TERJERAT RAYUAN JANDA

TERJERAT RAYUAN JANDA
RUTINITAS


__ADS_3

Fajar kembali tiba. Pagi yang cerah seperti wajah Anura yang bahagia. Kini Anura telah melepaskan statusnya sebagai seorang janda. Kini Anura sudah menjadi istri Dewa. Sepasang pengantin itu adalah masih enggan untuk membuka mata. Sepanjang malam mereka telah menghabiskan malam panjang di bawah taburan bintang dan bermandikan cahaya bulan. Alam ikut merasakan kehangatan dari cengkraman dua jiwa yang saat ini masih dalam dekapan. Di atas peraduan sesosok laki-laki dan perempuan itu masih saja mengikis jarak. Penyatuan hati dan raga dengan saling memberi dan menerima. Mereka telah sepakat berjanji untuk saling mencinta. Menjalani indahnya dunia dalam manis pahit kehidupan.


Anura lebih dahulu membuka matanya. Di samping nya ada pria tampan yang masih polos mendekapnya. Dirinya pun juga sama halnya tanpa sehelai benang yang menempel di badan nya. Keduanya masih berselimut tebal. Anura tersenyum seraya mengusap wajah Dewa yang masih tertidur karena kelelahan. Betapa di malam tadi, dewa beberapa kali telah menggempur dirinya. Bagian pribadi miliknya masih terasa nyeri, apalagi itu telah lama Anura istirahat tidak melakukan kegiatan intens itu. Berbeda dengan Dewa, hal itu adalah pengalaman pertamanya bermain dan mempermainkan biola. Biola yang baru saja Dewa beli dengan mas kawin berupa emas 175 gram beserta uang tunai 175 juta. Nilai yang tidak seberapa untuk Dewa. Seorang aktor yang cukup dikenal dengan upah yang sangat fantastik. Serta di keluarga besarnya, Dewa salah satu pewaris dari perusahaan ternama di negeri ini.


Anura tersenyum menatap laki-laki yang ia cintai. Anura tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Dewa. Anura menganggap kalau Dewa hanya bercanda dan tidak serius dengan diri nya. Anura mengusap lembut pipi Dewa yang masih memejamkan mata. Anura mendongak kan kepalanya mandang laki-laki yang saat ini mendekapnya. Namun entah beberapa lama, akhirnya mata Dewa membuka. Seutas senyuman tersungging di bibir Dewa.


" Selamat pagi, sayang!" ucap Dewa. Anura tersenyum masih menatap wajah tampan pria itu.


" Pagi!" sahut Anura. Anura makin merapatkan tubuhnya.


" Masih dingin yah?" tanya Dewa. Anura makin menenggelamkan kepalanya di bawah ketiak Dewa. Dewa mencari remote AC ruangan itu. Lalu membuat suhu ruangan itu sedikit menghangat.


"Sudah berapa lama kamu menatap wajahku, sayang?" tanya Dewa sambil mengecup keningnya.


"Lumayan! Ternyata kamu sangat tampan sekali!" ucap Anura.


"Apakah kamu sedang mencoba menggoda ku, sayang?" sahut Dewa.


"Tidak, tidak kok!" kata Anura kembali menutup wajahnya. Takut jika Dewa menyerangnya tiba-tiba.


"Hem, jam berapa sekarang?" tanya Dewa sambil melihat jam di dinding ruangan itu. Jam menunjukkan pukul setengah lima.


" Mandi yuk! Jangan sampai kita kesiangan tidak sholat subuh." ucap Dewa. Anura seketika duduk dan melepaskan pelukan itu. Anura tersenyum lebar melihat pemandangan terpampang nyata di hadapan nya. Anura lupa kalau saat ini dirinya masih polos dan belum berpakaian. Akhirnya Anura turun dari ranjang itu lalu masuk ke kamar mandi. Dewa segera menyusul Anura yang masuk ke kamar mandi ruangan itu. Saat itu Anura belum mengunci kamar mandi itu. Anura membulat matanya ketika melihat Dewa sudah masuk menyusul dirinya.

__ADS_1


" Jangan khawatir, aku tidak akan nakal kok. Kita benar-benar mandi." ucap Dewa seraya ikut membersihkan tubuh Anura. Anura sudah tidak lagi malu- malu dilihat oleh Dewa, suaminya.


" Apakah masih lecet dan perih bagian itu?" tanya Dewa. Anura mengangguk pelan.


