
Zaki kembali ke ruangan nya dengan wajah berbinar dan ceria. Saat sampai di ruangan nya yang hanya ada Liliana dan juga Herlina, Zaki segera menarik tangan Herlina lalu memeluk tubuh nya erat. Herlina tentu sangat terkejut dengan sikap Zaki yang tiba-tiba memeluk dirinya. Liliana yang melihat pemandangan itu menjadi cemberut.
"Begini rasanya menjadi jomblo akut!" keluh Liliana sambil mendengus kesal. Zaki cuek saja dengan omelan Liliana.
"Ada Apa sih sayang?Kamu seperti nya sangat senang sekali," tanya Herlina.
"Tentu saja aku sangat senang dan gembira, sayang! Pak Diandra baru saja memberikan aku uang dengan jumlah yang banyak, sayang! Setelah pulang dari kantor ini, kita jalan yah. Kita beli perhiasan untuk kamu," ucap Zaki.
"Bukannya kemarin kita sudah membelinya? Kenapa beli lagi sih?" protes Herlina.
"Tidak apa, sayang! Aku ingin membelikan satu set perhiasan yang kemarin kamu menyukai nya tapi aku baru membelikan nya satu set saja," kata Zaki.
"Tidak usah sayang! Yang kemarin saja belum dipakai. Ini kenapa beli lagi sih? Ini namanya pemborosan sayang," ucap Herlina.
"Pokoknya kamu tidak boleh menolaknya!" kata Zaki.
" Kalau Herlina tidak mau, biar untuk aku saja," sahut Liliana. Zaki menjulurkan lidahnya.
"Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaan aku dulu, mas! Nanti selepas dari kantor kita jalan," sahut Herlina sambil tersenyum. Zaki masih menunjukkan wajah bahagia nya lantaran Pak Diandra memberikan hadiah kepada nya.
Sepulang dari kantor Zaki mengajak Herlina pergi ke toko perhiasan seperti yang telah Zaki janjikan kepada nya. Di toko itu, Zaki langsung meminta ke pelayan toko perhiasan satu set perhiasan limited edition. Kemarin sebenarnya Zaki ingin membelikan dua set perhiasan itu sekaligus, namun masih ada kepentingan yang lainnya. Sehingga karena pak Diandra memberikan uang sebagai hadiah atau sumbangan, Zaki merasa uang pemberian dari Pak Diandra buat Herlina sebagai hadiah untuk nya.
"Mas, ini terlalu mahal sayang! Lebih baik di tabung saja uangnya atau untuk keperluan lainnya," bisik Herlina. Zaki tersenyum saja dengan ucapan Herlina.
__ADS_1
"Tenang saja sayang! Aku masih memiliki banyak tabungan dan segala biaya pernikahan kita sudah aman sayang," ucap Zaki.
"Mbak perhiasan nya jadi kita ambil yah, mbak! Silakan dibungkus saja!" kata Zaki.
"Baik, pak! Kami akan membungkus nya dan membuatkan surat kwitansi nya. Silakan bapak dan ibu menunggu sebentar," kata pelayan toko perhiasan tersebut.
Herlina terdiam melihat Zaki tetap nekat memberikannya perhiasan itu. Padahal Herlina sudah tidak berminat lagi. Bagi nya saat ini dia ingin selalu berada di dekat Zaki, itu lebih daripada cukup. Penyakit yang semakin hari semakin menggerogoti tubuh nya membuat Herlina kurang bersemangat untuk mengejar segala keinginan dan kemewahan dunia. Herlina takut jika penyakitnya akan diketahui oleh Zaki.
"Kamu kenapa sayang? Jangan sedih gitu dong! Aku ingin kamu selalu tampil cantik. Apalagi dengan menggunakan perhiasan itu, kamu akan terlihat semakin memukau," kata Zaki sambil menggenggam tangan Herlina yang dingin.
"Iya mas! Hanya saja apa kita tidak terlalu berlebihan dan boros jika membeli banyak perhiasan?" sahut Herlina.
"Tidak apa-apa sayang! Anggap saja kita berinvestasi, yah kan?"kata Zaki.
" Oh iya, kenapa tangan kamu dingin sekali sih? Kamu kenapa sayang?" tanya Zaki yang mulai mengkhawatirkan Herlina.
"Oh ya sudah! Setelah ini kita makan yah, sayang!" kata Zaki penuh perhatian.
@@@@@@@
Saat makan bersama itu, ketika Zaki sedang berada di toilet, Herlina segera meminum obatnya. Obat yang akan selalu rutin di minum oleh Herlina untuk mencegah penyakitnya menyebar dan menghilangkan rasa nyeri yang Herlina rasakan.
"Kamu sudah selesai makan nya sayang?" tanya Zaki setelah sekembalinya dari kamar mandi. Herlina mulai bangkit dari tempat duduknya dan berdiri.
__ADS_1
"Sudah, mas!" sahut Herlina.
"Kita mampir ke rumah mamaku dulu yah! Tadi mama menelpon aku, supaya mengajak kamu ke rumah. Katanya mama sudah memasak rendang. Mama ingin kita makan bersama malam ini," ujar Zaki.
"Loh, kita kan habis makan mas? Mau makan lagi?" sahut Herlina.
"Tidak apa-apa untuk menghargai mama papa. Mereka ingin kita makan bersama malam ini," ucap Zaki.
"Baiklah! Kalau begitu aku harus membelikan oleh-oleh untuk mama papa kamu, mas," kata Herlina. Zaki mengerutkan dahinya.
"Tidak usah! Di rumah sudah banyak makanan kok, sayang!" sahut Zaki.
"Tidak apa-apa, mas! Alangkah baiknya anak muda seperti kita kalau datang ke rumah orang tua membawa oleh-oleh. Mama papa kamu menyukai apa, mas?" kata Herlina.
"Mama papa tidak pemilih kok! Apa saja suka," ujar Zaki.
"Kalau begitu kita ke toko kue saja, mas! Aku ingin membelikan kue basah atau kue kering untuk di rumah," ucap Herlina.
"Oke! Calon menantu yang sayang dengan mertua," kata Zaki. Herlina nyengir kuda. Zaki menggenggam tangan Herlina menuju toko kue yang tidak jauh dari toko perhiasan tersebut. Kedua pasangan itu terlihat mesra. Sampai beberapa pasang mata melihat mereka dengan rasa iri.
"Kenapa mereka melihat kita dengan tatapan seperti itu yah, mas?" ucap Herlina merasa sedikit risih ketika menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Itu Lantaran kita adalah pasangan yang serasi. Aku ganteng dan kamu sangat cantik," sahut Zaki.
__ADS_1
"Benarkah? Aku ingin seperti ini terus sampai maut memisahkan kita, mas!" ucap Herlina lirih. Herlina kembali bersedih, entah sampai berapa lama dirinya akan bertahan dengan penyakitnya. Sedangkan dirinya kini sudah divonis dokter dengan penyakit yang sudah parah.
"Aamiin!" sahut Zaki. Herlina tersenyum sambil mengeratkan tangannya digenggaman tangan Zaki.