
Status baru sebagai seorang janda yang tidak memiliki anak ketika tinggal di pinggiran kota, maupun tinggal di komplek pemukiman penduduk serta Perumahan, akan menimbulkan keresahan bagi istri-istri terhadap suaminya. Betapa status janda sendiri itu menjadi bahan pergunjingan ibu- ibu muda jika seseorang janda akan bersikap ramah dan pandai bergaul. Hal itu terkadang dinilai oleh ibu- ibu muda, kalau janda tersebut kecentilan atau genit. Apa yang dilakukannya selalu salah dimata mereka.
Namun berbeda dengan Anura yang tinggal di apartemen yang masing-masing individu cuek dan masa bodoh dengan urusan orang lain. Tidak ingin ikut campur terhadap privasi orang lain.
Setelah keputusan pengadilan negeri agama, memutuskan bahwa keduanya antara Sultan dan Anura telah resmi bercerai dan bukan pasangan suami istri itu, keduanya saling berjabat tangan. Sultan mengulurkan tangannya bersalaman dengan Anura.
" Anura! Boleh minta waktu nya sebentar saja?" ucap Sultan seraya melepaskan salaman tangannya dengan Anura. Anura mengernyit dahinya.
" Ada apa? Bukannya semuanya sudah beres? Dan aku tidak menuntut lebih dari gono gini itu. Lagi pula selama aku menikah dengan kamu, aku sudah cukup diberikan kesejahteraan dan kemewahan. Ditambah lagi, aku hanya berdiam diri tidak ikut bekerja mencari uang." kata Anura panjang lebar. Sultan tersenyum dan dengan sabar masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh Anura.
" Hanya untuk mengajak kamu makan siang bersama saja. Setidaknya mungkin ini terakhir kalinya kita akan makan bersama-sama setelah perpisahan ini." ucap Sultan. Anura terdiam seolah memikirkan dan mempertimbangkan hal yang lain.
" Kali ini saja, Anura!" ucap Sultan kembali.
" Baiklah!" sahut Anura. Sultan tersenyum senang.
" Ikut bersama dengan ku! Kita satu mobil yang sama." desak Sultan. Anura mengernyit dahinya.
" Bagaimana dengan mobil aku?" tanya Anura.
" Setelah kita makan siang bersama-sama, aku akan mengantarkan kamu ke tempat ini lagi. Atau biar sopir aku yang membawakan mobil kamu. Bagaimana?" sahut Sultan. Anura menyetujuinya. Keduanya satu mobil yang sama milik Sultan.
Selama perjalanan menuju ke resto ataupun rumah makan yang hendak dituju oleh mereka, tidak banyak pembicaraan diantara mereka. Ini aneh! Keduanya menjadi merasa sungkan dan canggung.
" Dua bulan dari sekarang, aku akan menikah dengan Tinira! Aku... aku minta ijin kepadamu, Anura." kata Sultan.
" Kenapa minta ijin ke aku? Kita sudah tidak terikat satu dengan yang lain lagi. Lagi pula jika aku tidak mengijinkan kamu menikah dengan Tinira, apakah kamu mau mengikuti semua kata- kataku? Tidak kan?" sahut Anura sambil menatap ke depan jalanan. Sultan tersenyum sinis.
" Baiklah, aku ralat. Aku mengundang kamu supaya menghadiri acara pernikahan aku dengan Tinira. Itu aku anggap sebagai restu dan doa dari kamu, Anura. Supaya aku dengan Anura bisa langgeng tidak seperti kita." kata Sultan. Anura menoleh ke sampingnya. Menatap laki-laki di sebelah nya itu dengan pandangan yang seperti tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan nya. Anura akhirnya menarik nafas panjang dan tidak terpancing emosi. Toh dirinya dengan Sultan sudah bercerai, untuk apa mengungkit perselingkuhan dan perzinaan di malam itu bersama dengan Tinira.
__ADS_1
" Maafkan aku, Anura!" Sultan akhirnya mengucapkan kata-kata itu.
" Sudahlah, Mas Sultan! Kita bukanlah malaikat yang bisa terbebas dari dosa dan pengkhianatan. Aku dan kamu masih manusia yang ada keinginan besar dalam diri kita. Kita sudah saling memaafkan. Semoga kita menikmati kehidupan kita masing-masing." ucap Anura. Sultan masih menyimak dengan seksama walaupun mobil itu sudah masuk ke rumah makan yang cukup mewah dan luas.
