TERJERAT RAYUAN JANDA

TERJERAT RAYUAN JANDA
MENIKAHI ZENNI


__ADS_3

Setelah kepulangan Zaki, Anura datang bersama dengan Dewa. Saat ini Anura terlihat sedang menyuapi Herlina. Herlina terlihat masih sedih setelah kedatangan Zaki hari ini. Sedangkan Dewa saat ini sedang menunggu di ruangan tamu di temani oleh papa Herlina.


"Kamu kenapa sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Anura sambil menyuapi Herlina dengan puding coklat. Mulut Herlina membuka lebar menerima suapan dari Anura puding coklat itu.


"Zaki baru saja pulang. Tadi datang menjenguk aku, Anura!" ucap Herlina lirih. Mata Anura melebar.


"Oh iya? Zaki kemari?" sahut Anura. Herlina mengangguk pelan.


"Mau apa dia?" tanya Anura.


"Tidak ada! Dia bilang kalau kangen dengan aku," ucap Herlina dengan senyuman manisnya.


"Lalu?" sahut Anura.


"Dia akan menikah!" kata Herlina lagi.


"Katanya kangen tapi kok mau menikah sih? Menikah dengan siapa hem?" ucap Anura.


"Gadis pilihan orang tuanya." sahut Herlina. Anura diam sambil memperhatikan wajah Herlina.


"Aku tidak apa- apa kok Anura! Hanya saja aku masih melihat wajah sedih dalam diri Zaki," cerita Herlina.


"Sudahlah! Jangan memikirkan Zaki lagi! Kamu fokus untuk kesembuhan kamu saja yah, say! Kamu harus semangat!" kata Anura.


"Iya, aku masih memiliki sahabat seperti kamu. Aku akan lebih semangat lagi untuk sembuh!" kata Herlina.


"Nah begitu dong!" sahut Herlina.


"Oh iya, bagaimana dengan Dewa?" tanya Herlina ingin tahu.


"Dewa yah? Dia mengajak aku untuk menikah. Tapi aku masih belum yakin, kalau Dewa serius dengan aku. Kamu tahu sendiri bukan? Dewa adalah seorang aktor bagaimana pun dia selalu dikelilingi banyak wanita cantik. Sedangkan aku tipe perempuan yang tidak suka kekasihku dekat dengan wanita manapun," ujar Anura.


"Kamu kan juga aktris, kalian itu sebenarnya sama saja. Kalian dikelilingi oleh fans dan idola kalian. Masak soal begini saja kamu menjadi cemburu," kata Herlina.


"Gimana yah?" sahut Anura sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudahlah, terima saja lamaran Dewa. Kamu bisa menikah dengan Dewa. Daripada kamu masih terbayang-bayang dengan Sultan. Sultan itu walaupun sudah menikah dan memiliki istri, dalam hatinya masih berharap ingin kembali dengan kamu," kata Herlina.


"Lebih baik kamu menikah. Setidaknya ada laki-laki yang akan melindungi kamu. Akan menjadi teman kamu ketika malam-malam kamu dalam kedinginan, " ucap Herlina. Anura menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Bagaimana nanti saja, Herlina! Aku nikmati dulu masa berpacaran ini," ucap Anura.


"Oke, tapi jangan lama-lama yah! Aku juga ingin melihat kamu memiliki anak," kata Herlina.


"Apa? Itu masih jauh sekali Herlina! Menikah saja belum loh!" sahut Anura.


"Siapa tahu Dewa sudah ngebet duluan ingin punya anak dari kamu," goda Herlina. Anura tersenyum malu.


" Herlina, sekarang kamu istirahat saja dulu yah! Aku pamit dulu. Nanti kalau aku ada waktu luang lagi, aku akan kemari lagi," kata Anura. Herlina mengangguk pelan.


"Terimakasih banyak, Anura!" sahut Herlina. Anura tersenyum sambil keluar dari kamar Herlina.


@@@@@@@


Setelah menjenguk Herlina, Zaki kembali ke rumah kediaman mama papa nya. Setiba nya di sana masih ada Zenni. Akhirnya mama Zaki meminta untuk mengantarkan pulang Zenni ke rumahnya. Saat ini mama Zenni sedang dalam perjalanan ke kota ini.


