
Flashback on.
Malam itu, Herlina benar-benar mempersiapkan diri dan berniat untuk datang di hotel dengan nomer kamar yang sudah diberikan oleh pak Zaki. Herlina saat itu masih tinggal di rumahnya sendiri, bukan di apartemen Anura yang saat ini dia menumpang tinggal di sana.
Dengan rok mini di atas lutut yang dipadukan atasan kemeja wanita yang tipis, sepatu wanita berhak tinggi, Herlina sudah memantapkan hatinya mendatangi hotel itu. Demi sebuah pekerjaan di perusahaan tempat itu dan dengan upah atau gaji yang cukup gedhe, Herlina menyanggupi syarat satu itu. Toh, Herlina akan melakukan nya satu kali dengan laki-laki yang katanya memiliki pengaruh terhadap perusahaan tersebut.
Saat itu, Herlina datang ke tempat yang disepakati itu dengan naik taksi online. Polesan yang tipis sudah menambah kecantikan Herlina. Ditambah rambut yang cepak memperlihatkan keindahan lehernya yang jenjang. Rambut panjangnya sudah hilang ketika kena amukan dari istri Leon dan juga istrinya Bambang.
Setiba nya di gedung tinggi dan megah itu, Herlina segera mendekati resepsionis sambil mencari kontak telepon Pak Zaki. Namun saat itu, Pak Zaki bilang, kalau Herlina disuruhnya langsung segera ke kamar nomer yang diberikannya. Sedangkan Pak Zaki sendiri sedang ada urusan dan tidak bisa mengantarkan Herlina ke hotel kamar tersebut.
Dengan diantar salah satu karyawan yang bekerja di hotel itu, Herlina menuju kamar yang dimaksudkan. Di depan kamar itu, karyawan yang mengantarkan Herlina itu segera pergi meninggalkan Herlina. Kini menyisakan Herlina yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Herlina mengetuk pintu kamar itu pelan. Tidak lama Herlina melihat seorang laki-laki yang telah ditutup wajahnya dengan topeng. Postur tubuh nya tidak terlalu tinggi, namun badannya terlihat kelar dan atletis. Herlina melihat laki-laki itu dengan badan seperti Pak Zaki. Dibandingkan Pak Diandra, Pak Zaki lebih pendek sedikit.
__ADS_1
"Masuklah dan tutup pintunya!" perintah laki-laki itu.
Herlina masih berdiri mematung menatap laki-laki itu yang tidak mau memperlihatkan wajahnya. Identitas nya benar-benar tidak ingin diketahui oleh Herlina.
"Kenapa harus memakai topeng? Aku tidak akan membuka dan menceritakan soal kencan ini." ucap Herlina. Laki-laki itu mulai membuka kaos oblong nya. Kini terlihat dada bidang laki-laki itu sangat menggoda iman Herlina.
"Wow, kelihatan nya dia laki-laki yang tampan. Dilihat dari tubuh nya saja bagus dan seksi. Walaupun kulitnya agak gelap dibandingkan dengan aku. Kalau laki-laki mungkin tidak masalah kali yah." gumam Herlina mulai menelan saliva nya sendiri.
"Maaf, aku akan menutup kedua mata kamu, supaya aku bisa membuka topengku. Oke?" ucap laki-laki itu.
"Oke! Ini permainan panas yang baru aku coba." sahut Herlina dengan senyuman nya.
Herlina mulai membuka satu persatu pakaian nya demikian juga laki-laki itu. Laki-laki itu mulai menuntun Herlina naik ke atas ranjang hotel itu untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat suara-suara aneh lolos di bibir keduanya.
@@@@@@@
Flashback off.
Herlina mulai mengingat bentuk badan laki-laki yang sudah berkencan dengan dirinya satu malam itu. Laki-laki yang sudah membuat Herlina bisa menikmati setiap sentuhannya dan tidak ada keterpaksaan. Herlina tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Siapa pria itu? Aku yakin, pria itu pasti juga bekerja di satu perusahaan dengan aku." gumam Herlina. Tiba-tiba Herlina teringat kalau pria itu ada gambar tato di pinggang belakang nya dengan gambar mawar. Herlina melihat tato itu ketika pria itu membuka kaos oblong nya sebelum Herlina ditutup matanya oleh pria itu.
"Wah aku melupakan itu! Baiklah, aku mencari laki-laki itu. Tato dengan gambar mawar di pinggang belakang." gumam Herlina sambil tersenyum.
"Hem, aku akan melihat Pak Zaki dulu. Apakah Pak Zaki memiliki tato itu." pikir Herlina.
"Zaki? Kalau dilihat dari bentuk badan dan juga warna kulit, laki-laki di malam itu mengarahkan pada sosok Zaki. Apakah Pak Zaki telah memanfaatkan situasi saat itu supaya bisa bermain dengan aku? Tapi, sungguh aku benar-benar sangat penasaran dengan laki-laki tersebut. Setiap sentuhannya aku sangat menyukai nya. Dia lembut sekali memperlakukan seorang wanita. Atau dia baru pertama kali melakukannya?" pikir Herlina dengan tersenyum-senyum membayangkan saat malam itu bermain dengan pria itu.
"Besok aku akan mengajak kencan Zaki di kafe terlebih dahulu dan mengajak nya minum. Aku ingin tahu, kalau Zaki mabok apa yang akan dia ocehkan." pikir Herlina.
Herlina mulai membuka layar ponselnya dan menghubungi Zaki. Herlina sudah dekat dengan Zaki karena beberapa bulan ini mereka satu ruangan bersama dengan Akila. Zaki adalah asisten pribadinya Pak Diandra yang merangkap sebagai bendahara di perusahaan itu.
Namun selama bekerja, Zaki bersikap biasa saja dengan Herlina. Tidak ada yang terlihat aneh di mata Herlina. Pandangan nya biasa saja terhadap Herlina.
📱📲 "Zaki! Besok kita jadi kan ke kafe itu! Kita minum-minum bersama. Oke?" ajak Herlina melalui sambungan di ponselnya.
📱📲 "Kenapa mengajak aku? Apakah ini artinya kamu ingin mengajak kencan dengan aku?" tuduh Zaki di seberang sana.
📱📲 "Setelah minum, bolehlah kita kencan! Kamu single aku pun juga single. Jadi kita tidak masalah kan, kalau kencan?" sahut Herlina.
__ADS_1
📱📲"Oke!" ucap Zaki. Dan sambungan di ponsel itu putus.