
Di kantor Herlina. Herlina masih sibuk di depan laptop nya. Namun tiba-tiba Akila masuk ke ruangan di mana di ruangan itu ada Herlina dan juga pak Zaki. Akila menangis tersedu- sedu duduk di meja nya. Herlina dan juga Zaki menjadi bingung dan saling berpandangan. Pak Zaki pun akhirnya mendekati Akila yang masih menangis dengan menutup wajahnya.
" Ada apa Akila? Kenapa kamu datang dan tiba-tiba menangis. Bukannya tadi kamu dari ruangan Pak Diandra untuk mengantarkan kopi yang dimintanya?" tanya pak Zaki mulai memberondong pertanyaan. Herlina akhirnya menjadi tertarik ingin tahu masalah yang sudah terjadi pada Akila sehingga Akila tiba-tiba menangis setelah dari ruangan pak Diandra, sang bos di perusahaan tersebut.
" Aku.. aku kena tampar istri Pak Diandra." ucap Akila. Pak Zaki dan juga Herlina saling pandang dan semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga istri pak Diandra menampar Akila.
" Istri pak Diandra datang ke kantor dan lagi di dalam ruangan nya pak Diandra?" tanya Herlina memperjelas semuanya. Akila membenarkan dengan menganggukkan kepalanya.
" Sebenarnya apa yang terjadi sih, kenapa bu Desi menampar kamu?" tanya Pak Zaki. Akila kembali menangis dan memegang pipinya hasil tamparan istri dari bos nya.
" Istri pak Diandra menganggap aku ini ada main dengan pak Diandra lantaran aku mengantarkan kopi buat pak Diandra. Bukankah Pak Diandra yang menyuruh aku untuk membuatkan kopi untuk nya dan menyuruh aku mengantarkan nya di dalam ruangan kerjanya? Kenapa aku malah kena tamparan dari istrinya yang sombongnya selangit." ucap Akila dengan mengadu.
__ADS_1
" Oh jadi bu Desi cemburu terhadap kamu, Akila? Memangnya apa yang kamu lakukan sehingga bu Desi menampar kamu?" selidik Pak Zaki.
" Tadi sebelum istri pak Diandra datang, Pak Diandra terkena tumpahan kopi buatan aku di kemejanya lantaran ketika aku masuk ke ruangan nya tiba-tiba saja pak Diandra juga ingin membuka pintu ruangan nya. Akhirnya kami tabrakan dan kopi yang aku bawa sedikit tumpah mengenai kemejanya. Lalu pak Diandra melepaskan jas dan juga kemejanya itu. Aku pun masih di sana membantu mengelap tumpahan kopi nya itu di dada nya. Ketika aku sedang mengelap bagian dada pak Diandra yang terkena tumpahan kopi tadi, istri Pak Diandra masuk ke ruangan. Lalu lalu.. wanita itu menampilkan ku dengan keras." cerita Akila dan kembali dia menangis.
Pak Zaki dan juga Herlina malah cekikikan mendengar cerita dari Akila.
" Kalian kok malah menertawakan aku sih? Kalian ini benar-benar tidak memiliki empati terhadap aku." protes Akila dengan cemberut.
" Tamparan bu Desi benar-benar pedes banget. Ini rasanya lebih sakit sekali ketika melihat pak Diandra sangat romantis dan terlihat menyayangi bu Desi. Hatiku seperti tercabik-cabik dan kini patah menjadi dua." ucap Akila sendu. Kembali pak Zaki dan bahkan Herlina pun menjadi terkekeh.
" Eh, apa benar pak Diandra sudah mulai menyayangi istrinya itu? Mereka sudah dekat satu dengan yang lain?" tanya Pak Zaki.
__ADS_1
" Yang aku lihat seperti itu!" sahut Akila.
" Memangnya kenapa Pak Zaki, apakah sebelumnya hubungan mereka belum sedekat ini?" tanya Herlina.
" Mereka menikah lantaran perjodohan dari kedua orang tua mereka. Akhirnya mereka mulai dekat dan mulai belajar mencintai satu dengan yang lain." nilai Pak Zaki.
" Pokoknya, bagaimana caranya aku akan merusak hubungan mereka. Aku tidak suka bu Desi. Dia sudah menyakiti dan menampar aku." omel Akila seperti anak kecil. Herlina mengerutkan dahinya.
" Apakah benar, kamu akan melakukan nya?" tanya Pak Zaki memastikan. Akila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Sebenarnya aku masih mengidolakan Pak Diandra. Jadi aku akan senang hati melakukan apapun untuk pak Diandra, jika dia menyuruhku. Apalagi tadi ketika Pak Diandra meminta dibuatkan kopi dan menyuruhnya mengantarkan kopi itu ke ruangan nya. Aku benar-benar menjadi sangat bahagia." cerita Akila. Pak Zaki terkekeh mendengarkan nya sedangkan Herlina menahan tawanya.
__ADS_1
" Itulah sebabnya, bu Desi menampar kamu. Bu Desi melihat kamu, ada bakat untuk merusak rumah tangga antara Bu Desi dengan pak Diandra. Hahaha. " sahut Pak Zaki. Kembali Akila cemberut mendengar ucapan dari pak Zaki yang selalu menggoda nya.