
Sementara di rumah kediaman mama papa Zaki. Mama papa Zaki dan beberapa keluarga besar Zaki saat ini telah berkumpul. Mereka sedang membicarakan rencana pembatalan pernikahan Zaki bersama dengan Herlina.
"Keputusan kami berdua sudah bulat! Pernikahan ini tidak akan dilaksanakan. Sang calon pengantin saat ini sedang sakit parah. Ini akan menjadikan alasan yang tepat untuk menggagalkan pernikahan Zaki dengan Herlina. Segala sesuatu yang sudah kita persiapkan bersama, akan kita batalkan. Bila besok kita pasang banner di gedung tempat acara dengan tulisan bahwa pernikahan Zaki dengan Herlina di undur karena sesuatu hal. Ini lebih aman supaya tidak terjadi banyak pertanyaan dari beberapa kolega yang sudah kita beri undangan pernikahan antara Zaki dan Herlina," ucap papa Zaki kepada mama dan juga keluarga besar mereka. Mereka manggut-manggut menyepakati segala keputusan itu.
"Kami akan mengumumkan di media sosial kalau pernikahan Zaki dan Herlina diundur," sahut paman dari Zaki.
"Kamu atur segala sesuatunya supaya aman saja!" ucap papa Zaki.
"Dari awal sudah aku bilang. Kalau calon istri Zaki itu sudah sakit-sakitan. Tapi Zaki nekat saja dengan kemauan nya. Akhirnya begini jadinya," ucap mama Zaki tidak mau disalahkan.
"Sudahlah ma, jangan lagi kita bahas! Sekarang kita lebih baik menjenguk Herlina. Supaya keluarganya juga tidak akan menyalahkan kita jika kita pada akhirnya menggagalkan rencana pernikahan Zaki dan juga Herlina," ucap papa Zaki.
"Benar papa! Kita ke sana sekarang!" sahut mama Zaki.
"Jangan lupa! Kita harus menghubungi kantor Urusan agama untuk menggagalkan acara ijab kabul yang rencananya akan dilaksanakan hari sabtu pagi. Kalau kita tidak segera mengambil tindakan, mama takut Zaki akan nekat menikahi Herlina di rumah sakit," ucap mama Zaki. Papa Zaki mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu sangat cerdas sekali sih, ma! Papa sampai tidak kepikiran soal itu!" sahut papa Zaki.
"Mama jelas paham sifat keras kepala Zaki. Dia akan nekat menikahi janda itu walaupun tanpa adanya pesta pernikahan," kata mama Zaki tersenyum menyeringai. Papa Zaki menarik tangan mama Zaki supaya mengajaknya bersiap untuk menjenguk Herlina di rumah sakit.
@@@@@@@
Sementara di rumah sakit, Herlina sudah dipindahkan di kamar perawatan inap. Di samping Herlina duduk Zaki dengan memegangi tangannya. Zaki berharap Herlina segera sembuh dari penyakit yang dideritanya.
"Mas Zaki! Apakah kita tidak jadi menikah?" tanya Herlina. Besok adalah hari dimana mereka seharusnya duduk seperti raja dan ratu dalam sehari. Namun karena Herlina saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit, pesta pernikahan itu belum bisa dilaksanakan.
"Jadi dong sayang! Kita akan menikah di sini yah! Kamu tidak apa-apa kan jika aku menikahi kamu di rumah sakit ini?" ucap Zaki. Herlina melebarkan matanya.
"Bagaimana dengan mama papa kamu, mas? Mereka pasti akan kecewa dengan pernikahan seperti ini. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita mas! Masih ada hari lainnya. Kalau kita berjodoh kita akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan," ucap Herlina tiba-tiba sangat bijaksana. Zaki menggenggam erat tangan Herlina. Zaki seperti tidak mau kehilangan Herlina barang sedikitpun.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku menunda-nunda untuk menikahi kamu, sayang! Bagaimana juga aku akan mengupayakan kita bisa menikah di sini, sayang! Aku yakin mama papa kamu mengerti dan mengijinkan kita menikah di sini," ucap Zaki.
"Bagaimana dengan keluarga kamu, mas! Mama papa dan juga keluarga kamu pasti tidak akan mengijinkan kamu menikah dengan cara seperti ini, Dan mungkin saja keluarga besar kamu akan menggagalkan pernikahan kita karena aku wanita yang sakit-sakitan," ucap Herlina. Zaki menutup bibir Herlina dengan telunjuk nya.
"Herlina sayang! Jangan katakan itu lagi yah, sayang! Mama papa pasti akan mengijinkan aku mengucapkan akad nikah di rumah sakit ini. Di kamar ini, sayang!" kata Zaki sangat yakin.
"Semoga saja! Tetapi jika kita gagal menikah, kamu jangan bersedih dan kecewa yah mas! Kamu jangan membenci mama papa kamu. Mereka sangat menginginkan kamu hidup bahagia. Walaupun nanti bukan aku wanita itu," ucap Herlina.
