TERJERAT RAYUAN JANDA

TERJERAT RAYUAN JANDA
TATO BUNGA MAWAR


__ADS_3

Sesuai janji bersama, Pak Zaki dan Herlina kini sudah di kafe. Mereka sudah memesan minuman dan kini keduanya telah duduk berdua di kursi sudut. Terlihat Pak Zaki kini mengenakan pakaian santai ala anak muda zaman sekarang. Herlina juga sama halnya memakai baju yang non formal. Dengan rok mini di atas lutut bermotif kembang-kembang yang menjadi andalannya, dipadukan dengan koas ketat dengan jaketnya. Kini Herlina telah melepaskan jaketnya hingga tampaklah bagian d@danya yang membusung lantaran ukurannya bagian itu memang lebih besar dibandingkan dengan dad@ milik Anura.


Malam ini Anura tidak bisa ikut dengan Herlina karena jadwal syutingnya yang padat. Sebagai seorang wanita yang berstatus janda, Anura saat ini benar-benar menikmati kesendirian nya. Sama hal nya dengan Herlina. Namun kedua wanita ini beda profesi dan juga pandangan. Walaupun Anura berada di dalam lingkungan artis, Anura tidak seperti Herlina yang masih berperilaku bebas terhadap menjalin hubungan dengan kawan jenis. Apalagi usia mereka yang dewasa kebutuhan biologis terkadang menuntut nya untuk melakukan hubungan cinta satu malam. Hal itu tidak dengan Anura.


Herlina sudah menenggak beberapa gelas minuman yang beralkohol. Bersama dengan Pak Zaki dirinya menikmati malam itu dengan bersenang-senang. Herlina tidak mungkin mengajak Anura dalam urusan minum-minuman beralkohol. Anura tidak menyukai minuman seperti itu dan selalu hidup sehat.


Pak Zaki menuangkan minuman ke dalam gelas Herlina yang sudah tandas dan kosong. Pak Zaki pun sudah terlalu banyak juga minum minuman itu. Wiski dan juga bir masih ada di atas meja. Keduanya memang habis menerima gaji di bulan ini. Apalagi Herlina, bulan ini adalah gaji pertamanya. Herlina ingin mentraktir Pak Zaki karena Pak Zaki juga berperan bisa mengantarkan dirinya masuk ke tempat kerja barunya tersebut.


"Oh iya Pak Zaki, aku sebenarnya ingin bertanya sesuatu dengan Pak Zaki. Itu sih kalau Pak Zaki mau menjawabnya." kata Herlina. Pak Zaki melebarkan matanya menyimak apa yang dikatakan oleh Herlina.


"Kamu mau bertanya soal apa? Tapi sebelum kamu bertanya dengan aku, aku minta kamu jangan memanggil aku Pak dong. Aku ini sebenarnya masih muda. Mungkin usia kita hanya berbeda tiga tahun saja." kata pak Zaki. Herlina tertawa terbahak-bahak. Minuman yang telah masuk dalam tubuh nya membuat Herlina semakin percaya diri.


"Oke, mas Zaki!" sahut Herlina. Pak Zaki tertawa lepas mendengar Herlina memanggilnya dengan sebutan mas.


"Sekarang apa yang mau kamu tanyakan kepadaku?" tanya Pak Zaki seraya mendekatkan pantatnya ke samping Herlina yang duduk. Kini keduanya duduk saling berdekatan. Herlina tersenyum melihat Pak Zaki mulai berani dan agresif.

__ADS_1


"Apakah kamu memiliki tato dengan gambar bunga mawar di bagian pinggang kamu, mas?" tanya Herlina. Pak Zaki tersenyum menyeringai. Kini tangan Pak Zaki mulai berada di atas paha Herlina. Walaupun masih dibatasi dengan rok mini di atas lutut nya, namun tangan itu sudah bersiap-siap melakukan pergerakan yang lebih menantang.


"Kamu ingin melihat nya? Kalau begitu ayo kita ngamar sekarang juga." ucap Pak Zaki tanpa filter. Herlina memicingkan matanya.


"Jadi? Malam itu yang berkencan dengan aku adalah kamu, mas?" tuduh Herlina. Pak Zaki jadi terkejut bukan main.


"Eh, itu... itu..." sahut Pak Zaki gelagapan. Herlina tersenyum tipis-tipis. Herlina merangkum kedua pipi Pak Zaki. Pak Zaki menatap wajah Herlina dengan penuh kekhawatiran.


"Jadi, benar? Kamu orang itu? Laki-laki yang sudah meniduri aku? Kamu laki-laki yang telah bermain odong-odong dengan aku? Hem, aku selama ini sudah menduga nya." ucap Herlina tanpa filter.


