
Zaki sudah duduk di depan mama papa nya. Terlihat jelas kalau Zaki seperti di interogasi oleh mama papa nya. Selain itu Zaki seperti sudah menjadi terdakwa untuk menerima segala hukuman yang harus ia jalani. Betapapun Zaki ingin protes dan menentukan keinginan serta pilihannya sendiri. Pilihan untuk menetapkan hatinya pada sosok wanita yang berstatus janda yaitu Herlina. Walaupun saat ini mama papa nya kompak untuk mencegah serta menggagalkan pernikahannya bersama dengan Herlina. Namun kenapa baru sekarang mereka menghalangi dan memutuskan semua nya. Di saat mereka dan keluarga besarnya telah mempersiapkannya sebelumnya serta mendukung proses pelaksanaan pernikahannya dengan Herlina.
Zaki menundukkan kepalanya sedih. Dia benar-benar kecewa dengan keputusan dari mama papa nya. Mereka menghendaki pernikahannya dengan Herlina dibatalkan.
"Mama papa! Pokoknya aku harus menikah dengan Herlina. Aku sudah mantap dengan pilihan aku, ma papa. Walaupun Herlina mengidap penyakit menular atau ganas sekalipun. Tetapi bagi aku, Herlina wanita yang aku cinta. Aku ingin membahagiakan Herlina," ucap Zaki. Mama papa Zaki melebar matanya.
"Kamu ini kenapa sih, Zaki? Banyak wanita-wanita di luar sana yang lebih cantik dari pada Herlina. Kenapa harus Herlina yang kamu pilih sih? Banyak gadis perawan yang menyukai kamu di luar sana, tetapi kenapa kamu malah memilih seorang janda? Apalagi janda ini tidak ada harga dirinya sama sekali. Suka merusak rumah tangga orang lain. Apa sih yang ada di otak kamu ini, hah?" ucap mama Zaki benar-benar geram. Papa Zaki pun ikut marah dengan keras kepalanya Zaki.
"Aku sudah terlanjur mencintai nya, mama! Mama jangan melarang aku dong! Bukannya kita sudah membicarakan nya sebelum nya? Mama papa sudah setuju dan merestui pernikahan aku dengan Herlina. Kenapa ini harus berubah pikiran lagi?" ucap Zaki.
"Dia itu wanita penyakitan, Zaki! Apakah kamu mau memiliki istri yang sakit-sakitan. Pada akhirnya kalian tidak memiliki keturunan dan kami tidak bisa mendapatkan seorang cucu. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan," ucap mama Zaki. Papa Zaki pun masih diam saja. Pada akhirnya angkat bicara.
"Ya sudahlah, ma! Biarkan Zaki tetap menikah dengan Herlina. Lagi pula kalau kita gagalkan acara pernikahan ini, bagaimana kita nantinya menjawab banyak pertanyaan dari orang-orang sekitar kita dan juga keluarga besar Herlina," sahut papa Zaki.
Untuk beberapa saat lamanya Zaki, mama dan papa nya diam.
"Ya sudahlah! Pada akhirnya mama papa pasrah saja dengan kehidupan rumah tangga kamu kelak bersama dengan Herlina. Mama tidak menjamin kalau kamu bisa berbahagia dengan Herlina," ucap mama Zaki akhirnya.
"Mama, aku mohon! Yang terpenting restu mama papa untuk aku supaya bisa menikah dengan Herlina. Soal nanti bagaimana aku menjalani rumah tangga kami, ini sudah menjadi resiko aku," ucap Zaki.
Mama papa Zaki akhirnya menarik nafasnya dalam-dalam. Akhirnya keduanya lepas tangan jika terjadi apa-apa dalam rumah tangga Zaki, putra nya. Baik bahagia atau kecewa, Zaki akan menerima segala konsekuensi nya ketika hidup bersama Herlina dengan masa lalu yang kurang bagus ditambah saat ini Herlina mengidap penyakit yang serius.
Zaki mulai berdiri dari tempat duduknya. Kini Zaki bersalaman dengan mama papa nya secara bergantian. Zaki benar-benar meminta restu untuk menikah dengan Herlina. Walaupun sebenarnya mama papa nya kurang setuju jika dirinya menikahi Herlina yang notabene seorang janda.
__ADS_1
@@@@@@@
Sementara di apartemen Anura, saat ini Herlina sudah meringkuk di atas kasur kamar Anura. Herlina kembali ngedrop dengan kondisi fisik nya. Padahal ponsel nya sejak dari tadi berbunyi, ada panggilan masuk dari beberapa orang. Mungkin saja Zaki dan juga orang tuanya. Anura akhirnya melihat siapa saja yang telah menghubungi Herlina.
