
Herlina kini sudah bersama pak Leo, ketua rukun tangga di tempat nya. Herlina mulai melaporkan semua kejadian yang sudah dialaminya beberapa hari ini. Pak Leo menyimak semua yang diceritakan dari mulut Herlina. Pak Leo tersenyum menyeringai menatap lekat wajah ayu nan seksi milik Herlina.
" Baiklah, laporan kamu aku terima, mbak Herlina! Namun aku perlu mencari tahu siapa dalang dari semua itu. Siapa yang membenci mbak Herlina sehingga meletakkan kotak kardus dengan isi nya bikin mbak Herlina menjadi jijik, takut dan juga resah." kata pak Leo serius.
" Itulah pak Leo! Saya selalu baik dengan siapapun di sini. Saya juga tidak mau ikut campur masalah orang juga. Kenapa ada orang yang tega meneror saya dengan seperti itu. Apakah saya tidak boleh jika tinggal di kampung ini lagi?" ucap Herlina. Pak Leo tersenyum lalu mendekati Herlina. Bahkan Pak Leo kini berani menyentuh pergelangan tangan Herlina. Pak Leo mengusap lembut tangan Herlina yang putih mulus itu. Benar-benar terlihat kontras antara tangan pak Leo dengan tangan milik Herlina. Herlina diam dengan perlakuan pak Leo terhadap dirinya.
Suasana penghuni rumah pak Leo masih terlihat sepi. Di dalam rumah itu hanya pak Leo dan Herlina yang ada di sana. Bahkan ruangan kerja pak Leo juga tertutup. Tangan pak Leo masih mengusap punggung tangan milik Herlina yang berada di atas pahanya yang terlihat putih mulus tanpa bekas luka. Kini tangan itu malah bergeser ke bagian itu.
" Pak Leo!" ucap Herlina seperti ingin menolak perlakuan yang sudah tidak senonoh terhadap dirinya. Kini pak Leo malah mendekati ke belakang telinga Herlina dan hembusan nafasnya sengaja semakin dihembuskan di bagian sana. Herlina seketika merasakan hangat di daerah itu. Aliran darah Herlina semakin terpacu.
" Nanti malam aku akan memastikan siapa yang telah melakukan hal itu kepada mu. Orang yang berani menteror kamu, besok pagi harus kita tangkap. Oke?" bisik Pak Leo namun, dia sengaja mendekatkan ke belakang telinga. Herlina sejenak menegang. Pak Leo tersenyum menyeringai lalu kembali menjaga jarak.
" Baiklah, kalau begitu saya permisi pak Leo! Saya harus kembali ke rumah." kata Herlina. Pak Leo tersenyum ketika melihat wajah Herlina berubah merona merah.
" Seorang janda cantik seperti kamu, banyak laki-laki yang ingin menggoda dan mendapatkan kamu, mbak Herlina. Mungkin saja, dulu kamu pernah menolak cinta pemuda atau laki-laki di kampung atau Rt sini, sehingga teror itu terjadi." kata pak Leo.
" Mungkin saja pak Leo! Baiklah, saya permisi dulu pak Leo." sahut Herlina lagi.
" Hati-hati di jalan mbak Herlina! Nanti malam saya akan ke rumah mbak Herlina." kata pak Leo seraya tersenyum menyeringai. Herlina membalas senyuman pak Leo dengan senyumannya yang mampu membuat pria manapun akan semakin jatuh dalam rayuan dan godaan nya.
__ADS_1
Sepanjang jalan pulang ke rumahnya, banyak pasang mata ibu- ibu muda yang sedang berkumpul di depan rumah salah satu warga. Ibu-ibu yang sedang memakan rujak bersama. Tatapan kebencian dan tidak suka terhadap Herlina sangat terlihat. Apalagi Herlina sengaja berjalan kaki dari rumah pak Leo atau ketua rumah tangga mereka dengan rok mini dan kaos ketatnya. Hal itu sangat menonjolkan bagian d@d@ nya yang membusung dan berukuran sangat jumbo. Sapaan ramah dari Herlina pun diacuhkan oleh Ibu-ibu itu. Bahkan dengan sengaja menyindir Herlina dengan suara keras. Masalah dirinya dengan Maisaroh dan juga Bambang telah bukan rahasia lagi. Warga sudah banyak yang tahu akan hubungan Herlina dengan Bambang yang kemudian diketahui oleh Maisaroh.
Herlina dengan cuek melenggang dengan cepat menuju ke rumahnya. Baginya dia tidak makan dari ibu-ibu itu. Herlina harus tebal muka, tebal telinga di kampung itu. Mungkin suatu saat Herlina akan segera pindah dari rumah itu setelah dirinya memiliki uang yang banyak di tempat nya bekerja kini.
