
Satu minggu telah berlalu. kini pernikahan Zaki dengan Herlina benar-benar gagal. Zaki benar-benar dalam kondisi terpuruk. Dia sangat sedih telah gagal menikahi Herlina. Di tambah dengan kondisi Herlina saat ini semakin melemah. Walaupun Herlina saat ini sudah diperbolehkan berobat jalan dan kembali ke rumah. Namun beberapa hari sekali dokter akan memeriksa keadaan Herlina.
Herlina saat ini tinggal di kediaman orang tuanya. Rumahnya yang dulu telah Herlina jual untuk biaya pengobatan nya. Anura pun juga ikut membantu biaya pengobatan Anura. Bahkan Anura sampai menggalang dana di sekitar teman-teman artis. Sultan pun menyarankan jika Anura butuh bantuan supaya bilang dengannya. Namun tentu saja Anura tidak ingin meminta dengan Sultan. Sultan adalah mantan suami nya dan telah menikah lagi dengan Tinira. Anura tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Walaupun rumah tangganya dahulu pernah di rusak oleh wanita lain yang sekarang ini telah menggantikan kedudukan nya sebagai seorang istri bagi Sultan.
Herlina berbaring di atas tempat tidurnya. Di sebelahnya ada Anura yang baru saja datang bersama teman nya yaitu Dewa. Dewa adalah teman di lingkungan artis. Dewa salah satu aktor di dunia akting. Dewa berstatus lajang dan belum pernah menikah. Namun saat ini Dewa dan Anura telah dekat tetapi tidak berpacaran.
"Kamu dengan siapa datang kemari, Anura?" tanya Herlina.
"Dengan Dewa!" sahut Anura singkat sambil duduk di dekat Herlina. Herlina mengernyitkan dahinya.
"Dewa? Pacar kamu?" sahut Herlina.
"Tidak! Anura menggeleng cepat.
Herlina tersenyum dan melihat ke arah Dewa yang saat ini duduk di dekat mama papa nya di ruangan tamu. Saat ini memang Herlina di atas tempat tidur yang sengaja di letakkan di ruang keluarga supaya Herlina tidak hanya di dalam kamarnya saja. Melainkan pindah-pindah tempat. Di ruang keluarga itu, bisa melihat ke arah ruangan tamu.
"Kelihatannya dia menyukaimu, Anura! Dia tampan dan juga bagus badannya," ucap Herlina sambil tersenyum menggoda Anura.
"Itu sangat wajar, Herlina! Dewa adalah seorang artis. Dan Aktor seperti dia itu selalu perawatan. Kalau tidak perawatan, Dewa itu aslinya jelek!" ucap Anura pelan. Herlina seketika cekikikan. Anura melihat Herlina yang tertawa, menjadi sangat bahagia.
"Aku senang melihat kamu tertawa, Herlina," ucap Anura sambil meraih pergelangan tangan Herlina.
"Aku bahagia memiliki sahabat seperti kamu, Anura! Kamu baik, cantik dan ramah,"kata Herlina.
" Aku juga seorang aktris sekarang ini, sayang! Aku tentu saja cantik. Bagaimana pun juga aku harus perawatan. Karena wajah dan juga semua penampilan aku adalah modal utama untuk mendukung karir aku juga," ucap Anura.
"Anura, tapi benar loh! Lihat lah Dewa sangat manis sekali kalau tersenyum. Kenapa kamu tidak mencoba membuka hati kamu kepada laki-laki itu? Kurang apa coba? Dia aktor senior tentu bayaran nya sudah gedhe bukan? Selain itu ganteng dan juga aku lihat penyayang," nilai Herlina.
__ADS_1
"Malas ah! Dia itu yang menyukai banyak! Aku tidak mau makan hati dengan semua itu!" sahut Anura.
"Kamu juga yang menyukai banyak! Kalian sama-sama aktor dan aktris. Jika kalian saling mencintai dan saling percaya semua tidak akan rumit," kata Herlina.
"Ogah ah! Malas punya suami tampan seperti Dewa. Yang ada aku selalu khawatir. Takut diganggu oleh wanita pelakor yang berusaha merusak rumah tangga orang," ucap Anura.
"Itu seperti aku dulu yah!" sahut Herlina sambil menjulurkan lidahnya. Herlina tersenyum saja.