"Herlina! Zaki dan juga orang tua kamu mencoba menghubungi kamu. Kamu angkat saja Herlina! Mungkin saja mereka mencari kamu?" ucap Anura sambil menyerahkan ponsel Herlina yang ada di atas meja tidak jauh dari tempat tidur itu. Herlina menerimanya dan menghubungi kembali.
"Iya mama, aku saat ini masih di apartemen Anura! Mama papa tidak perlu mengkhawatirkan aku," ucap Herlina. Anura kini menghubungi Zaki.
"Iya sayang! Aku tidak sedang di rumah mama papa! Aku berada di apartemen Anura, semalam aku menginap di apartemen nya," ucap Herlina.
"Baiklah! Kalau kamu mau ke apartemen Anura. Aku bisa menunggu kamu di sini!" kata Herlina kembali yang saat ini sedang berbicara dengan Zaki melalui sambungan telepon di ponselnya. Anura menatap Herlina sejenak.
"Mereka semua mengkhawatirkan dirimu yah?" tanya Anura.
"Iya, tidak apa-apa! Kamu butuh perhatian Zaki, Herlina! Kamu harus bersemangat. Sabtu, kalian akan melangsungkan pernikahan," kata Anura.
"Benar! Aku tidak mau Zaki bersedih jika aku mundur dari pernikahan ini," kata Herlina. Anura memeluk Herlina.
"Kami yang semangat yah, Herlina! Kamu pasti akan sembuh! Oh iya, ayo kita makan dan kamu harus minum obatnya!" ajak Anura. Herlina segera turun dari tempat tidur itu. Herlina dan Anura berjalan menuju ruang makan.
Herlina makan dengan lahap nya. Kali ini Herlina harus bersemangat supaya sabtu nanti dia lebih fit dan bisa menjalani prosesi pernikahannya dengan Zaki. Dirinya tidak mau sakit. Dia harus sehat. Herlina tidak mau orang-orang melihat dirinya dalam keadaan sakit.
"Ini obat kamu! Diminum yah, Herlina!" ucap Anura sambil menyodorkan obat milik Herlina. Herlina dengan semangat meminum obatnya. Herlina dan Anura saling melemparkan senyuman nya.
__ADS_1
"Kamu tidak ada jadwal syuting hari ini?" tanya Herlina.
"Sebentar lagi! Nanti kalau ada apa-apa hubungi saja aku yah, Herlina!" sahut Anura.
"Iya, terimakasih banyak! Kamu memang sahabat aku yang paling pengertian dan memahami keadaan aku," ucap Herlina.
"Kamu ngomong apaan sih? Aku dan kamu sudah sama-sama kenal lama," ucap Anura.
Suara bunyi bel masuk apartemen itu terdengar. Anura dan Herlina saling pandang.
"Itu calon suami kamu bukan?" kata Anura. Herlina dan Anura segera menuju ruangan depan. Anura membukakan pintu utama Apartemen itu. Zaki melemparkan senyuman nya ketika melihat siapa yang telah membuka pintu itu.
"Halo sayang!" sapa Zaki, Herlina menghambur memeluk Zaki. Zaki mematung dan melihat ke arah Anura yang saat ini memperhatikan dirinya.
"Ada apa sayang! Ayo kita masuk dulu! Malu dilihat Anura loh! Nanti Anura kepingin loh!" ucap Zaki bercanda. Zaki menggandeng tangan Herlina menuju kursi panjang di ruangan apartemen Anura. Anura tersenyum menyaksikan keromantisan diantara keduanya.
"Berhubung sudah ada Zaki, aku boleh berangkat syuting kan?" ucap Anura.
"Eh, iya Anura! Tapi sebenarnya aku juga mau pulang kok! Ini Zaki hanya menjemput aku saja kok," sahut Herlina.
"Oh begitu yah? Tapi aku tidak bermaksud mengusir kalian yah! Aku memang ada jadwal syuting sore ini," kata Anura.
"Iya, aku tahu! Kalau begitu ayo mas Zaki kita jalan! Anura juga mau jalan juga," ajak Herlina kepada Zaki. Herlina segera mengambil tasnya dan mulai berpamitan dengan Anura. Anura pun tidak berselang lama mengunci apartemen nya dan pergi ke lokasi syuting.
__ADS_1