"Maaf, Herlina! Aku... aku memanfaatkan situasi itu. Padahal dari perusahaan tidak ada syarat seperti itu." ucap Pak Zaki takut kalau Herlina akan membenci dirinya dan juga menjadi marah atau yang lebih parah lagi melaporkan nya ke Pak Diandra. Herlina tersenyum tipis.


"Jadi, kamu memaafkan aku kan, Herlina? Kamu tidak marah dan melaporkan semua ini kepada atasan kita kan?" ucap Pak Zaki. Herlina mengusap ujung paha milik Pak Zaki. Pak Zaki seketika menahan segala sesuatu yang membuatnya ingin segera merespon nya.


"Tidak! Aku tidak akan melakukan itu semua. Dan malam ini aku hanya ingin melihat tato bunga mawar itu lagi. Tato bunga mawar di pinggang kamu begitu seksi sekali, mas. Tato bunga mawar itu menambah keseksian kamu, mas. Aku menyukai nya." kata Herlina. Pak Zaki kini menghela nafas lega. Kembali dirinya menuang botol wiski itu kedalam gelasnya dan sekali meminumnya.

__ADS_1


"Jadi, kamu ingin memastikan kalau aku benar-benar laki-laki yang memiliki tato bunga mawar di pinggang itu?" ucap Pak Zaki memastikan.


"Kamu mau kan, mas?" tanya Herlina dengan senyuman nya.


"Mau dimana kamu mau melihat tato bunga mawar di pinggang ku, Herlina? Mau di sini saja atau di kamar mandi?" tanya Pak Zaki tanpa filter.


"Astaga! Aku tidak mau di sini atau di kamar mandi, mas. Bukannya kamu punya duit dan habis gajian? Kita ke hotel dong, seperti malam itu." kata Herlina tanpa Basa-basi. Pak Zaki tersenyum senang.


"Ayo kalau begitu! Tunggu apa lagi?" sahut Pak Zaki yang segera menarik tangan Herlina keluar dari kafe itu dan mengajaknya ke suatu tempat yang bikin enak-enak.


☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️


Di kamar hotel.


Herlina mulai melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Herlina mulai menyentuh bibir tebal milik pria itu yang tebal dan seksi. Terlihat leher laki-laki itu sudah naik turun lantaran menelan saliva nya sendiri. Kini keduanya sudah mulai bermain di daerah sana dengan ciuman yang panjang dan saling mengabsen bagian itu. Deru nafas mulai tersengal tatkala pria itu sudah mulai membantu ikut membuka pakaian yang dikenakan oleh Herlina. Herlina mulai mendes@h tatkala tangan laki-laki itu mulai memainkan bagian dua benda yang semakin menantang dan menggoda. Laki-laki itu beralih mencium bagian itu sesekali menyes@p dan menggigit nya. Herlina mulai bergetar aliran tubuh nya. Laki-laki itu sudah tidak sabar mendorong tubuh Herlina hingga jatuh ke atas peraduan. Dengan sekali saja, rok mini yang masih dikenakan oleh Herlina tersingkap dari sana. Laki-laki itu melebarkan kedua kaki Herlina lalu mengambil kain bagian dalam yang masih ada di sana karena itu akan menghalangi pergerakannya nanti. Hingga akhirnya laki-laki itu dengan cepat dan tanpa ampun menerobos goa sempit milik Herlina dengan sesuatu yang tumpul yang sudah mengeras dan terlihat sombongnya menantang langit. Tubuh Herlina berguncang dengan hebat tatkala laki-laki itu mulai memainkan ritme maju mundurnya tanpa ampun dan liar. Jeritan, keluhan, desisan, de sahan lolos dari mulut laki-laki itu dan Herlina secara bersahutan.

__ADS_1


Hingga setengah jam Herlina dalam kungkungan kenikmatan si laki-laki yang dulu telah menggarapnya saat hendak masuk di tempat kerja barunya. Sampai akhirnya laki-laki itu menyudahi kegiatannya dan ambruk di atas tubuh Herlina setelah titik puncak itu lepas dan dari sana. Lega yang di rasakan laki-laki itu, diiringi senyuman nya yang mengembang.


Setelah beristirahat sejenak, Kini Herlina mengecup bagian pinggang Milik Pak Zaki yang bertato dengan bergambar bunga mawar. Herlina kembali naik di atas tubuh Pak Zaki dan mulai mendominasi permainan. Sampai beberapa kali mereka melakukan itu tanpa henti. Pengaruh minuman beralkohol membuat keduanya bebas melakukan apapun tanpa rasa canggung dan malu.


__ADS_2