
Herlina sudah di depan pintu keluar ruangan pak Diandra. Tiba-tiba bu Desi datang memasang wajah tidak suka terhadap Herlina.
" Kamu sekretaris yang baru di kantor ini?" tanya bu Desi tanpa ekspresi bersahabat. Herlina diam sambil memikirkan jawaban apa supaya Bu Desi, istri seorang direktur utama di perusahaan itu tidak semakin emosi lantaran wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak suka terhadapnya.
" Saya, hanya karyawan rendahan nyonya. Saya hanya orang kampung dan miskin yang merasa di terbantu karena diterima di perusahaan ini." jawab Herlina dengan memasang memelas dan lalu dengan cepat mengambil tangan Bu Desi untuk mencium punggung tangannya. Bu Desi menjadi berubah ekspresi.
" Baguslah kalau begitu! Siapa saja yang ingin menggoda dan mendekati suami aku, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku hancurkan wajahnya yang merasa sok cantik sendiri. Padahal lihat saja aku! Aku kurang cantik apa, hah? Kalian semuanya tidak akan bisa menandingi kecantikan dan penampilan aku." ucap bu Desi panjang lebar.
__ADS_1
"Benar, nyonya! Nyonya sangat cantik dan kecantikan nyonya tidak akan ada yang bisa menandingi nya. Apalagi saya yang berpenampilan gembel seperti ini. Mana dilirik oleh pak bos. Pak bos memiliki ketampanan yang sangat cocok disandingkan dengan bu Desi." Herlina mulai menjilat. Bu Desi membuka tasnya dan mengambil dompetnya. Tampaknya bu Desi mengeluarkan uang lembaran senilai ratusan ribu rupiah yang berwarna merah. Bu Desi memberikan nya kepada Herlina.
" Ini untuk kamu, siang ini kamu bisa membeli makan siang yang enak. Oh iya, kamu bisa membeli kemeja yang bermerek, jangan membeli barang murahan seperti itu." kata Bu Desi kini mulai menunjukkan sikap murah hati nya pada Herlina. Herlina tersenyum senang mendapatkan uang cuma- cuma dari istri bos nya.
Tanpa berujar lagi, Bu Desi masuk ke ruang kerja suaminya, pak Diandra. Sedangkan Herlina melangkah ke ruang kerjanya yang satu ruangan dengan Akila, dan juga pak Zaki. Herlina mengibas- Ibas kan uang lembaran seratusan itu sambil duduk di meja kerja nya. Akila dan juga Pak Zaki menatap penasaran.
" Tadi pagi sesuai pesan Akila, aku sudah membelikan kue untuk pak Diandra. Dan aku mendapatkan uang lebih dan diganti harga kue yang sudah aku beli untuk pak Diandra. Lalu baru saja aku keluar dari ruangan pak Diandra, aku pun dapat uang lagi dari bu Desi. Katanya makan siang ini aku disuruh beli makanan yang enak dan juga kemeja yang bermerek. Katanya aku tidak boleh pakai baju murahan seperti yang aku pakai." cerita Herlina. Sontak saja Akila terkejut. Apalagi Pak Zaki. Bu Desi dikenal sangat pelit dan susah diajak ramah pada karyawan nya. Apalagi karyawan wanita. Tingkat cemburu bu Desi sangat besar.
__ADS_1
" Apa katamu? Bu Desi memberi kamu uang? Masak sih? Aku tidak percaya!" ucap Akila. Pak Zaki membenarkan ucapan Akila.
" Kalian tidak percaya yah? Apalagi aku. Ini seperti mimpi. Sebenarnya bu Desi tadi sudah marah dengan aku lantaran aku dari ruangan pak Diandra. Dia pikir aku menggoda pak Diandra, padahal aku hanya memberikan kue pesanannya saja. Akhirnya aku jelaskan panjang lebar, walaupun aku seperti merendahkan diriku sendiri. Dari pada aku kena marah dan pada akhirnya aku dipecat." ucap Herlina lalu mulai membuka laptop nya dan kembali bekerja.
" Kok bisa sih? Padahal aku sudah memberikan informasi kalau Herlina ini diam- diam sudah bermain api dengan suami nya. Kenapa bu Desi menjadi percaya omongan Herlina?" batin Akila.
" Aku akan menjumpai bu Desi." pikir Akila kembali menjalankan rencana jahatnya.
__ADS_1