@@@@@@@
Anura dan Sultan menikmati makan siang itu dengan hati yang plong. Keduanya tidak ada dendam dan amarah walaupun mereka sudah resmi bercerai dan bukanlah pasangan suami istri lagi.
" Setelah ini, apa rencana kamu Anura?" tanya Sultan kepada Anura. Anura masih menikmati menu penutup makan siang itu, vla puding coklat. Betapa Anura menyukai menu itu, dan Anura sangat bersemangat menghabiskannya. Hingga saos puding itupun ada yang menempel di sebelah pipi kanan Anura. Sultan tersenyum kecil. Sultan spontan saja mengusapnya dengan tisu. Anura kembali menatap heran dengan Sultan. Perlakuan manis dan perhatian Sultan seperti inilah yang akan sulit dilupakan oleh Anura. Anura cepat- cepat mengusir jauh pergi pikiran yang membuatnya bersedih karena mengingat kenangan manis ketika bersama dengan laki-laki yang di depannya dan bukanlah menjadi suaminya lagi.
" Eh hem, tadi kamu bertanya apa mas?" tanya Anura berusaha membuat suasana seperti biasa kembali.
"Setelah ini apa rencana kamu, Anura?" Sultan mengulangi pertanyaan yang tadi dilonggarkan kepada Anura.
" Oh itu yah?? Aku ingin mencari kerjaan, mas!" jawab Anura. Sultan mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? Apakah deposit dan tabungan yang aku berikan kepadamu sudah lebih dari cukup?" tanya Sultan.
" Ikutlah kerja bersama dengan aku, Anura!" kata Sultan. Anura seketika terkekeh.
" Kenapa? Perusahaan keluarga Wisesa cukup besar dan memiliki anak cabang-cabang di tiap kota. Kamu ingin bekerja di bidang apa, perusahaan keluarga Wisesa memiliki semuanya. Bahkan rumah produksi hiburan, ada di dalamnya. Kamu ingin kerja di bidang apa, Anura? Biar aku membantu kamu." kata Sultan bersemangat.
" Entahlah! Yang pasti aku tidak akan bekerja di perusahaan milik keluarga Wisesa. Ini untuk mencegah permasalahan baru dengan Bu Subangun dan Tinira." kata Anura. Kembali Sultan bersedih.
" Jika saja malam. itu tidak terjadi kejadian konyol di kamar itu, mungkin saja perceraian ini tidak akan terjadi. Padahal aku berniat untuk membawamu ke luar negeri dan menjauh dari permasalahan keluarga besar ku yang mendesak kita supaya kita segera mendapatkan momongan. Tapi kejadian itu sudah terjadi, dan aku sudah melakukan kesalahan itu." ucap Sultan.
" Sudahlah mas! Ini jalan yang terbaik buat kita bukan? Walaupun kita sudah bukan lagi suami istri, namun kita akan tetap baik dan tidak saling dendam." sahut Anura.
" Apakah setelah ini kamu akan cepat- cepat mencari pengganti aku, Anura?" tanya Sultan. Anura kembali terkekeh mendengar nya.
__ADS_1
" Kenapa?" tanya Anura.
" Aku tidak akan sanggup jika membiarkan kamu bersama dengan pria lain." jawab Sultan dengan egoisnya.
" Nyatanya kamu pun sudah dengan wanita lain, bahkan kamu sangat menikmati nya bukan?" tuduh Anura. Sultan kalah telak.
" Maaf! Semuanya diluar kesadaran aku." sahut Sultan. Anura hanya tersenyum sinis mendengar nya.
" Aku tidak yakin jika kamu sanggup menolak Tinira. Dua buah perhiasan Tinira dua kali. lebih besar dari punya aku. Kamu pasti akan lebih menyukainya dan memainkan nya." ucap Anura vulgar. Sultan kini tertawa terbahak- bahak.
" Jadi benar bukan? Laki-laki dimana saja sama saja, mas!"sahut Anura. Sultan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Tidak Anura! Kamu salah menilai aku! Aku pastikan suatu saat nanti, kita akan kembali bersama lagi." tantang Sultan.
" Tidak akan! Aku akan selalu menjauh dari kamu, mas! Segala jalan yang akan mendekatkan kepada mu harus aku hindari." sahut Anura. Sultan memicingkan matanya.
Setelah pertemuan makan siang itu, Sultan dan Anura benar-benar menjalani kehidupan masing-masing. Anura ingin menjauh dari keluarga Wisesa, terutama Tinira. Anura ingin hidup tenang dan tidak ingin diganggu oleh mereka. Anura akan membuktikan jika tanpa mereka, Anura masih bisa berdiri sendiri.
