
Zaki terus mengejar Zenni. Sampai di pinggir jalan Zaki menarik tangan Zenni ke dalam suatu bangunan di kantor perusahaan nya.
"Zenni, sayang! Kenapa kamu berlari dari aku? Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" tanya Zaki sembari memegang kedua bahu Zenni. Zenni masih terisak dalam tangis nya. Kepala Zenni menunduk menyembunyikan kesedihan, kecewa, kecemburuan nya. Prasangka nya sangat buruk ketika melihat suaminya datang bersama sang mantan, Herlina.
"Kamu, kamu bersama dengan Herlina, kekasih kamu dulu kan mas? Apa yang kalian lakukan berdua. Aku hampir satu jam lebih datang dan menunggu di ruangan kamu. Kamu dan Herlina kemana, mas? Katakan? Apakah kalian sedang berselingkuh di belakang aku?" tuduh Zenni. Zaki menarik nafasnya dalam-dalam.
"Hai! Hai, apa yang kamu katakan Zenni sayang? Aku memang sama-sama masuk ke dalam ruangan itu. Namun aku dan Herlina ada urusan lain. Tadi tiba-tiba saja Pak Diandra memanggil aku setelah aku ke toilet. Sedangkan Herlina aku rasa ke toilet dan setelah itu ada urusan lain," jelas Zaki.
"Kamu bohong mas! Kamu sudah selingkuh! Padahal aku sudah membuatkan kamu makanan dan saat ini aku mengantarkan nya di kantor kamu. Tapi apa yang aku dapatkan? Kamu bahkan bermain api dengan mantan kamu, mas," ucap Zenni dengan kemarahannya.
"Sayang! Kamu salah paham, sayang! Ini semua tidak sesuai dengan apa yang kamu tuduh kan! Zenni sayang! Ayo kita masuk ke ruangan aku. Kita makan bersama yuk!" ajak Zaki dengan lembut. Zenni menurut semua apa kata Zaki. Air mata Zenni diusapnya dengan lembut.
"Mas Zaki! Tapi aku malu! Aku pulang saja dulu!" ucap Zenni yang kemudian kakinya terhenti untuk melangkah. Zaki tersenyum menatap istrinya yang matanya merah karena bekas menangis.
"Malu dengan siapa sih? Ayo tidak apa- apa," ucap Zaki sambil menarik tangan Zenni.
"Aku malu dengan Liliana dan juga Herlina," sahut Zenni dengan cemberut bibir nya.
"Tidak Apa-apa sayang! Mereka tidak menggigit kok," ucap Zaki sambil tetap menggenggam tangan Zenni.
@@@@@@@
Satu bulan kemudian. Di lokasi syuting.Di luar negeri. Sementara di tempat lain. Dewa menyusul istrinya, Anura.
" Di mana pak Dewa? Baiklah, saya akan menjemput Pak Dewa di bandara." kata Fatika sambil menutup panggilan masuk dari bos nya, Dewa.
" Pria ini selalu bisa membuat Anura seperti seorang putri," gumam Fatika asisten baru Anura. Fatika segera menjemput Dewa di bandara. Sedangkan Anura masih sibuk menjalani syutingnya di lokasi itu.
__ADS_1
@@@@@@@
Satu bulan kemudian. Di luar negeri.
" Di mana kalian tinggal selama ini?" tanya Dewa.
" Kami di penginapan yang sudah disiapkan oleh pihak management," jelas Fatika.
" Baiklah, kamu bisa pergi! Jangan bilang dulu dengan Anura kalau aku sudah tiba di sini. Aku ingin memberikan kejutan padanya." ucap Dewa sambil meminum kopi di gelasnya. Fatika keluar dari ruangan itu. Ruangan kamar hotel dengan fasilitas yang mewah. Namun sebelum Fatika keluar dari pintu kamar itu Dewa memanggilnya.
" Fatika! Kirim lokasi di mana Dewa sedang syuting film, biar aku yang akan ke sana dan memberikan kejutan itu kepada Anura," kata Anura. Fatika tersenyum mendengar nya.
" Baik Pak Dewa! Akan saya kirim lokasi syuting film itu." sahut Fatika dengan hormat.
@@@@@@@
Di lokasi Syuting.
