TERJERAT RAYUAN JANDA

TERJERAT RAYUAN JANDA
MENYELIDIKI


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah kediaman orang tua Zaki, Herlina seperti ragu untuk masuk. Herlina masih berdiri di depan pintu utama rumah itu. Zaki kembali mendekati Herlina.


"Kenapa sayang? Ayo masuk!" ucap Zaki.


"Eh, iya!" sahut Herlina yang akhirnya mengikuti Zaki yang saat ini tangannya masih saja digenggaman nya.


Di ruangan keluarga sudah duduk kedua orang tua Zaki dan saudara-saudaranya yang lain. Kini semuanya saling bersalaman. Setelah itu menghambur ke kamarnya masing-masing hingga menyisakan mama dan papa Zaki yang masih duduk di kursi sofa ruangan keluarga tersebut. Zaki dan Herlina juga masih duduk di sana.


"Kalau begitu, ayo kita makan bersama yuk!" ajak mama Zaki.


"Ayolah! Ayo Zaki ajak calon istri kamu makan bersama kita," sahut papa Zaki. Zaki mengajak Herlina yang saat di rumahnya terlihat diam tidak banyak bicara.


Saat di meja makan, mama Zaki memperhatikan Herlina yang terlihat memucat wajahnya. Mama Zaki menjadi ingin bertanya.


"Kamu sakit yah, nak?" tanya mama Zaki kepada Herlina. Zaki akhirnya ikut memperhatikan wajah Herlina yang saat ini sedikit lesu dan pucat.


"Tidak mama! Saya hanya sedikit letih saja," sahut Herlina. Zaki kini menyentuh kening Herlina.


"Tidak demam dan panas kok," ucap Zaki setelah itu Zaki tersenyum.


"Paling Herlina lapar ma!" ucap Zaki.


"Owalah! Ya sudah! Ayo kita makan! Ini tadi yang masak mama, Herlina! Kamu harus mencicipi nya," kata Mama Zaki.


"Calon istri kamu ini pemalu yah, Zaki! Jadi kamu bisa mengambilkan makanan untuk dia," sahut papa Zaki.

__ADS_1


"Eh, tidak kok pa! Biar mas, aku bisa ambil sendiri kok! Kamu mau apa mas, biar aku ambilkan," kata Herlina.


"Hem, rendang buatan mama dengan sayur capcay saja," sahut Zaki manja. Papa Zaki memperhatikan Zaki yang mulai kumat manjanya.


"Wallah! Biasanya mengambil makanan sendiri kok! Manja banget sih kamu, Zaki!" protes papa Zaki.


" Namanya sudah punya istri, jadi manja dong papa!" sahut mama Zaki.


"Jadi istrinya belum loh, ini sudah manja banget anak kita ma!" ucap papa Zaki. Zaki tersenyum saja tidak menghiraukan ucapan papa nya.


"Ini mas, dihabiskan yah mas!" kata Herlina sambil menyodorkan piring yang sudah diisi dengan nasi dan lauknya. Zaki mulai menyantap makanan itu demikian juga dengan Herlina.


"Persiapan pesta pernikahan, sudah beres kan ma?" tanya Zaki memastikan.


"Tentu dong! Sembilan puluh sembilan persen sudah beres dan aman," sahut mama Zaki.


"Zaki, ikut papa sebentar yuk! Papa ada sesuatu untuk kamu," ajak papa Zaki.


"Ada apa pa?" tanya Zaki namun akhirnya mengikuti dari belakang langkah papanya yang mengajaknya mengobrol ke depan teras. Rupanya papa Zaki mengajak Zaki menikmati rokok bersama sambil meminum kopi di depan teras. Sedangkan saat ini, Herlina mulai mengobrol sendiri dengan mama Zaki.


"Oh iya, Herlina! Mama akan mengambilkan puding untuk kamu, yah! Mama tadi juga membuat puding. Kamu harus mencoba nya," ucap Mama Zaki sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke dapur mengambil puding buatannya.


