
Mendengar perkataan Caitlyn, perasaan Amber pun terasa begitu berkecamuk. Tak bisa dipungkiri jika saat ini, dia memang masih sangat mencintai Jeff, tapi dia tak mungkin meninggalkan Edrick begitu saja. Edrick yang sudah begitu tulus dan setia saat dia terpuruk.
'Oh Tuhan, kenapa sekarang situasinya begitu rumit seperti ini?' gumam Amber sambil sesekali melirik pada Jeff yang menatap Caitlyn dengan tatapan penuh tanda tanya.
Amber kemudian melirik pada Edrick yang kini hanya bisa termenung sambil menundukkan kepalanya. Amber kemudian menggenggam tangan Edrick sambil tersenyum. Bibirnya terlihat menggerakkan sesuatu yang kemudian dijawab senyuman oleh Edrick.
"Cat, duduklah! Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ucap Amber. Caitlyn lalu mengangkat wajahnya dan menatap Amber yang kini terlihat lebih tenang.
"Duduklah!" ujar Amber kembali.
Caitlyn lalu bangkit kemudian duduk di atas sofa. Dia kemudian melirik pada Jeff yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam sambil menggelengkan kepalanya. Namun, baru saja Caitlyn menempelkan tubuhnya di sofa tiba-tiba ponselnya pun terdengar. Dia pun kemudian mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas.
"Mommy Diane," ucap Caitlyn saat melihat sebuah nama di ponselnya.
[Halo Mommy.] jawab Caitlyn saat mengangkat panggilan telepon itu.
[Cat, kau dimana? Bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang juga? Kondisi Daddy semakin memburuk, Cat! Cepat bawa Amber dan Jenny!] ucap Diane sambil terisak.
"Oh tidak!" sahut Caitlyn sambil menutup mulutnya, hingga tanpa dia sadari ponselnya pun terjatuh.
"Daddy," ucap Caitlyn kembali.
"Ada apa Cat?" tanya Jeff sambil mendekat padanya.
"Jeff, Daddy. Keadaan Daddy semakin memburuk," jawab Caitlyn. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Jenny dan Amber secara bergantian.
"Mommy, Amber. Ayo kita pergi sekarang. Kita harus menemui Daddy, dia sangat merindukan kalian berdua."
Mendengar perkataan Caitlyn, Jenny pun hanya terdiam. Wajahnya yang sudah dipenuhi air mata pun kini terlihat semakin berantakan dengan bertambahnya kembali air mata yang mengalir dari sudut matanya.
__ADS_1
"Mommy... Come on, Mommy. Tolong maafkan Daddy. Semua yang Daddy lakukan hanyalah sebuah kekhilafan, sebuah ketidaksengajaan. Tolong Mommy, maafkan Daddy. Tahukah Mommy, selama dua puluh lima tahun, Mommy Diane hidup dengan sangat tersiksa karena Daddy tidak pernah mencintai dirinya. Dua puluh lima tahun, Mommy Diane hidup menderita karena suaminya tidak pernah mencintai dirinya. Hanya ada Mommy yang ada di hati Daddy. Percayalah Mommy, Daddy hanya mencintai Mommy. Tolong maafkan kekhilafan Daddy. Kumohon, Mommy!" rengek Caitlyn dengan begitu mengiba.
Caitlyn lalu mengalihkan pandangannya pada Amber. "Amber, kau mau kan memaafkan Daddy. Maaf jika kekhilafan yang dilakukan oleh Daddy membuat kalian selama ini hidup menderita. Tolong maafkan Daddy, Amber. Amber, aku juga ingin meminta maaf padamu. Aku bersedia melakukan apapun yang kau inginkan, aku mau memberikan apapun yang kau minta untuk menebus dosa Daddy pada kalian berdua. Tolong maafkan Daddy. Tolong maafkan Daddy, karena saat ini dia sangat membutuhkan kalian. Tolong temui, Daddy. Tolong temui Daddy," ucap Caitlyn sambil terisak.
Dia kemudian menatap Jenny lalu mendekat ke arahnya. "Mommy, jika bagimu Manhattan adalah sebuah luka, maka ijinkan aku untuk mengobati luka di hatimu, Mommy. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini, aku hanya ingin kita semua bisa kembali hidup bahagia."
Melihat wajah Caitlyn, Jenny kemudian membelai wajahnya. "Cat, aku sungguh bangga padamu, tak perlu kembali mengiba seperti ini. Kita pergi ke Manhattan, ayo kita pulang, Nak," jawab Jenny sambil menganggukkan kepalanya dan membelai wajah Caitlyn.