@@@@@@@
Minuman beralkohol itu habis ditenggak oleh Sultan. Sultan saat ini dalam kegelisahan karena acara pernikahan nya, esok hari akan di gelar. Setelah perceraian nya dengan Anura, kehidupan Sultan menjadi kacau. Kacau dalam artian dirinya menjadi suka minum dan kembali bergaul dengan teman- temannya yang dulu. Tidak ada yang kurang dalam diri Sultan. Semuanya telah Sultan miliki dari harta maupun kedudukan. Hanya saat ini yang dia rasakan adalah rasa kehilangan. Sultan merasa kehilangan sosok yang membuat hatinya hangat ketika dekat dengan wanita itu. Wanita yang sudah beberapa tahun mendampingi dirinya dan menunggunya di rumah selepas kerja. Anura lah wanita yang sudah membuat hatinya jatuh hati dan Sultan merasa sebagai laki-laki yang beruntung itu bisa mendapatkan cinta kasih Anura. Namun karena kejadian itu, kejadian dimana dirinya telah melakukan kesalahan dan pengkhianatan, akhirnya perceraian itu terjadi. Selain masalah mama nya yang berusaha keras memasukkan wanita lain dalam kehidupan nya. Tujuan mama nya adalah supaya Sultan secepatnya bisa mendapatkan keturunan.
Tinira lah wanita itu. Wanita yang telah naik di atas ranjangnya ketika dirinya dalam tidak keberdayaan sebagai laki-laki. Sudah satu bulan dari kejadian itu dan akhirnya Tinira menunjukkan bukti kalau dirinya sedang hamil dan mengandung anak Sultan. Satu bulan juga Sultan menjalani kehidupan tanpa Anura. Sultan dan Anura telah berpisah.
Saat ini akhirnya Sultan dan Tinira akhirnya melangsungkan pernikahan yang cukup meriah. Tinira yang merupakan seorang artis dan model di tambah Sultan dikenal sebagai pebisnis muda yang sukses dan masuk dalam seretan sepuluh besar pengusaha muda yang sukses, tentu saja acara pernikahan mereka disorot oleh media. Nama Tinira semakin di elu- elu kan di kalangan media sosial dan hiburan. Bu Subangun beserta suaminya tentu saja turut bahagia dengan pernikahan Sultan yang kedua ini. Kedua orang tuanya Sultan semakin mantap dengan pernikahan Sultan dengan Tinira, lantaran Tinira sudah pasti dalam keadaan hamil. Dan kehamilan itu tentu saja dengan Sultan, putra nya.
Acara pesta pernikahan Sultan dan Tinira bahkan ditayangkan di televisi secara eksklusif. Kabar mengenai pernikahan Sultan tentu saja sampai ditelinga Anura. Anura sudah mengetahui jika Sultan dengan Tinira akan menikah dalam waktu dekat setelah perceraian mereka. Apalagi secara khusus, Anura mendapatkan undangan pernikahan Sultan dengan Tinira. Sultan secara pribadi menghubungi Anura untuk menghadiri acara pernikahan itu. Bukan tidak mau Anura menghadiri acara tersebut. Namun bagi Anura, lebih baik tidak datang ke pesta pernikahan itu dari pada terjadi keributan.
Di depan layar televisi itu, Anura menyaksikan tayangan pesta pernikahan Sultan dengan Tinira. Hati Anura merasakan sesak dan sakit. Anura ingin menangis namun matanya seperti kering untuk meneteskan air mata. Betapa sudah beberapa tahun menjalani kebersamaan dengan Sultan. Akhirnya perpisahan itu benar terjadi. Anura tidak pernah menyangka kalau dirinya bakal menyandang status janda itu. Status janda tanpa anak. Bahkan yang lebih menyakitkan jika orang menilai akan dirinya, perceraian itu lantaran dirinya mandul dan tidak bisa hamil.
__ADS_1
Sepertinya Anura ingin mencobanya dengan laki-laki lain dan membuktikan kalau dirinya bisa hamil. Dalam benak Anura sempat terbersit pikiran seperti itu. Mungkin saja Tuhan tidak memberikan anak itu dari keturunan Sultan. Mungkin saja, kelak Anura akan mendapatkan kepercayaan itu dengan laki-laki lain tetapi bukan dengan Sultan. Iya, mungkin saja.
Namun, siapa laki-laki yang akan menjadi jodoh Anura. Anura sendiri juga tidak pernah tahu.