"Rumah kamu yang mana, Zenni?" tanya Zaki. Saat ini Zaki memperlambat dalam mengemudikan mobilnya. Zenni yang saat ini duduk di samping Zaki mulai menunjukkan arah dan letak rumahnya. Zaki mengikuti instruktur yang Mery katakan.


" Rumah yang berpagar putih, itulah rumah aku, pak Han." kata Zenni. Zaki semakin memperlambat laju mobilnya dan mulai menepikan mobilnya setelah Zenni memberitahu kalau letak rumahnya tidak jauh lagi. Hingga beberapa saat Zaki menghentikan mobilnya di depan rumah dengan pagar putih sesuai petunjuk Zaki.


" Masuk dulu mas Zaki! " ajak Zenni.


" Ada apa Zenni?" tanya Zaki sambil bergegas turun dari mobilnya. Zenni diam dan memegangi kepalanya yang katanya kembali sakit dan berat. Mau tidak mau Zaki akhirnya menuntun Zenni masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di depan pintu rumahnya Zenni, Zenni mengeluarkan kunci rumahnya dan mulai membukakan pintu utama rumahnya yang terbilang cukup elegan. Keduanya masuk setelah pintu utama itu berhasil dibuka oleh Zenni. Zaki duduk di ruangan tengah.


" Kamu tinggal sendiri, Zenni?" tanya Zaki.


" Iya benar! Tidak ada siapapun di rumah ini. Hanya aku saja." jelas Zenni.


" Kamu minumlah obat sakit kepala, Zenni! Jangan sampai kamu kembali merasakan pusing lagi." kata Zaki.


" Iya, aku akan meminumnya. Oh iya, aku akan membuatkan kamu kopi dahulu." kata Zenni. Zaki diam sambil melihat beberapa lukisan yang terpanjang di dinding ruangan rumah Zenni.


Beberapa saat kemudian Zenni datang membawa kopi untuk Zaki. Zaki dengan cepat menghirup kopi itu lalu mulai menyeruput nya.


" Mantap! Kamu mulai pintar membuatkan kopi yang sesuai seleraku. Oh iya, apakah kamu sudah minum obatnya?" kata Zaki. Zenni mengangguk pelan.


" Sudah mas Zaki!" sahut Zenni. Kini Zaki menyalakan rokok nya.


" Apakah kamu sering sakit kepala?" tanya Zaki. Dia tidak ingin kembali kecolongan seperti saat berpacaran dengan Herlina. Pada akhirnya Herlina mengidap penyakit kronis.

__ADS_1


" Tidak sering tetapi kalau lagi kecapean saja mas." sahut Zenni.


" Oh, mungkin saja kamu kecapean. Maaf tadi aku membuat kamu menangis," ucap Zaki seraya kembali meminum kopinya disertai menghisap dan mengeluarkan asap tembakau nya. Zenni tersenyum menyeringai.


" Tidak mas Zaki! Mungkin ini salah aku. Kejadian hari itu memaksa kita untuk menikah. Padahal Aku tahu kalau mas Zaki tidak mencintai aku," jelas Zenni.


"Kita sama-sama bersalah. Kita sudah terlena dalam situasi yang membuat kita tidak bisa menolak lagi. Apalagi kita adalah laki-laki dan wanita dewasa yang sudah sepantasnya menikah," ujar Zaki.


"Oke, Zenni! Aku pulang dulu yah! Oh ya aku sampai lupa, katanya kedua orang tua kamu sedang perjalanan ke kota ini. Nanti hubungi aku agar kau bisa menjemputnya," ucap Zaki. Zenni tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. Zaki kembali mendudukkan pantatnya kembali yang tadinya sudah berdiri hendak pamit pulang.


"Mungkin pagi hari nanti baru tiba, papa mama aku, mas!" kata Zenni.


"Oh baiklah!" sahut Zaki. Zaki tiba-tiba memijit pelipis nya sendiri.


" Ada apa mas Han?" tanya Zenni. Zaki tetap memijit pelipis nya.


" Tiba-tiba kepalaku kok menjadi berat yah?" kata Zaki.