Om Tono mendekati Anura dan membisikkan sesuatu.
" Anura anggap saja kamu berciuman dengan suami kamu, Dewa. Oke?" bisik Om Tono. Anura mengerucut bibirnya. Tono menjadi gemas.
" Ayo, kita bisa mulai!" teriak Tono.
Setelah Tono meneriakkan 'action!' itu dengan keras, Anura dan Mario benar-benar melakukan ciuman itu. Mario mulai ganas mencium Anura dan sesekali nakal menggigit bibir Anura dengan gemas. Anura yang tahu kalau Mario sedang membuatnya marah, Anura membalas ciuman itu dengan liar dan benar-benar menggigit nya. Mario menahan semua itu supaya adegan itu benar-benar natural. Walaupun Mario tiba-tiba menahan gejolak nya dan tiba-tiba bagian bawah miliknya benar-benar menegang, namun Mario harus tetap profesional melakukan adegan ciuman itu. Sampai akhirnya sang Sutradara menyudahi adegan itu dengan tepukan tangan yang nyaring.
" Sempurna! Kalian benar-benar melakukan itu seperti nyata." ucap Om Tono. Anura meringis menahan pedih di mulutnya. Apalagi Mario demikian halnya. Om Tono yang melihat keduanya menjadi tertawa terbahak- bahak.
__ADS_1
" Kamu menggigit nya?" tanya Om Tono kepada Anura.
" Mario yang mulainya, Om!" sahut Anura. Mario melotot tajam.
" Ganas sekali wanita ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sudah di atas ranjang." ucap Mario. Spontan saja Mario di pukul Kepala nya oleh Anura dengan botol minuman. Mario semakin tertawa meledek Anura.
Di kejauhan ada pasang mata yang melihat kejadian itu dengan kemarahan dan juga kecemburuan. Namun karena kerinduan yang membuncah dan tidak ingin mempermasalahkan semua itu, akhirnya hanya menarik nafasnya supaya lebih memaklumi dunia akting itu. Seseorang yang memiliki pasang mata itu adalah Dewa. Kini Dewa mendekati Om Tono, Mario, Anura.
" Hai!" sapa Dewa seraya membuka kaca mata hitam yang dipakai nya. Anura seketika terkejut dengan keberadaan Dewa di dekat nya. Anura menghambur ke arah Dewa lalu memeluknya. Mario dan om Tono menelan ludahnya sendiri melihat kemesraan suami istri itu. Kini giliran Dewa melakukan ciuman panas itu di depan mereka. Seketika mereka menutup mata mereka tidak ingin melihat nya. Sampai akhirnya Anura mendorong pelan Dewa karena sengaja melakukan hal itu di depan banyak orang.
" Apakah kamu cemburu, Dewa? Kamu sengaja mencium istri kamu di depan kami semua karena kamu melihat adegan terakhir tadi?" tuduh om Tono yang merupakan sahabat dekat Dewa.
" Bukannya aku sudah bilang? Aku tidak ijinkan istri aku melakukan adegan ciuman pada laki-laki siapa pun. Kenapa kamu membiarkan istri aku berciuman, hah?" protes Dewa. Om Tono hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ayo sayang! Aku akan menghukum kamu!" ucap Dewa seraya menarik tangan Anura menuju ke mobilnya.
@@@@@@@
Dewa membawa Anura ke hotel, tempatnya menginap selama di negara itu. Kali ini Dewa benar-benar akan meluapkan segala rindukan yang membuncah. Selain itu karena Anura telah melanggar janjinya dengan mengambil adegan romantis dalam film itu, Dewa berencana akan menghukum Anura. Tentu saja hukuman yang mengungkung Anura dalam kenikmatan yang tidak bisa lepas dari cengkraman Dewa. Anura paham akan hal itu. Suaminya bakal menjadi sosok yang ganas dan liar ketika sudah di atas permainan ranjang bersama dengan dirinya. Setelah Dewa membopong tubuh Anura dan meletakkan pelan di atas peraduan seperti benda yang tidak boleh pecah, Dewa mulai dengan aksi liarnya menimpa dan membuat kuncian.Anura hanya pasrah jika Dewa seperti kesetanan seperti itu. Anura sesaat menikmati segala sentuhan, ciuman, dari pria yang sudah menjadi suami nya itu. Sudah hampir satu bulan, Anura tidak melakukan penyatuan itu.
