
Edrick masih menatap kepergian Caitlyn yang berjalan keluar dari kamarnya. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berdiri dari atas ranjang.
"Sebaiknya aku pergi dari sini secepatnya, lebih baik aku menghindar dari Caitlyn untuk sementara waktu. Aku tidak mau dia semakin berfikiran buruk padaku dan hanya akan membuatku semakin terluka. Aku akan mengurus pekerjaan kami selanjutnya di New Jersey, sebaiknya aku memesan tiket sekarang juga untuk penerbangan ke New Jersey siang nanti," ucap Edrick. Dia kemudian mengutak-atik ponselnya, setelah selesai memesan tiket, dia lalu mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.
...***...
Amber yang baru saja turun dari subway, berjalan keluar dari stasiun lalu menaiki sebuah taksi. 'Aku sudah memesan sebuah kamar kontrakan yang kulihat di media sosial yang ada di dekat sini, untung saja masih ada kamar kosong jadi aku tidak usah bersusah payah mencari kontrakan lagi,' gumam Amber saat berada di dalam taksi. Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di rumah kontrakan yang ditujunya. Dia lalu menemui pemilik kontrakan, kemudian pemilik kontrakan itu mengantarkan Amber ke sebuah kamar yang berada tidak jauh dari pintu masuk rumah kontrakan tersebut.
"Terimakasih," ucap Amber.
"Sama-sama, kau tidak perlu sungkan jika membutuhkan bantuanku," jawab pemilik kontrakan tersebut. Dia kemudian meninggalkan Amber setelah memberikan kunci kamar itu.
CEKLEK
Amber membuka pintu kamar kontrakan itu, kamar berukuran 4x6 meter bercat dinding warna putih itu pun terlihat cukup rapi dan bersih. Di dalam kamar itu, terdapat tempat tidur berukuran sedang, disertai lemari dan meja rias yang ada di pojok kamar.
__ADS_1
'Ini lebih dari cukup,' gumam Amber saat memasuki kamar tersebut. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk beristirahat sambil memegang perutnya.
"Sayang, kita akan tinggal di sini. Semoga kau betah ya, Nak. Besok mommy akan mencari pekerjaan agar bisa mengirim uang untuk grandma dan untuk kita bertahan hidup," ujar Amber sambil mengelus perutnya.
Amber kemudian mengambil ponselnya lalu mengganti SIM card di ponsel miliknya agar Jeff tidak bisa mencarinya lagi. "Rasanya lebih nyaman hidup seperti ini, ini jauh lebih baik dibandingkan aku harus hidup dengan seorang lelaki yang kucintai tapi hatinya tidak pernah dia berikan untukku, dan hanya mempertahankanku bukan karena dia mencintaiku tapi karena dia tidak ingin kehilangan anak yang ada di dalam kandunganku," ujar Amber saat menyalakan ponsel miliknya dan melihat foto Jeff di ponsel itu.
Dia kemudian memejamkan matanya lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Jeff, kau bilang wajahku sangat mirip dengan istrimu, Caitlyn. Kupikir dengan memiliki wajah yang mirip itu akan membuatmu juga bisa mencintaiku sama seperti mencintai istrimu, tapi ternyata cinta tidak senaif itu. Mungkin cintamu pada istrimu terlalu dalam, dan aku tidak sanggup lagi untuk mendapatkan cinta itu," tambah Amber lagi.
"Ah kenapa aku terlalu banyak berfikir? Aku harus bisa melupakan semua kenangan tentang mereka, aku harus memulai kehidupan baru, lebih baik sekarang aku beristirahat saja. Besok aku akan mulai mencari pekerjaan di kota ini."
Amber kemudian menghapus air matanya lalu memejamkan mata indah itu meskipun dengan menahan perasaan yang begitu teriris.
Amber tengah asyik mengutak-atik ponselnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat layar di ponselnya itu. "Wow ada lowongan freelance dengan gaji yang cukup tinggi, gaji ini bahkan cukup untuk makan beberapa bulan, sebisa mungkin aku harus mendapatkan pekerjaan ini," ujar Amber saat melihat iklan lowongan pekerjaan di ponselnya.
"Lebih baik aku cepat pergi ke pusat perbelanjaan itu, ya aku harus pergi ke sana sekarang juga!"
__ADS_1
Amber bangkit dari tempat tidurnya, lalu mengganti pakaiannya kemudian keluar dari kamar itu dan menaiki sebuah taksi menuju ke sebuah Mall yang tidak jauh dari rumah kontrakan itu. Lima belas menit kemudian, dia pun sudah sampai. Amber yang baru saja turun dari taksi lalu masuk ke dalam Mall tempat akan dilangsungkan sebuah event yang dibacanya.
"Itu pasti event yang dimaksud," ujar Amber saat melihat sekumpulan orang yang terlihat sibuk sedang mempersiapkan sebuah acara. Dia kemudian berjalan ke arah mereka, kemudian mendekat pada seorang wanita berkacamata yang sedang duduk di belakang sebuah meja, di atas meja itu terlihat beberapa bendel kertas yang sedang dibuka olehnya.
"Permisi, Nona." sapa Amber. Wanita berkacamata itu lalu mengangkat wajahnya dan melihat Amber yang kini berdiri di depannya.
"Permisi Nona, saya melihat lowongan pekerjaan yang ada di sebuah akun media sosial jika event ini membutuhkan beberapa tenaga freelance, bisakah saya mendaftar lowongan pekerjaan tersebut?" tanya Amber. Namun, wanita berkacamata itu tidak menjawab pertanyaan Amber. Dia hanya melihat Amber dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ka.., kau siapa?" tanya wanita berkacamata itu.
"Perkenalkan, saya Amber. Amber Edmund," jawab Amber meskipun dengan perasaan yang begitu tak nyaman karena wanita berkacamata itu masih melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Amber Edmund? Kau tidak sedang bercanda kan, Nona?" tanya wanita itu.
"Oh, tentu saja tidak," jawab Amber meskipun dirinya masih dihinggapi kebimbangan.
__ADS_1
"Ada apa Claire, kenapa kau malah diam seperti itu? Bukankah wanita ini ingin mendaftar lowongan kerja di event besok?" tegur sebuah suara yang tiba-tiba mengagetkan Amber. Perlahan, Amber pun membalikkan tubuhnya melihat ke arah sumber suara itu. Namun, saat Amber sudah membalikkan tubuhnya, seseorang yang kini ada di depannya pun tampak memelototkan matanya sambil mengerutkan keningnya, dia pun tampak begitu terpaku saat melihat Amber.
"Caitlyn?" ucapnya beberapa saat kemudian.