
Sultan dan Tinira kini dalam keadaan polos dan terkulai di atas peraduan kamar tamu itu. Tinira tanpa sungkan memeluk Sultan seperti sudah tidak ada rasa malu dan batasan. Padahal Tinira benar-benar sadar jika Sultan adalah suami dari kakak kandung nya sendiri. Tinira kini dengan sengaja merebut Sultan dari Anura. Sedikitpun tidak ada rasa bersalah bahkan menyesal. Dalam benak Tinira hanyalah obsesi nya untuk hidup bersama Sultan terwujud. Pamor nya sebagai model akan melejit jika bisa bersuamikan pengusaha sukses dan kaya seperti Sultan. Tentu saja media bahkan wartawan jangan sampai mendengar kabar berita jika Sultan sebenarnya selama ini sudah menikah dengan kakaknya yaitu Anura.
Memang awal pernikahan Sultan bersama dengan Anura tidak direstui oleh Bu Subangun dan keluarga besar Sultan yang menghendaki Sultan menikah dengan wanita yang setara, sederajat dengan keluarga nya. Bagi keluarga Sultan, Anura dengan latar belakangnya dari keluarga yang sederhana dan ditambah Anura secara penampilannya berbeda jauh dengan adiknya yaitu Tinira.
Tinira setelah sukses dengan dunia modeling nya, sudah memiliki rumah sendiri dan Tinira tidak ingin media maupun wartawan mendengus kabar jikalau Tinira sebenarnya lahir dari keluarga yang sederhana dan tidak terpandang. Sehingga Tinira mengaku ke media dan wartawan jika dirinya itu sudah yatim piatu dan hidup sendiri di kota tanpa anggota keluarganya yang lain.
Keluarga Anura yang mengetahui jika Tinira seperti memutuskan hubungan kekeluargaan itu, hanya bisa diam dan tidak memprotes nya. Semuanya demi keinginan Tinira yang menghendaki hidup sukses tanpa keluarga nya.
Tinira mengusap dad@ bidang milik Sultan. Di sana sedikit ditumbuhi bulu tipis di sana. Tinira kini mulai mengecup lembut di sana. Karena saking gemasnya Tinira kembali menyes@p hingga Sultan membuka matanya. Tinira tersenyum lalu semakin nekat menindih Sultan setelah menyingkapkan selimut tebal yang menutupi badan polos itu. Sultan kembali menikmati serangan tiba-tiba dari Tinira. Tanpa penolakan Sultan menikmati permainan liar Tinira yang sudah menguasai dirinya.
" Apakah kamu menyukai nya, sayang?" kata Tinira sambil memainkan benda tumpul yang kini sudah meneg@ng dan panj@ng. Sultan mendesis keenak@n. Suara Tinira dan Sultan saling bersahutan setelah Tinira memasukkan benda yang sudah mengeras itu ke dalam go@ yang sudah mengang@ dan berlendir. Tinira mulai bergoy@ng di atasnya. Ritme yang awalnya pelan kini mulai dipercepat nya. Hingga suara Sultan dengan Tinira tidak terkendali lagi. Mereka kembali mendes@h dan sampai akhirnya mengejang karena ada sesuatu cairan yang akan tumpah di dalamnya. Tinira dan Sultan memekik keras di ruangan kamar tamu itu. Sampai akhirnya Tinira terkulai lemas di atas tubuh Sultan. Sultan memeluk tubuh Tinira yang masih polos di atasnya. Senyuman nakal dan puas itu tersungging di bibir Tinira.
Tinira berbaring di sebelah Sultan. Tinira sudah sangat kelelahan. Namun tidak dengan Sultan. Reaksi obat yang sudah diminum nya merasakan tubuh nya selalu tidak nyaman. Apalagi Tinira selalu membuat Sultan tergoda dengan kemolekan badannya. Sebagai seorang model dan juga aktris, Tinira tentu saja merawat tubuhnya dan menjaga badannya supaya tetap ideal. Namun setelah ini, Tinira akan merelakan dirinya hamil dan sementara waktu akan break jika dirinya hamil atau mengandung anak dari Sultan. Semuanya demi kesepakatan yang sudah dibuat dengan Bu Subangun jika bisa secepatnya hamil dan mengandung anak dari Sultan, Tinira tidak hanya diakui secara resmi menjadi menantu dari keluarga besarnya Sultan namun Bu Subangun juga akan memberikan kompensasi kepada Tinira yang mengandung anak Sultan berupa uang yang tidak sedikit. Itu semuanya karena Tinira harus beristirahat dan tidak menjalankan kontrak kerja sama di dunia model dan aktingnya.