Di ruangan yang luas dengan perabotan yang mewah berada di dalam. Di ruangan itu kini berserakan pakaian Anura dan Dewa di lantai itu. Dua insan yang berlainan jenis itu sama- sama mengeluarkan suara sumbang dari bibirnya. Dengan alunan gerakan yang intens keduanya terlihat kompak sama- sama mempermainkan peranannya. Awalnya Anura ada di bawah dan terkungkung dalam kenikmatan permainan Dewa, sampai gilirannya si Dewa menuntut lebih untuk mengendalikan permainan itu. Hingga akhirnya Dewa mendominasi dan mengguncang- guncang dengan kasar dan liar Anura. Suara mereka saling bersahutan menciptakan irama yang indah dan memenuhi ruangan itu. Sampai akhirnya Dewa menyudahi kegiatannya setelah dirinya memekik karena sesuatu yang dari dalam hendak menyembur dengan hangatnya. Anura ikut menjerit dan tidak perduli jika suaranya bisa tembus ke luar tembok. Kedua insan itu tanpa ragu melakukan bahkan menjerit tanpa ditahan lagi dengan disaksikan dinding-dinding ruangan itu. Setelah nya keduanya terkulai lemas dan saling mengatur nafasnya yang memburu.
Tidak puas dengan satu kali permainan, Dewa tidak membiarkan Anura tidur karena kelelahan. Kembali Dewa mengungkung tubuh yang mulus dan benar-benar menggoda itu. Ciuman kembali terjadi. Dewa ingin mengulangi permainan panas di kamar hotel itu. Anura hanya memejamkan mata, tatkala Dewa mulai berada di bawah sana memberikan kejutan dari permainan nakal lidahnya. Anura menggeliat dan mulai mendes@h. Pinggulnya sedikit dia naikkan. Dewa tidak akan membiarkan bibir Anura hanya diam saja. Suara yang keluar dari mulut Anura membuat Dewa semakin tertantang dan penuh semangat.
"Dewa! Aku haus." ucap Anura lirih.Dewa yang mendengar suara itu menjadi kasihan. Diambilnya minuman di meja dekat tempat peraduan itu. Dewa memberikan nya pada Anura. Kembali Dewa melakukan kegiatan yang sama hingga Anura benar-benar merasakan sesuatu yang membuncah segera keluar dari dalam dirinya. Kepala Dewa sedikit dia tekankan di bawah sana. Sesaat Anura menegang dan sesuatu yang hangat itu keluar dari sarang itu. Tanpa rasa jijik, Dewa masih saja menyesap dan memainkan lidahnya. Anura benar-benar lemas karena ulah Dewa. Kini giliran Dewa mulai melakukan kegiatan memompa barang tumpul yang sedari tadi menegang dan mengeras. Tubuh Anura berguncang dengan cepat mengikuti permainan Dewa yang brutal. Suara itu sangat sumbang terdengar memenuhi kamar hotel itu. Cukup lama Dewa melaksanakan kegiatan itu, sampai Anura benar-benar merasakan letih. Beberapa kali merubah posisi sampai akhirnya Dewa menyudahi kegiatan itu setelah cairan kental yang dinantikan itu keluar lagi dan menyembur ke dalam rahim Anura. Dewa ambruk di atas tubuh istrinya. Seutas senyuman dan rasa puas terukir dalam wajah nya. Kecupan lembut itu akhirnya mendarat di kening Anura.
" Terimakasih sayang! Semoga di sini bakal jadi buah hati kita." ucap Dewa sambil mengusap perut Anura yang rata.Anura tersenyum karena tangan kekar Dewa membelainya dengan lembut.
__ADS_1
" Kamu nakal sekali, Dewa! Kamu seperti balas dendam karena satu bulan tidak mendapat jatah dari aku." ucap Anura seraya menenggelamkan di dalam ketiak Dewa.
" Satu karena aku ingin menunaikan kewajiban aku sebagai suami dan kedua kalinya karena itu hukuman buat kamu karena kamu melanggar janji kamu. Janji tidak melakukan adegan ciuman dengan lawan akting kamu." kata Dewa sambil terkekeh melihat bibir manyun Anura.