
Herlina merasakan badannya lemas. Beberapa minggu ini Herlina selalu mengalami penurunan dalam staminanya. Herlina tidak bisa capek dan Memforsir lagi tenaga dan juga pikirannya. Saat di tempat kerja nya Herlina tidak seceria dulu. Tentu saja Zaki merasakan perubahan yang dialami oleh calon istrinya tersebut. Padahal sabtu ini mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Tiga hari lagi kita akan mengambil cuti satu minggu, sayang! Apakah kamu mulai stres dengan acara pernikahan kita nanti? Semua sudah di arus oleh kedua keluarga besar kita dan juga wedding organizer. Kamu tidak perlu kepikiran dengan semua itu, sayang!" ucap Zaki yang menebak-nebak.
"Iya, mas! Aku percaya dengan kamu, mas," sahut Herlina. Zaki yang duduk tidak jauh dari tempat duduk Herlina tersenyum menatap calon istrinya itu.
Seseorang datang mencari Zaki dan masuk ke ruangan mereka. Akila kini sudah tidak bekerja di tempat itu. Dan ada seseorang yang menggantikan posisinya saat ini. Dia bernama Liliana.
"Pak Zaki, di panggil pak Diandra di ruangan kerjanya," ucap Liliana sambil kembali duduk di kursi yang dulu tempat Akila saat masih bekerja di perusahaan itu.
"Kamu habis dari ruangan Pak Diandra yah?" tanya Pak Zaki. Liliana membenarkan.
"Ada apa yah?" tanya Pak Zaki sambil melihat Liliana dan Herlina secara bergantian.
"Entahlah! Tapi tadi sepertinya ada yang diinginkan Pak Diandra," sahut Liliana. Herlina masih fokus dengan layar laptopnya.
"Okelah, aku ke ruangan Pak Diandra dulu yah, sayang!" ucap Pak Zaki sambil mengusap kepala Herlina. Herlina seketika tersenyum dan mendongakkan kepalanya.
"Idih, kalian ini bikin aku iri saja dengan keromantisan kalian," ucap Liliana sambil manyun bibirnya.
"Makanya carilah calon istri! Di kantor ini banyak kok cowok yang ganteng," ucap Pak Zaki.
"Sudah ketemu tapi ternyata dia sudah punya istri," sahut Liliana sontak membuat mata Zaki dan juga Herlina menjadi menatap Liliana.
"Eh, kenapa kalian melihat aku seperti itu sih? Memangnya salah kalau menyukai cowok ganteng, tajir, tapi sudah berkeluarga?" protes Liliana.
"Tidak ada yang larang! Cuma saja kamu harus hati-hati kalau tidak nasib kamu seperti karya-karya yang dahulunya duduk di kursi kamu. Dia menjadi rusak wajahnya lantaran kena amukan istrinya laki-laki yang bersuami," ucap Zaki. Liliana mengerutkan dahinya.
"Sudahlah! Aku keruangan pak Diandra dulu. Bye!" ucap Zaki sambil melangkah lebar menuju ke ruangan Pak Diandra. Kini Liliana mulai penasaran akan ucapan Zaki barusan.
__ADS_1
"Apa benar apa yang dikatakan oleh pak Zaki, ya sayang?" tanya Liliana kepada Herlina. Herlina menghentikan kegiatan nya yang sejak tadi fokus dengan laptopnya.
"Tidak semua yang dikatakan Zaki benar, Liliana! Itu hanya kecelakaan saja! Kemarahan bu bos karena cemburu buta saja. Dan Akila, gadis yang dulu kerja di kantor ini terkena korban dari kemarahan bu bos. Istri dari Pak Diandra," cerita Herlina.
"Sebenarnya aku pun juga terpesona dengan Pak Diandra. Tapi ternyata dia laki-laki yang sudah beristri," jujur Liliana. Herlina menyipitkan matanya.
"Pak Diandra memang laki-laki yang berkharisma. Aku melihat Pak Diandra seperti melihat ayah kandung aku. Dia begitu penyayang dan perhatian. Terkadang kita berpikir dari perhatian yang diberikan oleh Pak Diandra itu seperti menyukai kita. Padahal itulah sifat dia yang suka mengayomi karyawan nya," kata Herlina. Liliana tersenyum mendengar cerita dari Herlina.
"Pak Zaki juga sangat perhatian dan menyayangi kamu, Herlina. Aku terkadang iri melihat kemesraan kalian. Kapan aku bisa menemukan laki-laki yang seperti itu yah?" sahut Liliana.
"Mungkin saja nanti kalau sudah berjodoh, kamu akan bertemu dengan laki-laki seperti itu," ucap Herlina.
