
Herlina masih minum di kafe itu. Anura masih menemani Herlina di tempat itu. Sudah banyak minuman yang beralkohol diminum oleh Herlina. Herlina terlihat sangat kacau malam ini. Anura segera mengajak Herlina pergi meninggalkan kafe itu.
" Ayo kita pulang, Herlina! Kamu sudah mabok berat." kata Anura seraya mengangkat bahu Herlina dan berusaha memapahnya.
Namun dari kejauhan sepasang mata telah memperhatikan gerak- gerik mereka. Mereka adalah Herlambang. Herlambang juga sama halnya sedang kacau malam itu. Dia sudah ketahuan bermain api dengan sekretaris barunya. Herlambang memang sangat takut dengan istrinya, Risa lantaran perusahaan yang ia jalankan adalah modal dari papa Risa yang adalah seorang kaya raya berlimpah harta. Tentunya Herlambang takut jika dirinya dituntut cerai oleh Risa. Jika hal itu terjadi, dirinya akan kembali miskin dan hidup serba kekurangan seperti dulu.
Herlambang di kafe itu pun lagi berusaha menenangkan diri lantaran habis berantem hebat dengan Risa. Namun melihat Herlina juga dalam mabok dan kacau seperti itu tentu saja membuat dirinya tertarik untuk memanfaatkan situasi tersebut.
Herlambang mendekati Anura yang dengan susah payah memapah tubuh Herlina yang sudah tidak bisa berdiri dengan tegak.
" Biar aku bantu, mbak! Dia juga teman aku kok, Herlina bukan?" kata Herlambang berusaha menyakinkan Anura.
__ADS_1
" Benar! Kamu mengenalnya yah?" sahut Herlina. Kini Herlambang mulai mengangkat tubuh Herlina bahkan kini menggendongnya. Anura terkejut melihat itu.
" Eh, pak Herlambang kamu di sini juga?" oceh Herlina terkekeh ketika melihat Herlambang menggendong nya. Anura menjadi yakin jika keduanya sudah saling mengenal.
" Di bawa ke mobil aku saja bang." kata Anura. Namun Herlambang nekad membawa Herlina ke arah mobilnya.
" Tidak apa, biar aku yang mengantarkan Herlina kembali ke rumah nya." kata Herlambang nekat memaksakan dirinya mengantarkan Herlina pulang.
" Kamu bisa pulang saja, mbak! Biar Herlina aku yang mengantarkan pulang." kata Herlambang. Anura bimbang dan ragu. Mana bisa Anura percaya begitu saja melihat Herlina diantar seorang laki-laki apalagi Herlina dalam keadaan mabok berat.
" Tapi, eh tidak! Aku akan memastikan kalau Herlina sampai di rumahnya." kata Anura.
__ADS_1
" Apakah mbak tidak percaya dengan aku? Aku ini sudah lama mengenal Herlina. Bahkan kami sudah pernah dekat." sahut Herlambang.
" Eh, bukan begitu bang! Apakah tidak apa-apa jika abang yang mengantarkan Herlina. Bagaimana tanggapan orang-orang di kompleks jika melihat Herlina pulang di antar seorang laki-laki dan... " kata Anura.
" Tidak apa, jangan khawatir soal itu! Setelah aku mengantarkan Herlina sampai di rumah, aku akan segera pulang dan tidak akan lama di rumah Herlina." sahut Herlambang. Anura berpikir sejenak.
" Baiklah, jika terjadi sesuatu dengan Herlina. Aku akan mencari abang untuk bertanggung jawab." ucap Anura. Herlambang melotot matanya. Herlambang sangat marah mendengar ucapan Anura.
" Hai, baiklah kalau kamu tidak mempercayai aku, silahkan kamu ikut di dalam mobilku juga." kata Herlina akhirnya.
" Maaf, Herlina adalah teman saya bang. Jadi saya tidak mau terjadi sesuatu dengan Herlina. Biar saya naik mobil sendiri saja dan mengikuti mobil abang dari belakang ke rumah Herlina." kata Anura akhirnya.
__ADS_1
" Oke, oke! Repot sekali sih jadi wanita." sahut Herlambang dengan hati yang kecewa. Niat buruk nya akan terkendala Akibat Anura ikut mengantarkan Herlina ke rumah nya.