TERJERAT RAYUAN JANDA

TERJERAT RAYUAN JANDA
APARTEMEN ANURA


__ADS_3

Setelah acara kencan malam itu, Pak Zaki mengantar Herlina ke apartemen milik Anura.


"Kenapa kamu memilih tinggal di apartemen teman kamu? Kamu menumpang hidup dengan nya? Bukannya kamu sudah memiliki rumah tinggal sendiri?" beberapa pertanyaan itu lolos saja di mulut Pak Zaki.


"Waduh satu-satu dong bertanya nya." sahut Herlina. Pak Zaki sudah tidak sabar segera ingin mengetahui nya.


"Sebenarnya aku sudah malas menceritakan semuanya." sahut Herlina.


"Ya sudahlah, kalau kamu lagi malas bercerita dengan aku soal itu. Kalau begitu tinggal lah bersama dengan aku! Aku juga tinggal sendiri di apartemen tidak jauh dari sini juga." ucap Pak Zaki. Herlina mengerutkan dahinya.


"Hem, bagaimana yah? Tapi kenapa kamu mengajak aku untuk tinggal bersama dengan kamu? Bagaimana dengan pacar kamu jika mengetahui kalau kamu tinggal satu atap dengan aku?" sahut Herlina.


"Aku belum punya pacar, Herlina! Aku masih bebas! Jangan khawatir tidak akan ada wanita yang akan melabrak kamu seperti Bu Desi." kata Pak Zaki.


"Hem bagaimana yah?" pikir Herlina.


" Ya sudah! Pikirkan semuanya dulu! Nanti malam aku akan menelpon kamu. Oke?" ucap Pak Zaki.


"Oke?" sahut Herlina lalu turun dari mobil Pak Zaki.


@@@@@@@


Herlina kini sudah berada di dalam apartemen milik Anura. Saat Herlina datang tadi, Anura sedang ada tamunya. Tamunya seorang pria yang cukup tampan. Herlina sempat terpana dengan ketampanan dan juga gaya maco serta cool pria itu. Karena Anura dan juga pria itu terlihat serius berbicara, Herlina segera masuk ke kamarnya. Di kamarnya Herlina beristirahat dan menjatuhkan tubuh nya di atas kasurnya. Herlina cukup lelah dengan kegiatan semalam yang benar-benar menguras tenaga nya. Zaki telah beberapa kali melakukan serangan dahsyat bersama dirinya. Sampai kaki Herlina baru terasa pegal. Tidak hanya kaki saja melainkan seluruh badannya terasa pegal semuanya. Herlina akhirnya tertidur karena kelelahan.


Sementara itu, di ruangan tengah ada Anura bersama tamu nya yaitu mantan suaminya, Sultan. Kedatangan Sultan hanya sekedar ingin mengetahui kabar Anura saja. Anura sangat sulit dihubungi oleh Sultan, makanya Sultan datang ke apartemen Anura tanpa memberitahu nya terlebih dahulu.


"Bagaimana kabar Yunita, istri kamu?" tanya Anura.


Sultan terlihat sangat kesal dengan pertanyaan Anura mengenai istrinya, Tinira.


"Sudahlah, jangan membahas masalah itu. Aku kesini kangen dengan kamu, Anura." ucap Sultan. Anura tersenyum tipis.


"Aku tidak merasakan kebahagiaan itu bersama dengan Anura. Setelah menikah dengan nya aku masih kepikiran dengan kamu, Anura. Aku sangat menyesal, kenapa kita harus bercerai waktu itu." kata Sultan.


"Jangan dibahas kembali apa yang sudah terjadi dan kita lewati." sahut Anura. Sultan mendengus kesal.

__ADS_1


"Oh iya, istri kamu kapan melahirkan?" tanya Anura. Seketika Sultan tersenyum ketika mengingat jika dirinya akan memiliki seorang anak.


"Sesuai perhitungan dia minggu lagi, Tinira akan melahirkan. Kamu datanglah ke rumah kami." ucap Sultan.


"Tidak! Aku tidak akan melakukan itu." sahut Anura.


"Yang aku sesalkan kenapa dari rahim Tinira aku mendapatkan keturunan ku? Padahal aku sangat menginginkan anak dari kamu, Anura." kata Sultan. Anura tiba-tiba menunjukkan rasa sebal terhadap Sultan.


"Maaf, aku tidak bisa memberikan kamu anak saat kita masih menjadi pasangan suami istri. Mungkin memang benar kata mama kamu, kalau aku ini wanita mandul. Wanita yang tidak akan bisa memberikan kamu keturunan. Nyatanya semuanya benar adanya. Dengan menikah dengan Tinira kamu akan mendapatkan keturunan itu. Selamat yah, mas!" kata Anura.


"Tapi aku yakin jika kamu tidak mandul seperti apa kata mama aku. Aku percaya jika kamu bisa hamil dan memberikan aku keturunan." ucap Sultan


"Semuanya sudah berlalu. Kita sudah memilih jalan hidup masing-masing. Semoga kamu selalu bahagia dengan Tinira. Dia sudah lama menyayangi kamu, mas. Mungkin saja kasih sayang dan cinta nya kepada kamu lebih besar daripada aku menyayangimu." kata Anura.


"Apakah kamu masih memiliki rasa sayang itu terhadap aku, Anura?" sahut Sultan.