"Terima kasih, Mommy."
Caitlyn lalu mengalihkan pandangannya pada Amber. "Amber, kau mau kan pulang ke Manhattan dan menemui Daddy?"
Amber pun menganggukkan kepalanya. "Ya, tentu saja Cat," jawab Amber singkat.
"Edrick, maaf jika rencana pernikahan kalian terganggu dengan kedatangan kami. Tolong maafkan kami, sungguh aku tidak bermaksud mengacaukan pernikahan kalian."
"Tidak apa-apa, Cat. Tidak apa-apa. Sebaiknya kita pergi sekarang juga!" ujar Edrick.
Tersisa Caitlyn dan Jeff yang saat ini masih duduk di ruang tamu. "Kenapa kau berkata seperti itu, Cat? Apa maksudmu mengatakan seperti itu pada Amber? Apa kau tidak berfikir jika di samping Amber ada Edrick? Apa kau tidak berfikir bagaimana perasaan Edrick mendengar perkataanmu?"
"Maaf, aku spontan. Aku hanya tidak ingin Amber selalu terluka. Selama ini sudah begitu banyak penderitaan yang dia alami. Apa aku salah jika aku ingin memberikan kebahagiaan untuknya? Apa aku salah, Jeff?"
"Kebahagiaan katamu? Kebahagiaan apa yang kau maksud? Lalu bagaimana dengan hatiku? Aku sama sekali tidak pernah mencintai Amber!"
"Tapi Amber mencintaimu! Edrick memang laki-laki yang baik tapi saat ini aku belum melihat cinta di mata Amber untuk Edrick. Apa salahnya kau berkorban demi kebahagiaannya? Bukankah dia juga sedang mengandung darah dagingmu? Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Jeff!"
"Apa kau sudah lupa dengan yang dialami oleh Daddy dan Mommy Diane? Apa kau sudah lupa jika seumur hidupnya Daddymu tidak pernah bisa mencintai Mommy Diane karena malam itu yang dia lakukan hanyalah sebatas kekhilafan, sebatas ketidaksengajaan akan kebutuhan hasrat sebagai seorang laki-laki yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari istrinya? Apa kau sudah lupa bagaimana tersiksanya Mommy Diane karena sikap Daddymu, dan kau mau melakukan hal yang sama dengan Amber? Kau ingin Amber juga hidup terluka karena seumur hidup aku tidak pernah mencintainya?"
"Kau belum mencobanya, Jeff. Kau belum pernah mencoba untuk jatuh cinta pada Amber."
__ADS_1
"Sudah berulang kali kucoba tapi aku tidak pernah bisa, Cat! Karena bagiku Amber hanyalah ibu dari anakku! Tidak lebih! Pikirkan juga bagaimana perasaan Edrick!"
"Tapi..."
"Cukup Caitlyn! Apa kau tidak lelah mengobral harga diriku pada suamimu itu? Kau memang seperti serigala berbulu domba, Cat!" ucap Amber yang saat ini sedang berdiri menatap dirinya dan Jeff.
Bersambung...
NOTE:
Sejak awal, saya tidak menggambarkan Amber sebagai wanita yang baik dan sempurna. Saya hanya menggambarkan dia sebagai wanita yang polos, sedangkan Caitlyn jiwanya tulus. Terkadang, sikap manusia bisa berubah tergantung emosi yang ada di dalam hatinya.
Kalau kalian mau baca kisah dengan tema yang sama tapi alur beda, bisa mampir ke sebelah ya, judulnya Gairah Cinta Si Kembar.
Hai gaes, jangan lupa mampir ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Nezha Ageha dijamin ceritanya keren banget loh.
Blurb:
Seorang bayi perempuan dibuang dan beruntung di adopsi oleh keluarga yang baik hati.
Nama gadis itu Kasih, dia tumbuh dengan baik dan menjadi gadis tercantik di desanya, namun naas saat berusia 17 tahun ada insiden penyiraman air keras yang mengakibatkan wajahnya rusak.
Entah ini berkat atau kesialan, tetapi secara tak terduga dia malah menemukan fakta yang membuatnya mengubah tujuan hidupnya.
Kasih bukanlah bayi yang sengaja di buang. insiden tragis di masa lalu menjadi penyebab meninggalnya orangtuanya juga terpisahnya dia dari saudara kandungnya.
Mampukah Kasih melawan para serigala dan rubah licik yang siap menerkam hidup dia juga saudaranya? Bagaimana caranya pulang? Apakah keluarganya masih mengenali dia dengan wajah baru?
__ADS_1
Salam Cinta,
Nezha Ageha