Zenni mendekati Zaki dan berusaha membantu meringankan keluhan dan sakit kepala yang dirasakan oleh Zaki. Zenni memijit kepala Zaki tanpa memprotes tindakan Zenni yang berusaha membantu Zaki, Zaki diam karena masih merasakan berat di kepalanya. Zenni meletakkan kepala Zaki di bantal kecil sofa rumah itu. Zaki memejamkan matanya karena masih merasakan berat kepalanya. Keringat dingin mulai keluar di seluruh tubuhnya. Zaki merasakan tidak nyaman dalam tubuh nya.


" Panas sekali. Bolehkah aku membuka jas dan kemeja aku, Zenni? Maaf, panas sekali yang aku rasakan tiba-tiba." kata Zaki. Zenni membantu melepaskan semua pakaian bagian atas yang dikenakan oleh Zaki. Zaki menatap ke arah Zenni dan melihat gerak- gerik Zenni yang membantu dirinya mengusap keringatnya yang keluar di dahinya.


" Zenni, apakah kamu memberikan obat ke dalam kopi yang telah aku minum tadi?" tuduh Zaki. Zenni seketika memucat dan terkejut. Zaki bisa menuduhnya seperti itu.


" Ti.. ti.. tidak Mas Zaki! Eh maaf, obat apa yang kamu maksudkan? Aku tidak mengerti." kata Zenni berusaha mengelak nya.


" Aku tidak bodoh Zenni! Ini kan yang kamu berikan ketika malam itu? Sehingga kamu bisa bermain dengan aku?" ucap Zaki sambil meringis merasakan suhu tubuhnya mulai memanas.


Zaki sudah bertelanjang dada. Karena puncak suhu panasnya sudah tidak bisa ditahan lagi oleh Zaki. Akhirnya celana panjangnya pun ikut dilepas dari sana. Kini hanya menyisakan celana bo xer di sana. Zenni menelan ludah nya melihat pemandangan yang membuat dirinya penasaran itu. Zenni sesaat berdiri mematung melihat Zaki yang berbaring dan mulai menahan sesuatu yang mulai bergejolak dan membuncah yang ia rasakan. Zenni akhirnya mulai bertindak. Zaki seketika membulat matanya dengan apa yang telah dilihat nya. Zenni mulai melepas semua yang dikenakannya.


" Jadi? Apakah ini yang kamu inginkan, Zenni?" tuduh Zaki lagi. Zenni tidak mengindahkan ucapan Zaki. Zenni kini mulai menundukkan kepala nya dan mulai memainkan bagian pribadi milik Zaki yang sudah mengeras, menegang.


Sesaat tidak ada penolakan dari Zaki karena dirinya benar-benar sudah diujung dan sangat membutuhkan pertolongan itu. Hendak lari pun Zaki sudah tidak ada kemauan lagi karena Zenni melakukannya dengan sangat lembut dan hati- hati. Dalam benak Zaki hanya berucap, meminta maaf kepada Herlina.


"Herlina, lakukan itu untuk aku Herlina. Tolong aku! Aku butuh kamu! Bukan kamu Zenni! Zenni Hentikan Zenni!" Zaki mengoceh tak karuan.


" Mulut kamu berkata tidak menginginkan ini dengan aku, mas Zaki. Namun dalam kenyataannya, tubuh kamu menerimanya dengan senang hati. Dasar munafik kamu mas Zaki! " kata Zenni. Zenni kini mulai memainkan bibir Zaki. Awalnya Zaki menolaknya namun pada akhirnya mereka saling balas. Zenni tertawa dengan reaksi Zaki yang mulai. membalikkan keadaan. Zaki mulai mendominasi permainan. Dirinya seperti cacing kepanasan dan sangat haus dan kehausan.


"Zenni! Kenapa kau tidak sabaran menunggu sampai kita menikah?" bisik Zaki. Dia sangat tahu kalau saat ini dia sedang mengungkung Zenni. Namun dalam imajinasinya dia ingin melakukan nya dengan Herlina.

__ADS_1


"Sekarang atau nanti, sama saja bukan? Aku hanya ingin kamu menemani aku malam ini, mas," bisik Zenni sambil menggigit bibir bawahnya.


__ADS_2