
Bu Desi mengajak Akila menemui Herlina di ruangan nya. Di sana juga masih ada pak Zaki. Dengan amarah yang menggelegar, Bu Desi berjalan dengan langkah yang lebar. Sehingga Akila sudah jauh dari Bu Desi. Akila tentu saja takut jika semua itu karena siasat dan ulahnya yang mengadu domba. Akila berencana sembunyi dari masalah itu. Akila punya ide lain hendak mengadukan semuanya kepada pak Diandra supaya Bu Desi kena marah oleh suaminya lantaran main hakim sendiri dan juga bersikap brutal.
Akila diam- diam menuju ke ruangan kerja pak Diandra dan mengadukan masalah itu pada Pak Diandra. Tentu saja, Akila akan mengarang lagi cerita kalau Bu Desi telah memperlakukan Herlina semena- mena lantaran cemburu buta. Di samping Herlina memiliki kecantikan melebihi Bu Desi.
Kembali ke Bu Desi. Bu Desi kini sudah berada di ruangan Herlina. Serta merta Bu Desi tanpa berucap dan meminta penjelasan dan kebenaran dari Herlina langsung bertindak dan main hakim sendiri. Herlina yang saat itu sedang sibuk di depan laptopnya dan fokus dengan laporan- laporan keuangan dan kegiatan bulan kemarin langsung mendapatkan perlakuan kasar dari Bu Desi.
Tiba- tiba Bu Desi menarik rambut Herlina yang ala cowok itu. Sontak Herlina terkejut dan membulat matanya. Herlina tentu saja kesakitan lantaran rambutnya yang sudah pendek di tarik dari atas oleh Bu Desi. Pak Zaki tentu sangat terkejut dengan sikap bar- bar dari istri seorang direktur utama perusahaan ternama itu. Pak Zaki ingin melerai dan mengendalikan emosi Bu Desi, namun Bu Desi sudah duluan membuat Herlina jatuh tersungkur di lantai.
" Kau wanita binal dan murahan! Kau wanita rendahan suka menggoda suami orang dan bahkan tidur dengan nya. Puas kamu, sudah bisa tidur bersama suami aku, hah?" ucap Bu Desi tanpa filter. Sontak Pak Zaki terkejut dengan omongan kasar dari Bu Desi.
__ADS_1
" Saya tidak melakukan itu Bu Desi. Sungguh!" ucap Herlina lalu mulai berdiri dari lantai lantaran tindakan kasar dari Bu Desi.
" Halah! Mana ada maling mengaku, hah? Kau sudah naik ke ranjang suami aku untuk mendapatkan pekerjaan ini sebagai sekretaris bukan? Memalukan!" ucap Bu Desi yang kini sudah kembali mendekati Herlina dan mulai menamparnya. Pipi Herlina mulai memerah. Pak Zaki berusaha melerai dan mengendalikan emosi dari Bu Desi namun sikap bar- bar Bu Desi sulit untuk dikendalikan. Sampai akhirnya Pak Diandra datang bersama dengan Akila.
" Cukup Desi! Apa yang kamu lakukan?" ucap Pak Diandra penuh dengan kemarahan.
" Kamu mas! Ini wanita yang sudah kamu tiduri, bahkan kau membelanya! Pecat dia atau aku minta cerai!" ancam Bu Desi. Pak Diandra sontak melebar matanya. Pak Diandra sungguh merasa malu atas peristiwa itu.
" Kamu pun masih membela wanita itu dari pada aku. Herlina, hebat kamu yah!" ucap Bu Desi lalu mendekati Herlina. Pak Diandra ingin menenangkan istrinya itu dengan memeluk Bu Desi dari belakang. Sedangkan Akila ada di belakang Herlina dalam hati tertawa senang melihat peristiwa dan kekacauan itu.
__ADS_1
Bu Desi sudah membuka botol kecil itu. Dengan cepat menyiramkan ke arah Herlina. Pak Diandra berusaha melemparkan botol yang dibawa Bu Desi itu supaya tidak mengenai Herlina. Ditampiknya tangan kanan yang membawa botol yang berisi air keras itu hingga terlempar jauh dari Herlina. Namun naas isi cairan dalam botol itu terkena wajah Akila. Sehingga Akila merasakan kesakitan dan wajahnya mulai melepuh.
" Akhhh, Tolong! Akhh sakitt!" teriak Akila. Sontak Pak Zaki, Pak Diandra, Bu Desi dan juga Herlina sangat terkejut.. Ternyata botol yang di siramkan oleh Bu Desi adalah air keras.
" Desi! Kau keterlaluan! Aku cerai kamu sekarang juga!" ucap Pak Diandra dengan kemarahan nya.
" Zaki! Panggil tim medis segera ke sini! Dan tolong Akila segera!" tambah Pak Diandra.
" Baik Pak!" sahut Zaki segera menolong Bu Akila. Akila kini merasakan kesakitan sangat hebat. Herlina benar-benar terkejut melihat kejadian itu. Jika semuanya terkena pada dirinya, pasti wajahnya akan hancur seperti Akila.
__ADS_1
" Mas, aku tidak mau bercerai dengan kamu mas!" rengek Bu Desi. Namun Pak Diandra sudah sangat malu dengan sikap dan tingkah laku bar- bar Bu Desi saat di kantor. Pak Diandra meninggalkan ruangan itu dan pergi meninggalkan kantor itu. Sedangkan Bu Desi mengejar Pak Diandra yang dengan cepat meluncur dengan mobilnya.