Setelah beberapa saat mandi junub, kedua nya berwudhu dan menunaikan sholat subuh bersama- sama untuk pertama kalinya mereka menjadi pasangan suami istri.


" Terimakasih sayang, kamu sudah bersedia menjadi makmum ku." ucap Dewa.


" Aku juga berterima kasih kepada mu, Dewa! Kamu mau menjadi imam ku. Bimbing aku jika aku salah, kita sama- sama berjalan menuju ridho Nya." sahut Anura sambil mencium punggung tangan suaminya. Dewa mengecup kening istrinya dengan kasih sayang.


@@@@@@@


Masih sangat pagi, Anura mulai menyiapkan sarapan untuk Dewa. Hari ini adalah hari ke tujuh menjadi istri dari Dewa. Anura akan memulai aktivitas nya demikian juga dengan Dewa. Kegiatan syutingnya selama satu minggu ini telah ditundanya. Beberapa kontrak sudah ditandatangani masing-masing dari Anura dan juga Dewa. Beberapa masih belum selesai dan ada yang sudah selesai. Setelah menikah keduanya semakin banyak tawaran dan job. Anura dan juga Dewa.


Selagi belum ada tanda-tanda kehamilan, Dewa masih mengijinkan Anura mengambil kontrak kerja. Namun setelah nanti Anura hamil, Dewa akan membatasi Anura untuk bekerja.


"Ada apa sayang? Kamu lihat aku seperti itu? Ada apa sih, hem?" tanya Dewa. Dewa memeluk Anura dari belakang. Kini leher Anura menjadi sasaran ciuman Dewa. Anura menahan geli daerah sana.


"Kamu tampan sekali, Dewa!" ucap Anura sambil melihat bayangan Dewa dari pantulan cermin di depannya. Dewa tersenyum mendengar pujian atau kekhawatiran dari Anura.


"Kamu juga cantik, sayang! Kamu jangan khawatir, sayang! Walaupun di sekitar aku banyak wanita-wanita cantik dan seksi. Namun aku hanya menganggap kamu lah yang paling cantik dan seksi bagi aku," kata Dewa. Kini Anura membalikkan badannya. Mata keduanya saling pandang.


"Aku khawatir jika memilih suami sekeren kamu. Kamu ganteng dan banyak duitnya. Wanita mana yang tidak akan menyukai kamu, Dewa," kata Anura.

__ADS_1


" Kamu juga cantik, keren dan juga pinter nyari duit. Laki-laki mana yang tidak melirik kamu," ujar Dewa. Keduanya tersenyum lebar.


"Sayang! Begini yah! Kita sudah menikah dan menjadi suami istri. Kita harus saling percaya. Walaupun pekerjaan kita penuh resiko. Karena lingkungan kita banyak laki-laki ganteng dan maco demikian juga banyak wanita-wanita yang cantik dan menggoda. Selagi kita saling percaya dan tetap setia. Rumah tangga kita akan langgeng," ucap Dewa.


"Tapi aku boleh kan jika cemburu dengan kamu?" sahut Anura.


"Boleh dong! Asal jangan cemburu buta yah, sayang!" kata Dewa. Anura kini melingkarkan kedua tangan nya ke leher Dewa.


"Cium aku, Dewa!" ucap Anura. Dewa mengerutkan dahinya.


"Hem, kamu kepingin itu yah?" tuduh Dewa.


"Ih kamu! Maksudnya cium di sini!" sahut Anura. Dewa mengecup kening Anura dengan lembut.


"Sudah? Mau lagi?" tanya Dewa. Anura tersenyum simpul.


"Sudah cukup! Dewa, nanti siang, jam istirahat kita mampir ke rumah Herlina yah. Aku ingin menjenguk Herlina. Semoga Herlina lebih baik dan sehat wal afiat," kata Anura.


"Iya, nanti kita menjenguk Herlina! Sudah hampir sepuluh hari kita tidak mengunjungi dirinya," sahut Dewa.


"Kemarin Herlina chat ke aku, sayang! Dia sudah lebih baik setelah menjalani perawatan di luar negeri," kata Anura.


"Syukurlah! Herlina bisa melalui masa-masa tersulit nya," ucap Dewa.

__ADS_1


"Iya, keajaiban Tuhan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki Nya," sahut Anura.


"Kalau begitu, ayuk kita berangkat! Aku akan mengantarkan kamu ke lokasi syuting," ajak Dewa.


__ADS_2