Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)

Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)
Jangan Menangis


__ADS_3

Edrick menatap seorang wanita yang kini sedang tidur di hadapannya sambil tersenyum. "Kau, benar-benar sangat mirip dengan Cat," ucap Edrick sambil tersenyum kecut.


Beberapa saat kemudian, sepasang mata milik wanita itu pun bergerak, lalu perlahan mata itu mulai terbuka. "Selamat siang, Amber. Apa tidurmu nyenyak?" sapa Edrick pada Amber yang kini terlihat salah tingkah melihat Edrick yang masih ada di depannya.


"Tu.. Tuan Edrick, anda masih disini?" ucap Amber dengan sedikit gugup.


"Memangnya kau pikir aku tega meninggalkanmu begitu saja di saat kondisimu seperti ini?"


"Aku baik-baik saja, Tuan."


"Tolong jangan panggil aku Tuan lagi, Amber. Panggil saja aku Edrick."


"Ta... Tapi."


"Tapi apa? Tidak ada tapi, tapi. Tidak boleh ada penolakan karena mulai hari ini kita berteman, kita akan berteman baik. Kau mau kan menjadi temanku?" tanya Edrick sambil tersenyum. Amber pun hanya menganggukkan kepalanya sambil mengulaskan senyum tipis di bibirnya.


"Aku sudah membelikan makanan untukmu, Amber. Makanlah!" Edrick lalu mengambilkan bungkusan makanan lalu menuangkan makanan tersebut ke atas piring dan memberikannya pada Amber.


"Ini, Amber. Bagaimana setelah ini kita pergi ke dokter saja? Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu."


"Tidak Ed, aku tidak apa-apa. Tidak usah terlalu mencemaskan aku."


"Kau yakin?"


"Sangat yakin," jawab Amber.


Amber yang sudah merasa sangat lapar, lalu memakan makanan tersebut dengan begitu lahap. "Pelan-pelan Amber!" ucap Edrick yang membuat Amber tersipu malu.


"Maaf."


"Untuk apa minta maaf. Apa kau tidak lelah meminta maaf terus padaku? Minta maaf untuk hal yang tidak perlu. Aku melakukan semua ini ikhlas, Amber. Jadi tolong jangan sungkan padaku. Sekarang, habiskan makananmu itu."


"Kau baik sekali, Ed."


"Bukankah kita adalah teman?" ucap Edrick yang membuat Amber tersenyum. Dia kemudian melanjutkan makanannya kembali. Namun, saat Amber baru saja menghabiskan makanan itu, tiba-tiba dia merasa begitu mual.

__ADS_1


'Astaga! Kenapa tiba-tiba rasanya perutku mual sekali,' gumam Amber disertai keringat dingin yang juga mulai keluar dari sekujur tubuhnya.


"Kau kenapa Amber? Apa sesuatu terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba wajahmu pucat?" tanya Edrick yang kini begitu panik melihat perubahan raut wajah Amber.


Sementara Amber yang sudah tidak sanggup lagi menahan mual yang kini mulai terasa begitu mencekat di kerongkongannya, mulai bangkit dari atas sofa lalu berlari ke arah wastafel kemudian mulai memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan.


HOWEKKK HOWEKKKK


Makanan yang dimakan oleh Amber pun keluar dari mulutnya, tanpa tersisa. Namun, meskipun makanan itu sudah keluar, rasa mual masih saja dirasakan oleh Amber. Hingga akhirnya, cairan bening pun mulai keluar dari mulutnya.


Edrick pun kini mendekat ke arah Amber. Dia kemudian memijit tengkuk dan punggung Amber saat Amber masih mencoba mengeluarkan mual yang dia rasakan.


"Hufttt, hufttt!" ucap Amber sambil mengatur nafasnya saat seluruh isi perutnya keluar yang membuat tubuhnya kini terasa begitu lemas.


"Amber, sebaiknya kita pergi ke dokter. Lihat keadaanmu, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu, Amber," ucap Edrick yang kini terlihat begitu cemas melihat keadaan Amber yang kini sedang menyenderkan tubuhnya pada tembok. Wajahnya tampak begitu pucat, nafasnya masih terlihat begitu tidak beraturan.


"Aku tidak apa-apa, Ed. Aku sungguh tidak apa-apa."


"Kau sedang sakit, Amber. Aku tidak mau kau semakin bertambah parah, apalagi kau tinggal sendirian di sini. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Aku akan memaksamu untuk pergi ke dokter sekarang juga!"


"Tidak Edrick, sungguh itu tidak perlu."


Amber kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan itu."


"Lalu kenapa? Kau tidak boleh seperti ini, Amber."


"Tidak Ed, sungguh aku tidak apa-apa. Hanya saja, hanya saja...."


Amber kemudian tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya terdiam, lalu tiba-tiba air mata mulai menetes membasahi wajahnya.


"Ada apa Amber? Kau kenapa? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Edrick sambil mengerutkan keningnya. Kini, berbagai pertanyaan pun mulai menari di benaknya.


"Aku tidak apa-apa, Ed. Aku tidak apa-apa, hanya saja saat ini aku sedang hamil. Aku sedang hamil Ed," jawab Amber dengan begitu lirih diiringi isak tangis.


Edrick yang begitu terkejut mendengar jawaban Amber, saat ini hanya bisa menatap Amber yang sedang menagis dan terlihat begitu rapuh. Perlahan dia pun mendekatkan tubuhnya pada Amber lalu mendekap tubuh Amber ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jangan menangis, jangan menangis Amber. Ada aku di sini," ucap Edrick sambil memeluk dan membelai rambut Amber.


NOTE: Mampir juga ya ke karya bestie aku Kak Dhevy Yuliana dijamin ceritanya keren banget loh




PEMBALASAN GADIS ABNORMAL


(Dhevy Yuliana)



Sheina adalah gadis yang mempunyai kelainan di wajahnya.


dan karena itulah, dirinya selalu di buly. dan pada suatu hari, karena sudah merasa tidak tahan, akhirnya gadis itu, meluapkan emosinya.


"eh iya, saya lupa dia kan hanya punya satu mata," guru itu, berucap dengan nada angkuhnya.


"makanya kamu itu nggak cocok sekolah di sini, karena kamu, bukan manusia," sambungnya membuat semua orang tertawa.


Deg


tiba tiba, hati dan jantung Sheina, merasa sakit karena di hina dan di permalukan seperti ini.


apalagi, orang itu adalah seorang yang seharusnya menjadi contoh.


Sheina yang sebelumnya menunduk, dengan cepat gadis itu, menegakkan wajahnya.


"maaf Bapak Rian yang terhormat, saya rasa, kata kata anda, sungguh sangat tidak pantas dari orang yang berpendidikan tinggi dan jabatan sebagai pahlawan itu. ternyata, benar apa kata orang, bahwa orang yang ber etika tidak di ukur dari penampilannya," Sheina segera berlalu pergi.


meninggalkan tempat itu, berderai air mata.


hingga membuat hati Rian terasa terganggu.

__ADS_1


dan dengan susah payah, guru tampan itu, menyadari perbuatannya.


akankah Sheina luluh, ataukah malah menjauh? kiita simak ya?


__ADS_2