Herlina kembali fokus ke layar laptopnya dan Liliana pun juga kembali bekerja.
@@@@@@@
Sementara di ruang kerja Pak Diandra, kini Zaki sudah duduk di depan meja Pak Diandra.
"Benar Pak!" sahut Zaki.
"Bagaimana kalau aku kasih tiga hari cuti saja yah! Kalau kalian berdua cuti, siapa yang akan meng handle posisi kalian sementara waktu?" tanya Pak Diandra bingung.
"Jangan khawatir, Pak Bos! Nanti saya masih bisa mengerjakan dan memantau semuanya secara online. Demikian juga Herlina. Kami bisa mengatasi masalah tersebut Pak Bos," ucap Zaki.
"Nanti belah duren dan bermain odong-odong kalian menjadi terganggu dong!" sahut Pak Diandra sambil terkekeh. Zaki pun ikut nyengir kuda.
"Pak Diandra! Soal itu aman lah! Kami berdua sudah berpengalaman dalam hal ini. Jadi, di mana pun tempat kami bisa enjoy melakukan nya," sahut Zaki sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Wah kalian memang pasangan yang sangat serasi. Aku saja iri jika melihat kalian berdua. Jika aku belum menikah dengan Desi, mungkin saja Herlina sudah aku lamar terlebih dahulu," canda Pak Diandra. Zaki tersenyum menanggapi candaan Pak Diandra.
__ADS_1
"Oh iya, aku lupa! Hem, sekarang lihat rekening kamu Zaki! Aku baru saja mentransfer kamu beberapa juta untuk acara pesta pernikahan kalian," kata Pak Diandra. Zaki segera melihat ponsel nya dan ternyata benar. Ada notifikasi transferan masuk ke rekeningnya dengan jumlah nominal yang tidak sedikit, dua ratus lima puluh juta rupiah. Zaki seketika melotot matanya.
"Pak Diandra! Ini uang apa pak?" tanya Zaki.
"Itu uang sumbangan dari aku untuk kamu, Zaki. Mana tahu kamu ingin membelikan perhiasan untuk calon istri kamu. Atau memberi hadiah kepada Herlina," sahut Pak Diandra.
"Terimakasih, Pak Diandra! Benar-benar Pak bos sangat pemurah, Eh tapi ini bukan uang lemburan kan Pak?" tanya Zaki.
"Tidak! Gunakan sebaik-baiknya yah!" kata Pak Diandra. Zaki mengambil tangan Pak Diandra lalu mencium nya.
"Ih tidak perlu begitu Zaki! Ih jijik aku!" ucap Pak Diandra sambil menarik tangannya yang dicium oleh Zaki. Keduanya berpelukan seperti seorang sahabat. Memang Pak Diandra adalah pimpinan nya namun Diandra menganggap Zaki seperti saudara nya.
Zaki kembali ke ruangan nya dengan wajah berbinar dan ceria. Saat sampai di ruangan nya yang hanya ada Liliana dan juga Herlina, Zaki segera menarik tangan Herlina lalu memeluk tubuh nya erat. Herlina tentu sangat terkejut dengan sikap Zaki yang tiba-tiba memeluk dirinya. Liliana yang melihat pemandangan itu menjadi cemberut.
"Begini rasanya menjadi jomblo akut!" keluh Liliana sambil mendengus kesal. Zaki cuek saja dengan omelan Liliana.
"Ada Apa sih sayang?Kamu seperti nya sangat senang sekali," tanya Herlina.
"Tentu saja aku sangat senang dan gembira, sayang! Pak Diandra baru saja memberikan aku uang dengan jumlah yang banyak, sayang! Setelah pulang dari kantor ini, kita jalan yah. Kita beli perhiasan untuk kamu," ucap Zaki.
"Bukannya kemarin kita sudah membelinya? Kenapa beli lagi sih?" protes Herlina.
"Tidak apa, sayang! Aku ingin membelikan satu set perhiasan yang kemarin kamu menyukai nya tapi aku baru membelikan nya satu set saja," kata Zaki.
"Tidak usah sayang! Yang kemarin saja belum dipakai. Ini kenapa beli lagi sih? Ini namanya pemborosan sayang," ucap Herlina.
"Pokoknya kamu tidak boleh menolaknya!" kata Zaki.
" Kalau Herlina tidak mau, biar untuk aku saja," sahut Liliana. Zaki menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaan aku dulu, mas! Nanti selepas dari kantor kita jalan," sahut Herlina sambil tersenyum. Zaki masih menunjukkan wajah bahagia nya lantaran Pak Diandra memberikan hadiah kepada nya.