"Sayang!" sahut Zaki. Rasanya Zaki tidak mau mendengar jika pernikahan mereka gagal.
@@@@@@@
Banyak yang menjenguk Herlina di rumah sakit itu. Pak Diandra dan juga bu Desi pun datang berkunjung. Mereka sangat prihatin jika pernikahan antara Zaki dengan Herlina harus ditunda. Demikian juga Akila ikut menjenguk Herlina di rumah sakit tersebut.
Ketika Bu Desi berjumpa dengan Akila dengan wajah yang tidak sesempurna dulu, Bu Desi merasa sangat bersalah. Bu Desi akhirnya memeluk Akila dan meminta maaf.
"Aku minta maaf Akila! Gara-gara aku wajah kamu menjadi seperti ini!" kata bu Desi saat berjumpa dengan Akila di tempat duduk depan kamar Herlina di rawat.
Akila memang masih menaruh dendam dan juga kebencian kepada Bu Desi. Walaupun Pak Diandra telah memberikan uang ganti rugi dan biaya pengobatan terhadap Akila. Namun rasa nya masih belum puas, saat itu seseorang yang telah membuat dirinya mengalami kecelakaan itu tidak datang kepada dirinya untuk meminta maaf.
"Maaf Akila! Saat itu aku benar-benar takut jika..." ucap Bu Desi. Akila tersenyum sinis terhadap bu Desi.
Bu Desi segera menjauh dari Akila dan duduk di dekat Pak Diandra, suaminya yang saat ini sedang duduk bersama mama papa Herlina untuk memberikan kekuatan.
Anura yang berada di tempat itu hanya menyaksikan teman-teman Herlina yang tidak dia kenalnya. Sesekali Pak Diandra melihat ke arah Anura. Pak Diandra seperti mengenal Anura.
"Wanita yang duduk sendiri dengan mama kamu itu siapa, Zaki?" bisik Pak Diandra. Zaki melihat ke arah Anura.
"Oh itu sahabat Herlina," sahut Zaki.
__ADS_1
"Maksudnya dia siapa? Sepertinya aku sangat familiar melihat wanita itu!" bisik Pak Diandra.
"Tentu saja, pak Diandra sering melihat wajahnya. Dia itu aktris dan sering nongol di televisi dan layar lebar," ucap Zaki.
"Oh iya! Tapi bukan itu maksud aku. Sepertinya aku pernah berjumpa dengan wanita itu. Tapi di mana yah? Eh. oya dia seperti nya istrinya pak Sultan. Iya benar, saat itu pak Sultan datang dengan istrinya dan mengenakkan padaku," ucap Pak Diandra.
"Tapi dia seorang janda, bos!" sahut Zaki.
"Oh iya benar! Pak Sultan sudah cerita dengan aku kalau dia sudah bercerai dengan istrinya dan menikah lagi dengan wanita lain. Walaupun Pak Sultan kalau cerita dengan aku, masih mencintai istrinya ini," terang Pak Diandra. Bu Desi yang duduk di dekatnya menjadi mendengarkan pembicaraan kedua cowok itu.
"Oh begitu yah, Pak?" sahut Zaki.
"Jadi setelah ini bagaimana kelanjutan kamu, Zaki? Padahal besok sudah hari H pernikahan kalian," tanya Pak Diandra pelan.
"Entahlah Pak Diandra! Saya juga bingung! Saya ingin menikahi Herlina di rumah sakit ini. Namun keluarga besar saya sudah membatalkan dan tidak setuju jika saya harus menikah di rumah sakit ini," ucap Zaki dengan menundukkan kepalanya sedih.
"Kamu yang sabar yah, Zaki! Kalau sudah jodoh tidak akan kemana," sahut Pak Diandra sambil mengusap punggung Zaki dengan pelan.
"Iya Pak bos!" sahut Zaki.
"Zaki, sebenarnya aku ingin berbicara dengan mantan istri Pak Sultan itu. Tapi Desi di sini. Kamu tahu kan Desi sangat cemburuan," bisik Pak Diandra.
"Iya Pak! Memangnya ada hal apa Pak, ingin berbicara dengan Anura, mantan istri teman Pak Diandra itu?" tanya Zaki kepo.
"Sultan sebenarnya masih mencintai wanita itu. Sebenarnya aku hanya ingin membantu mereka saja supaya kembali rujuk," ucap Pak Diandra.
"Sulit Pak! Anura itu susah ditaklukkan. Dia pendirian nya kuat. Walaupun dia seorang janda," sahut Zaki.
"Wanita yang menarik! Oke deh kamu yang sabar yah Zaki. Semoga Herlina cepat pulih. Aku dengan istri aku pamit pulang dulu," kata Pak Diandra. Desi dan Pak Diandra akhirnya pamit dengan beberapa keluarga besar mereka baik dari keluarga besar Herlina maupun Zaki.
__ADS_1
Sedangkan Bu Desi masih ada rasa takut jika berhadapan dengan Akila yang masih di sana bersama teman nya.