"Mungkin ini adalah hukuman bagi aku, Anura. Sekarang ini aku sakit-sakitan. Bahkan aku saat ini telah ditinggal kekasih aku. Yang tinggal satu langkah lagi aku akan mendapatkan kebahagiaan itu dengan Zaki, ternyata aku jatuh sakit. Aku gagal menikah dan akhirnya sampai sekarang tidak ada kejelasan. Betapa malangnya nasib aku sekarang ini, Anura. Bahkan satu minggu ini, Zaki sudah tidak datang lagi ke rumah ini," ucap Herlina dengan mata yang berkaca.
"Kamu yang sabar yah, Herlina! Anggap semuanya adalah ujian hidup kamu, sayang! Tuhan lebih menyayangi kamu," ujar Anura.
"Tampaknya Zaki sudah mulai ingin melupakan aku, Anura! Aku sangat yakin itu. Aku sudah tidak secantik dulu. Bahkan badanku sudah kurus kering. Aku lemah tidak berdaya," ucap Herlina terde putus asa.
"Herlina! Kamu yang sabar yah!" sahut Anura. Hanya itu kalimat yang sering diucapkan oleh Anura kepada Herlina.
"Iya, aku anggap ini adalah penebusan dosa dari masa lalu ku yang kelam," ucap Herlina.
@@@@@@@
"Wajah kalian mirip loh!" ucap Herlina. Dewa dan Anura tersenyum saja mendengar penilaian dari Herlina.
"Benarkan Anura, semua orang juga berkata demikian ketika sudah melihat kita berdua. Berarti kita berjodoh, Anura," sahut Dewa. Herlina tersenyum ketika Dewa selalu menggoda Anura. Anura hanya menjulurkan lidahnya.
"Hayo hati-hati loh Anura! Jika kamu membenci Dewa, kamu akan jatuh cinta dengan Dewa," goda Herlina. Anura semakin manyun bibirnya. Dewa terkekeh saja melihat wanita di dekatnya selalu imut dimatanya.
"Oh iya, Herlina! Aku ijin membawa Anura pulang yah! Aku juga ada urusan dengan keluarga aku. Aku harus mengantar Anura kembali ke apartemen ya terlebih dahulu," kata Dewa.
__ADS_1
"Baiklah! Hati-hati di jalan yah! Dewa titip sahabat aku yah! Kamu jangan nakal dengan Anura," pesan Herlina sambil mengedipkan matanya.
" Tidak kok!" sahut Dewa sambil nyengir kuda. Keduanya pamit dengan papa mama Herlina dan saudara-saudara Herlina yang lain. Dewa dan Anura meninggalkan rumah kediaman mama papa Herlina dengan mobil pribadi Dewa.
@@@@@@@
Di dalam mobil.
Dewa tersenyum sendiri mendapati Anura yang cemberut dan marah pada dirinya tanpa alasan. Dewa tahu kalau Anura tidak suka kalau dijodoh-jodohkan seperti tadi.
Sampai di dekat bangunan megah dan bertingkat itu, mobil Dewa berhenti di pinggir jalan. Anura mulai membuka pintu mobil Dewa. Namun masih di kunci oleh Dewa sehingga Anura tidak bisa turun dari mobil itu.
"Sudah sampai, aku harus turun!" ucap Anura sedikit sewot.
"Ya sudah, turun saja!" sahut Dewa sambil cengegesan.
"Dewa, kamu masih mengunci semua pintunya. Ayolah!" ucap Anura.
"Siapa bilang? Bentar aku bukakan pintunya yah!" ucap Dewa sembari mendekati tempat duduk Anura untuk membuka pintu samping mobil itu. Aroma parfum maskulin kini menusuk hidung Anura. Anura sedikit menghindar ke belakang supaya jarak antara Dewa dengan dirinya tidak terlalu rapat. Namun Dewa sangat sengaja berlama-lama di dekat wajah Anura. Kini kedua mata mereka beradu dan tidak ada untaian kata yang keluar dari bibir keduanya.
Saat Dewa ingin mengecup bibir merah Anura. Anura menutup nya dengan telapak tangannya.
"Dewa!" ucap Anura berusaha menolaknya.
"Eh, maaf!" sahut Dewa akhirnya menjauh dari Anura dan membenarkan posisi duduk nya. Dewa membuka kunci pintu mobilnya dan tanpa kata Anura turun dari mobil Dewa. Dewa sedikit ada kecewa di raut wajahnya. Dia sudah ditolak secara terang-terangan oleh Anura.
"Terimakasih banyak, Dewa!" ucap Anura tanpa menghiraukan Dewa, Anura melangkah menuju aparat nya.
__ADS_1
Dewa menghela nafasnya dalam- dalam dan membuangnya kasar.
"Hanya menciumnya saja rasanya sangat sulit, Sebenarnya Anura menyukai aku apa tidak sih?" gumam Dewa.