__ADS_1
@@@@@@@
Bu Subangun mengetahui jika Tinira adalah adik kandung dari Anura dari cerita Sultan dan dibenarkan oleh Tinira sendiri. Namun Tinira memohon kepada Bu Subangun supaya hubungan keluarga itu jangan sampai tercium oleh media karena hal itu bisa merusak reputasi nya. Sedangkan Tinira sendiri sudah mengaku jika dirinya adalah anak yatim piatu tanpa sanak saudara ketika di wawancara secara eksklusif oleh wartawan bahkan hal itu di liput dan di tayangkan di televisi. Sebagai model dan aktris, Tinira harus selalu menjaga imej nya.
Tinira masih memeluk tubuh Sultan di dalam kamar tamu yang cukup luas itu. Tiba-tiba suara pintu kamar itu di dobrak secara paksa oleh seseorang. Seketika Sultan dan Tinira terperanjat dan terbangun dari tidurnya. Keduanya lalu saling berpandangan. Sultan masih bingung dan tidak percaya akan situasi dan kondisi nya. Betapa dirinya kehilangan akal sehatnya melakukan hubungan diluar nikah bahkan berselingkuh dengan wanita lain.
Dengan berbalut selimut tebal berwarna biru laut, keduanya menatap Bu Subangun, Anura yang sudah berdiri di depan pintu kamar tamu itu. Seketika mata Anura berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Suaminya dengan adiknya sudah satu ranjang di kamar itu bahkan keduanya dalam kondisi tidak mengenakan pakaian. Tentu saja semuanya sudah direncanakan oleh Bu Subangun dengan Tinira supaya Anura mengetahui tindakan Sultan yang sudah berhubungan badan dengan Tinira. Seketika Anura berlari dan meninggalkan kamar itu menuju kamarnya.
Dengan tangis dan rasa kesedihan yang tidak bisa dibendung akhirnya Anura Menumpahkan segala tangisnya di atas tempat tidur nya dengan ditutupi bantal. Anura tidak menyangka jika Sultan melakukan pengkhianatan itu. Walaupun sebelumnya memang sudah ada perjodohan dari Bu Subangun untuk menikahkan Tinira dengan Sultan. Tetapi semua yang sudah dilihat oleh Anura tidak sesuai dengan kata-kata dan ucapan Sultan yang tidak akan menikah dengan Tinira dan bercerai dengan Anura. Dengan kenyataan seperti itu, Anura harus merelakan dan melepaskan Sultan dan mengikhlaskan Sultan menikah dengan Tinira.
Sultan masuk ke dalam kamar dan mendekati Anura yang masih terisak dalam tangis nya. Sultan mengusap kepala Anura dan berusaha memenangkan nya. Namun tangan itu ditepisnya. Sultan semakin sedih dan merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Anura! Aku.. aku khilaf!" ucap Sultan lirih. Anura membenarkan duduknya. Matanya menatap tajam ke arah Sultan.
__ADS_1
" Kenapa harus dengan adik kandung ku, mas? Jika orang lain mungkin saja aku tidak akan sesakit dan kecewa ini." kata Anura dengan isak tangis nya.
" Maaf Anura!" ujar Sultan kembali seraya meraih tangan Anura dan hendak menggenggamnya. Namun lagi- lagi ditepis oleh Anura.
" Ceraikan aku mas! Dan menikahlah dengan Tinira." kata Anura. Sultan seketika menjambak rambutnya sendiri karena penyesalan nya.
" Ucapkan kata talak itu kepada ku, mas!" kata Anura kembali. Sultan semakin tidak kuasa menahan kemarahan nya terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa menahan segala godaan itu.
" Ucapkan, mas!" teriak Anura. Sultan akhirnya mengucapkan talak itu kepada Anura. Anura tersenyum getir.
" Bagus! Terimakasih mas! Terimakasih kamu sudah melepaskan semua beban ini." kata Anura lirih.
" Bolehkah aku memelukmu sekali saja?" kata Sultan seraya hendak merengkuh tubuh lemah Anura. Namun Anura sudah bangkit dari sana dan mulai mengemasi barang- barangnya.
__ADS_1
" Anura!" ucap Sultan dengan mata berkaca- kaca.