
Bu Desi kini duduk di atas pangkuan suaminya, pak Diandra. Sedangkan pak Diandra masih sibuk di depan laptopnya memeriksa beberapa laporan dari beberapa sekretaris dan juga bendahara nya. Bu Desi bergelut manja dengan melingkarkan tangannya ke leher suami nya itu yang saat ini masih tidak terpengaruh dengan istrinya yang mencoba menggoda nya.
" Ayolah sayang, kamu berhenti dulu dari kerjaan kamu. Bukannya aku sedang di sini?" ucap bu Desi manja.
" Sebentar sayang! Ini nanggung sekali. Masih banyak kerjaan aku ini. Sebentar lagi selesai kok. Kamu duduklah dulu di kursi sudut itu." kata Pak Diandra dengan mata tidak lepas dari layar laptopnya. Bu Desi akhirnya turun dan pindah duduk di sudut kursi ruangan itu. Namun sebelum bu Desi mendudukkan pantatnya, suara ketukan pintu ruangan kerja itu berbunyi. Bu Desi akhirnya mendekati pintu itu dan membukanya lantaran tadi bu Desi telah menguncinya.
" Eh kamu! Ada apa?" Ada perlu apa dengan suami aku?" tanya bu Desi kurang suka dengan kedatangan Akila.
" Saya tidak ingin bertemu dengan Pak Diandra, bu. Tapi dengan bu Desi." ucap Akila pelan.
" Ada apa?" tanyanya judes. Bu Desi mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Perihal sekretaris baru itu loh bu." ucap Akila.
" Maksudnya Herlina?" sahut Bu Desi.
" Benar! Bukankah tadi pagi ibu memergoki dia habis keluar dari ruangan pak Diandra?" kata Akila mencoba menyulut gas. Bu Desi mulai berpikir.
" Iya, tadi aku melihat Herlina keluar dari ruangan pak Diandra. Lalu kenapa?" ucap bu Desi tidak kalah pelan bersuara seperti Akila.
" Oke, ayolah! Kita ke kantin di perusahaan ini saja." ucap Bu Desi sambil menyambar tas Kecilnya.
" Sayang, aku ke kantin sebentar." pamit Bu Desi sambil mengecup bibir Diandra. Diandra masih fokus dengan kerjaan nya.
__ADS_1
Akila dan bu Desi berjalan beriringan menuju ke kantin yang ada di perusahaan itu. Mereka duduk di sana saling berhadapan setelah kedua minuman itu ada di atas meja mereka. Bu Desi dengan tenang menyeruput minuman nya.
" Coba katakan! Tadi kau bilang kalau Herlina telah mengelabui aku? Sedangkan aku melihat sendiri kalau Herlina tidak terlihat sedikitpun menggoda suami aku. Bahkan penampilan dia sangat kacau dan Kampungan." ucap Bu Desi.
" Bu Desi jangan salah! Apakah maling akan berteriak maling, seorang maling perebut suami orang lebih pandai dari pembohong sekalipun. Bu Desi lihat sendiri kan, tadi ada beberapa kotak kue, itu semua nya dari Herlina. Dia sengaja memberikan kue itu untuk Pak Diandra. Selain sebagai bentuk perhatian untuk Pak Diandra, kue itu tentu saja sudah di jampi dari seorang dukun supaya Pak Diandra semakin jatuh hati dengan Herlina." ucap Akila mulai dengan rencananya.
" Kurang ajar! Jadi Herlina mengguna- guna suami aku? Makanya sejak aku datang tadi, seolah aku tidak dianggap oleh suami aku. Kurang ajar Herlina itu. Sudah mencoba merayu, menggoda suami aku, dia juga telah datang ke dukun untuk mengguna- guna suami aku. Ini tidak bisa dibiarkan." ucap Bu Desi sudah mulai terpancing emosinya.
" Bu Desi tidak tahu, sebelum bu Desi tiba, pak Diandra dan juga Herlina sudah melakukan perbuatan mesum itu di dalam ruangan kerja pak Diandra." ucap Akila. Bu Desi semakin terbakar emosinya.
" Ini tidak bisa dibiarkan! Ayo aku ingin segera mencabik- cabik wajah Herlina itu. Kurang ajar, berani sekali dia telah mengelabui aku dan juga menggoda suami aku." ucap Bu Desi sembari mengepalkan tangannya karena emosinya yang sudah sulit untuk dibendung.
__ADS_1