mendengar suara tangis bayi tersebut lalu menangis penuh haru. Perasaan mereka begitu campur aduk, antara bahagia karena bayi Amber sudah lahir, tapi juga sedih mengingat kondisi Amber dan Caitlyn yang saat ini.
Tak lama kemudian, pintu ruang operasi pun terbuka. Edrick lalu mendekat pada dokter tersebut. "Bagaimana kondisi istri dan anak saya dokter?"
__ADS_1
"Semuanya baik, kondisi istri anda masih bisa dikendalikan, bayi anda juga sehat tanpa kekurangan apapun hanya saja bayi anda harus kami masukkan ke inkubator terlebih dulu karena dia lahir sebelum waktunya."
"Oh syukurlah!" ucap Edrick sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sebentar lagi, istri anda akan kami bawa ke ruang perawatan, sekaligus untuk mengecek perkembangan kondisi tubuhnya untuk melakukan operasi lanjutan, operasi transplantasi sumsum tulang belakang."
"Iya, Dok. Terima kasih, banyak."
Beberapa saat kemudian, sebuah brankar yang membawa Amber kemudian keluar dari ruang operasi menuju ke ruang perawatan.
Edrick beserta Edison dan Jenny kemudian mengikuti perawat yang mendorong tubuh Amber ke sebuah ruang perawatan kelas VVIP.
"Sebentar lagi Nyonya Amber siuman, jika dia ada keluhan, anda bisa menghubungi kami."
"Baik terima kasih, Suster," jawab Edrick.
Dia dan kedua orang tua Amber kemudian mendekat pada Amber yang kini tampak begitu pucat. Edrick lalu membelai wajah Amber lalu mengecup keningnya.
Edison lalu menepuk pundak Edrick. "Kau tenang saja, dia pasti sembuh Ed," ucap Edison.
"Iya Daddy."
"Tidak hanya, Amber. Tapi Caitlyn, aku juga ingin Caitlyn juga bisa hidup normal kembali. Sebagai seorang ibu, aku juga ingin adil untuk anak-anakku, aku juga ingin Amber bisa menyayangi Caitlyn. Selama ini Caitlyn selalu menyayangi Amber sebagai adiknya, tapi apa yang Caitlyn peroleh? Hanya cacian dari mulut Amber. Saat ini, Amber sudah hidup bahagia denganmu, Edrick. Tapi bagaimana dengan Caitlyn? Dia hidup sendiri dengan bayang-bayang masa lalu Jeff dan Amber yang telah menyakitinya? Apa kalian tidak pernah memikirkan semua itu? Lalu, saat ini Caitlyn juga akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya, tapi kenapa hanya aku yang mengkhawatirkan kondisinya? Apakah kalian tidak pernah merasakan bagaimana menjadi Caitlyn dalam menjalani semua kepahitanan hidupnya? Kenapa di mata kalian hanya ada Amber yang selalu tersakiti? Apakah Caitlyn tidak berhak bahagia? Aku juga ingin kedua putriku hidup bahagia!" ucap Jenny dengan begitu terisak.
"Jenny, kenapa kau berkata seperti itu? Kami semua juga menyayangi Caitlyn," ujar Edison.
"Kalau kalian juga menyayangi Caitlyn, setelah kejadian ini tolong kalian nasihati Amber agar bisa berbuat baik pada Caitlyn. Apa kalian tidak bisa melihat pengorbanan apa saja yang sudah dilakukan oleh Caitlyn untuk adiknya? Dan aku sebagai seorang ibu sudah tidak tahan lagi jika melihat salah seorang putriku tersakiti. Aku sangat menyayangi Amber tapi aku tidak suka dengan sikapnya jika dia membenci Caitlyn terus menerus seperti ini, padahal sebentar lagi Caitlyn akan memberikan nyawa baru untuk Amber tanpa memedulikan dirinya sendiri! Kalian mengerti maksudku kan? Tolong bantu aku agar kedua putriku bisa saling menyayangi satu sama lain."
__ADS_1
Mendengar perkataan Jenny, Edison dan Edrick pun hanya tertunduk. Perlahan, mereka pun menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, kelopak mata Anber pun mulai bergerak.
"Amber apa kau sudah sadar?" tanya Edrick.
Jenny lalu menggenggam tangan Amber sambil membelai rambutnya. "Kau sudah sadar, Sayang?" sambung Jenny.
Amber kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, lalu menatap satu per satu orang yang ada di ruang perawatan tersebut.
'Tidak ada Caitlyn disini? Ah, wanita menyebalkan itu pasti senang kalau aku sakit seperti ini. Tapi setidaknya itu jauh lebih baik, daripada aku harus menahan rasa muakku saat melihat wajahnya di ruangan ini,' batin Amber.
***
"Bagaimana Dok? Apa sumsum tulang belakang saya cocok dengan Amber?"
"Seperti dugaan saya, sumsum tulang belakang kalian cocok."
"Bagus sekali, lalu berapa besar kemungkinan Amber untuk sembuh?"
"Tergantung, tapi kemungkinan bisa mencapai sembilan puluh persen."
"Jadi dia bisa sembuh total, Dok?"
"Kita berdoa saja, semoga Nyonya Amber bisa sembuh total."
"Iya, saya ingin dia sembuh, Dok. Tolong lakukan operasi secepatnya, Dokter."
"Kita harus memastikan kondisi tubuh Nyonya Amber dulu sampai benar-benar siap karena dia baru saja menjalani operasi sesar."
__ADS_1
"Oh baik, Dok. Terima kasih, saya permisi dulu," ujar Caitlyn. Dia kemudian keluar dari ruangan tersebut.
'Amber, kau pasti sembuh. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhanmu, Amber. Bukankah aku sudah berjanji untuk memberikan semua yang kumiliki untukmu? Termasuk hidupku,' batin Caitlyn.