
Sementara di kantor tempat kerja Herlina, saat ini Herlina sudah kembali bekerja. Walaupun masih satu kantor dengan Zaki, Herlina tidak menyimpan dendam maupun kebencian karena Zaki kini telah menikah dengan wanita lain.
Zaki dan Herlina saat ini masih terlihat fokus dengan kerjaan nya. Mereka benar-benar profesional ketika sedang dalam bekerja. Liliana pun sangat sibuk dengan tugas-tugas nya. Sesekali Liliana melihat ke arah Zaki dan Herlina secara bergantian.
"Kalian berdua ini memang sangat aneh yah," ucap Liliana sambil menutup laptop nya. Kini Zaki dan Herlina sama-sama menatap ke arah Liliana.
"Aneh gimana, Li?" tanya Zaki dengan mengerutkan dahinya.
"Walaupun sudah menjadi mantan bisa berdamai di hati kalian. Kalian bisa mengesampingkan perasaan kalian dan bisa duduk bersama dalam satu kerjaan di sini. Ini benar-benar hebat bukan?" kata Liliana.
Zaki dan Herlina saling melemparkan senyuman nya.
"Sebenarnya perasaan sayang ini tidak akan berubah, Li. Aku dan Herlina masih menyayangi. Namun karena kami sudah berdamai dengan hati kita," sahut Zaki. Herlina tersenyum mendengar semuanya.
"Kami sudah tidak berjodoh lagi, Liliana. Makanya pernikahan kami saat itu gagal. Walaupun aku merasa kalau aku sudah tidak pentas untuk menikah dengan Zaki," sahut Herlina penuh sindiran.
__ADS_1
"Eh, maaf!" ucap Zaki akhirnya menjadi terdiam. Kini Liliana memperhatikan raut wajah Herlina dan juga Zaki secara bergantian.
"Baiklah! Aku akan mendoakan kalian semua menemukan kebahagiaan nya masing-masing. Demikian juga dengan mbak Herlina. Semoga secepatnya mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Zaki," ucap Liliana sambil melirik ke arah Zaki.
"Aku mau ke toilet bentar!" ucap Herlina. Liliana melirik ke arah Zaki yang seketika mendongakkan kepala sambil melihat ke arah Herlina.
Zaki mengikuti Herlina dari arah belakang. Liliana tersenyum melihat dua manusia yang sebenarnya masih saling mencintai itu. Tidak berselang lama tiba-tiba ada seseorang wanita mengetuk pintu ruangan itu. Liliana tentu sangat terkejut dengan kedatangan wanita itu. Wanita yang membawa tupperware dengan makanan di dalamnya.
@@@@@@@
"Halo mbak Liliana! Apa kabar?" tanya Zenni sambil duduk di kursi kosong ruangan itu.
"Baik mbk Liliana! Oh iya, bawa makanan buat suaminya tercinta yah?" tebak Liliana.
"Iya, ini tadi aku yang masak. Ini buat makan siang mas Zaki," jawab Zenni. Kini tupperware yang berisi makanan itu dia letakkan di atas meja milik Zaki.
__ADS_1
Zenni melihat dia meja kosong milik Herlina dan juga Zaki.
"Hem, mas Zaki nya di mana yah mbak?" tanya Zenni sambil melihat kiri kanan sekitar sana. Liliana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh tadi sih ada sedikit tugas dari Pak Diandra. Hem kenapa belum pulang yah?" jawab Liliana mencari jawaban yang tepat agar Zenni tidak berprasangka buruk dengan suaminya.
"Lalu mbak Herlina di mana? Kok kosong tempat duduk nya? Apakah tidak masuk kerja karena sakit?" tanya Zenni. Liliana benar-benar harus hati-hati dalam menjawab nya. Bisa-bisa masalah rumah tangga mereka bisa hancur lantaran curiga dan cemburu.
"Herlina tadi ke toilet, mbak Zenni. Paling sebentar lagi juga kembali ke ruangan," ucap Liliana. Liliana menarik nafasnya dalam- dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Aduh di mana mereka berdua? Kenapa belum juga kembali?" batin Liliana.
Hingga sampai beberapa lama dan hampir satu jam keduanya belum juga kembali. Zenni, istri dari Zaki mulai gelisah menunggu. Sampai akhirnya Zaki dan juga Herlina masuk ke ruangan itu secara bersamaan. Hal itu membuat mata Zenni dan juga Liliana menjadi melebar. Seketika Zenni bangkit dari duduknya dan berdiri meninggalkan ruangan itu.
"Zenni!" panggil Zaki sambil mengejar istrinya yang cemberut dan dalam kemarahan nya.
__ADS_1
Tanpa menoleh, Zenni berlari meninggalkan kantor itu dalam isak tangisan nya.