"Tidak! Rasa sayangku terhadap kamu sudah mati dan terkubur setelah kamu melakukan pengkhianatan itu. Kamu melakukan pengkhianatan itu di kamar kita." ucap Anura.


"Semuanya adalah rencana mama dan Tinira. Aku telah dijebak mereka saat itu." sahut Sultan.


"Tetapi sebenarnya aku mencintaimu, Anura. Kenapa mama harus memisahkan kita hanya alasan kamu belum bisa memberikan aku anak." ucap Sultan.


"Semua sudah lewat! Ah sudahlah, aku sangat lapar! Kamu sudah makan belum, mas? Jika belum, ikut makan saja bersama aku di sini." ajak Anura.


"Apakah itu boleh, Anura?" sahut Sultan.


"Boleh! Ayolah! Aku tadi memesan beberapa jenis makanan." ajak Anura. Kedua nya menuju ruang makan dan mulai menikmati makanan yang sudah ada di atas meja itu.


@@@@@@@


Anura dan Sultan menikmati makan siang itu dengan hati yang plong. Keduanya tidak ada dendam dan amarah walaupun mereka sudah resmi bercerai dan bukanlah pasangan suami istri lagi.


" Setelah ini, apa rencana kamu Anura?" tanya Sultan kepada Anura. Anura masih menikmati menu penutup makan siang itu, vla puding coklat. Betapa Anura menyukai menu itu, dan Anura sangat bersemangat menghabiskannya. Hingga saos puding itupun ada yang menempel di sebelah pipi kanan Anura. Sultan tersenyum kecil. Sultan spontan saja mengusapnya dengan tisu. Anura kembali menatap heran dengan Sultan. Perlakuan manis dan perhatian Sultan seperti inilah yang akan sulit dilupakan oleh Anura. Anura cepat- cepat mengusir jauh pergi pikiran yang membuatnya bersedih karena mengingat kenangan manis ketika bersama dengan laki-laki yang di depannya dan bukanlah menjadi suaminya lagi.


" Eh hem, tadi kamu bertanya apa mas?" tanya Anura berusaha membuat suasana seperti biasa kembali.

__ADS_1


"Setelah ini apa rencana kamu, Anura?" Sultan mengulangi pertanyaan yang tadi dilonggarkan kepada Anura.


" Oh itu yah?? Aku ingin tetap eksis di dunia akting," jawab Anura. Sultan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa? Apakah deposit dan tabungan yang aku berikan kepadamu sudah lebih dari cukup?" tanya Sultan.


" Cukup, bahkan bagi aku itu udah sangat besar. Namun aku ingin kesibukan dan kerja, mas." kata Anura. Sultan mencoba mencarikan jalan keluar supaya mantan istri nya itu bisa aktif dan bekerja.


" Ikutlah kerja bersama dengan aku, Anura!" kata Sultan. Anura seketika terkekeh.


" Kenapa? Perusahaan keluarga Wisesa cukup besar dan memiliki anak cabang-cabang di tiap kota. Kamu ingin bekerja di bidang apa, perusahaan keluarga Wisesa memiliki semuanya. Bahkan rumah produksi hiburan, ada di dalamnya. Kamu ingin kerja di bidang apa, Anura? Biar aku membantu kamu." kata Sultan bersemangat.


" Entahlah! Yang pasti aku tidak akan bekerja di perusahaan milik keluarga Wisesa. Ini untuk mencegah permasalahan baru dengan Bu Subangun dan Tinira." kata Anura. Kembali Sultan bersedih.


" Jika saja malam. itu tidak terjadi kejadian konyol di kamar itu, mungkin saja perceraian ini tidak akan terjadi. Padahal aku berniat untuk membawamu ke luar negeri dan menjauh dari permasalahan keluarga besar ku yang mendesak kita supaya kita segera mendapatkan momongan. Tapi kejadian itu sudah terjadi, dan aku sudah melakukan kesalahan itu." ucap Sultan.


" Sudahlah mas! Ini jalan yang terbaik buat kita bukan? Walaupun kita sudah bukan lagi suami istri, namun kita akan tetap baik dan tidak saling dendam." sahut Anura.


" Apakah setelah ini kamu akan cepat- cepat mencari pengganti aku, Anura?" tanya Sultan. Anura kembali terkekeh mendengar nya.


" Kenapa?" tanya Anura.


" Aku tidak akan sanggup jika membiarkan kamu bersama dengan pria lain." jawab Sultan dengan egoisnya.


" Nyatanya kamu pun sudah dengan wanita lain, bahkan kamu sangat menikmati nya bukan?" tuduh Anura. Sultan kalah telak.


" Maaf! Semuanya diluar kesadaran aku." sahut Sultan. Anura hanya tersenyum sinis mendengar nya.


" Aku tidak yakin jika kamu sanggup menolak Tinira. Dua buah perhiasan Tinira dua kali. lebih besar dari punya aku. Kamu pasti akan lebih menyukainya dan memainkan nya." ucap Anura vulgar. Sultan kini tertawa terbahak- bahak.


" Jadi benar bukan? Laki-laki dimana saja sama saja, mas!"sahut Anura. Sultan mengusap wajahnya dengan kasar.


" Tidak Anura! Kamu salah menilai aku! Aku pastikan suatu saat nanti, kita akan kembali bersama lagi." tantang Sultan.


" Tidak akan! Aku akan selalu menjauh dari kamu, mas! Segala jalan yang akan mendekatkan kepada mu harus aku hindari." sahut Anura. Sultan memicingkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2