@@@@@@@
Malam tiba, sesuai janjinya Pak Leo sudah datang ke rumah Herlina. Herlina menyambut nya dengan tangan terbuka. Bagi Herlina orang yang selalu mengiriminya kardus di depan pintu rumahnya akan segera terungkap dengan bantuan pak Leo.
" Pak Leo mau kopi atau teh?" tawar Herlina.
" Kopi saja mbak Herlina." kata pak Leo menyahuti. Herlina segera bergegas ke belakang dan membuatkan kopi untuk pak Leo, ketua rukun tangga nya.
@@@@@@@
Beberapa kali mereka melakukan nya hingga tanpa kenal letih. Di sepanjang malam mereka menghabiskan waktu dalam lenguhan kenikmatan. Terkadang laki-laki mendominasi dan terkadang si wanita mendominasi. Hingga sekarang giliran si laki-laki itu mulai mendominasi permainan dengan hentakan liarnya mengguncang tubuh wanita. Cukup lama kegiatan itu dilakukan tanpa henti. Sampai akhirnya dobrakan pintu rumah mereka disertai suara ribut beberapa orang membuat keduanya terkejut.
Beberapa orang kini beralih membuka pintu kamar mereka. Betapa terkejut semua orang yang melihat pemandangan yang tidak sepantasnya itu dilihat oleh mereka.
" Pak Leo! Mbak Herlina! Apa yang sedang kalian lakukan?" ucap salah satu warga. Istri pak Leo menatap pemandangan itu penuh amarah dan kebenciannya. Teriakan histeris kini keluar dari mulut istri pak Leo yang mendapati suaminya telah berbuat zina dengan Herlina. Bahkan keduanya saat ini masih polos tanpa busana. Karena itu, beberapa warga mengambilkan sarung dan juga daster untuk pak Leo dan juga Herlina.
__ADS_1
Herlina semakin gusar. Dirinya kembali terkena sasaran kemarahan warga dan juga istri dari pria bersuami. Bahkan laki-laki yang sudah bermain cinta dengan nya baru saja adalah ketua rukun tangga di sana.
Keributan mulai tidak terkendali. Bahkan istri pak Leo itu telah membawa gunting dan sengaja menyiapkan nya. Herlina ditarik secara paksa oleh ibu RT. Rambut Herlina dijambaknya dan lalu dengan paksa rambut yang indah dan wangi itu dipotong tidak beraturan oleh ibu RT, istri pak Leo.
Sesaat kemarahan bu RT itu tidak bisa ditahan oleh warga. Rambut Herlina kini menjadi petak dan tidak beraturan. Herlina ingin melawan namun takut jika gunting itu akan melukai dirinya. Herlina tidak berkutik. Dalam kemarahan nya hatinya juga merasakan dendam kepada ibu RT yang telah membuat rambutnya berantakan.
Kini Maisaroh ikut mendekati Herlina. Tatapan matanya penuh dendam dan kemarahan. Kini dengan tega, Maisaroh menyayat bagian pipi wajah Herlina. Herlina berteriak kesakitan. Tatapan nya kini penuh dendam kepada dia wanita itu yaitu istri pak Leo dengan istri Bambang.
" Sudah, ma! Cukup, kalian jangan main hakim sendiri." kata pak Leo. Namun Maisaroh dan juga Sruti menatap tajam ke arah pak RT.
" Setelah ini, usir wanita janda ini dari kampung kita. Dia si j@l@ng ini telah bikin resah warga kampung ini. Dia harus diusir di kampung ini. Kalau tidak? Kami akan meneror nya setiap hari." kata bu Sruti. Herlina melotot tajam. Pak Leo pun juga tidak kalah terkejutnya kalau sejatinya yang melakukan teror terhadap Herlina adalah bu Sruti, ibu RT sendiri.
" Kenapa? Aku tidak suka seorang janda yang keg@telan dan sukanya menggoda suami orang. Asal kamu tahu, aku melakukan semua ini lantaran di suruh oleh ibu Risa, istri dari pak Herlambang. Dan juga aku pun tahu gelagat suamiku yang sudah keg@tel@n dengan rayuan janda ini." kata bu Sruti. Orang yang mendengar semua pengakuan bu Rt yang awalnya tidak tahu menjadi mengetahui permasalahan detailnya.
" Usir wanita ini!"
" Usir janda genit ini!"
Teriakan warga mulai bergemuruh di malam yang semakin diujung waktu.
__ADS_1