"Iya, mama!" sahut Herlina. Herlina lalu teringat kalau malam ini dirinya harus meminum obat. Herlina segera mengeluarkan obatnya dan mulai mengambil air putih untuk meminumnya.


"Untung saja mama ke belakang, jadi aku bisa meminum obatnya," pikir Herlina. Namun tiba-tiba saja mama Zaki sudah tiba di dekatnya.

__ADS_1


"Halo Herlina! Eh kamu minum obat apa sayang? Kamu sakit yah?" ucap mama Zaki mulai rempong.


"Eh, mama! Anu mah ini obat sakit kepala. Saya harus minum obat ini ma," ucap Herlina mulai gugup. Mama Zaki mengerutkan dahinya.


"Kamu pusing yah? Ya sudah, setelah makan puding ini kamu bisa beristirahat yah, sayang! Sebentar lagi, kamu kan mau menikah dengan Zaki. Kamu harus sehat dan tidak boleh sakit. Oke?" ucap mama Zaki sambil memberikan puding buatannya kepada Herlina.


"Iya, mama! Saya akan sehat terus sampai pernikahan itu tiba," sahut Herlina.


"Sehat terus yah sayang! Tidak hanya sampai pernikahan berlangsung," ucap mama Zaki. Kini mama Zaki semakin memperhatikan Herlina yang terlihat memucat wajahnya. Badannya seperti kurang bersemangat.


"Sebenarnya Herlina ini sakit apa sih? Jangan-jangan Herlina memiliki penyakit yang serius. Aku akan bertanya dengan Zaki setelah ini atau aku akan menyelidiki nya sendiri," pikir mama Zaki.


@@@@@@@@


Malam semakin larut, Zaki mengantarkan Herlina kembali ke rumah mama papa nya. Herlina sekarang tidak tinggal lagi bersama Anura. Zaki selalu menjemput dan mengantar Herlina pulang ke rumahnya. Padahal jarak rumah tinggal orang tua Herlina cukup jauh daripada apartemen maupun rumah Herlina sendiri. Rumah Herlina sendiri sudah dijual dan pembelinya adalah Sultan, mantan suami Anura. Uang dari penjualan rumah Herlina untuk biasa berobat Herlina. Masalah penyakit Herlina, masih dia rahasia kan pada Zaki. Saat ini hanya Anura lah yang mengetahui penyakit yang dideritanya.


Mama Zaki diam-diam menyelidiki penyakit yang diderita oleh Herlina. Beberapa hari ini mama Zaki memang menyuruh seseorang untuk menyelidiki pergerakan dan gerak-gerik Herlina. Dan kebetulan saja, hari Kamis itu Herlina kembali memeriksakan dirinya yang ditemani oleh Anura. Sehingga ketika Herlina sedang memeriksakan dirinya itu diketahui oleh seseorang yang mengikuti Herlina.


"Kenapa calon istri mas Zaki memeriksakan dirinya di dokter spesialis onkologi ginekologi? Sebenarnya calon istri mas Zaki sakit apa sih? Aku akan menyampaikan kepada ibu. Ibu mungkin saja mengetahui dokter apa itu," gumam seseorang yang mengikuti Herlina dan juga Anura yang masuk ke dalam ruang praktek dokter tersebut.


Kini orang suruhan mama Zaki yang ditugaskan untuk mengikuti Herlina dalam segala gerak-geriknya untuk melaporkan nya pada mama Zaki, kini mulai menghubungi mama Zaki melalui ponsel nya.


"Iya bu! Halo! Ini saya Tarjo! Mbak Herlina calon istri nya mas Zaki saat ini masuk ke ruangan praktek dokter spesialis onkolog ginekologi, bu," ucap laki-laki suruhan itu yang bernama Tarjo.


"Apa? Dokter spesialis onkolog ginekologi?" sahut mama Zaki. Tanpa basa-basi mama Zaki segera memutus sambungan itu.

__ADS_1


"Eh ya ampun langsung dimatiin," omel Tarjo.


Tarjo masih di tempat itu, sesekali dia mengambil foto dari jarak jauh Herlina yang sedang di ruangan dokter tersebut bersama dengan temannya.


__ADS_2