
Di kamar rawat inap, di atas brankar Akila saat ini. masih di rawat secara intensif di rumah sakit khusus. Peristiwa tidak disengaja yang menyebabkan dirinya mengalami luka bakar karena tersiram air keras oleh bu Desi. Pak Zaki yang dipercaya untuk mengurus masalah kecelakaan ini, berusaha menutup masalahnya supaya tidak tercium oleh media dan juga karyawan yang lain. Hal ini akan memperpanjang urusan. Segala kerugiannya akan ditanggung oleh pak Diandra selalu suami dari bu Desi yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi.
Akila tidak pernah menyangka jika dirinya lah yang akan terkena imbas dari semuanya. Niat jahat nya supaya Herlina yang terkena segala akibat kemarahan Bu Desi, malah dirinya yang menjadi korban nya.
Akila meratapi nasibnya yang saat ini wajahnya mengalami kerusakan. Selain itu dirinya juga terkena efek dari cairan yang berbahaya itu seperti pusing, mual serta rasanya pedih di kulit. Akila masih saja terus menangis.
Di kota ini Akila seorang diri merantau dan semua keluarga nya berada di kota lain. Akila sangat bersedih dengan semua yang telah menimpa dirinya. Pak Zaki yang sedari tadi menunggu Akila di kamar itu ikut merasakan kesedihan Akila.
__ADS_1
Suara ketukan pintu kini terdengar sebelum seseorang masuk ke kamar perawatan yang ditempati oleh Akila. Herlina tiba dan ingin menjenguk Akila yang karena kemarahan bu Desi terhadap nya, mengakibatkan Akila terkena siraman air keras itu.
"Akila, pak Zaki, maaf aku baru datang menjenguk Akila." ucap Herlina. Pak Zaki memberikan kursi untuk duduk Herlina. Herlina mengangkat kursi itu mendekati Akila yang saat ini sedang sakit dan berbaring di atas brankar nya. Herlina meraih tangan Akila dan mulai mengusap punggung tangan itu.
"Akila, aku minta maaf! Gara-gara aku, kamu menjadi seperti ini." kata Herlina. Akila masih diam. Tiba-tiba saja Akila menangis. Herlina menjadi bingung dan menatap Pak Zaki.
"Maaf, Akila! Aku tidak tahu kalau bu Desi membawa air keras itu dan berniat akan menyiramkan nya kepada aku." kata Herlina. Akila menatap sendu wajah Herlina.
__ADS_1
"A.. aku yang.. min.. ta.. maaf Her.. Li.. na!" sahut Akila terbata-bata. Bahkan air keras itu terkena sampai ke bagian bibirnya. Herlina semakin tidak tega melihat kondisi Akila.
"Tidak, akulah yang bersalah di sini." sahut Herlina. Akila memejamkan matanya. Dirinya masih belum sanggup menceritakan semuanya. Cukup lama Herlina menunggu di kamar itu sampai beberapa waktu mereka sama-sama diam. Akila masih sulit berbicara dengan kondisinya yang parah. Herlina benar-benar tidak menyangka jika dirinya selalu di serang oleh istri-istri yang cemburu terhadap nya. Padahal Herlina benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan pak Diandra.
"Akila, aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan pak Diandra. Kami hanya sebatas kerjaan kalau keluar dari kantor bertemu dengan klien. Aku pun juga tidak pernah melakukan hubungan badan dengan pak Diandra sebagai syarat supaya diterima di perusahaan itu. Sungguh!" ucap Herlina. Walaupun Herlina sendiri tidak tahu dengan siapa dirinya melakukan hubungan intim itu sebelum masuk dan bekerja di kantor itu. Namun Herlina berpikir dia melakukan itu bukan dengan pak Diandra. Walaupun memang benar, ada syarat khusus untuk nya supaya bisa diterima di perusahaan itu bahkan akan menjabat sebagai sekretaris dengan melakukan hubungan cinta satu malam dengan pria itu. Namun saat itu lampu di matikan dan Herlina ditutup kedua matanya. Herlina melakukan itu dengan mata ditutup. Namun bagi Herlina itu pengalaman nya yang benar-benar membuat dirinya ketagihan. Fantasi seperti itu tidak pernah Herlina lakukan dan itu pertama kalinya Herlina mempraktikkan nya.
Mungkin saja laki-laki itu tidak ingin diketahui identitasnya supaya Herlina tidak mengetahui siapa orang yang telah berkencan dengan dirinya.
__ADS_1