
Di kantor ruangan Zaki. Di sana masih ada Zaki, Liliana dan juga Herlina. Mereka masih berkutat di depan laptopnya. Di saat suasana yang sibuk dengan kerjaan nya, ada suara ketukan pintu ruangan itu. Seorang wanita datang dan membawa tupperware seperti biasanya.
"Halo semua!" sapa Zenni istri Zaki. Zenni duduk di kursi kosong itu setelah menjabat tangan suami nya, Herlina dan Liliana. Tupperware itu diletakkan nya di atas meja Zaki.
"Mas Zaki! Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu, mas! Rendang jengkol dan juga kerang sambel," ucap Zenni seraya menunjuk ke tupperware yang ia bawa tadi. Herlina dan juga Liliana masih fokus di depan laptopnya dan sesekali hanya melirik kedua pasangan suami istri di sebelah nya.
"Halo Liliana dan Halo Herlina!" sapa Zenni ceria.
"Halo!" sahut Herlina dan juga Liliana secara bersamaan. Namun keduanya kembali fokus dengan kerjaan nya membuat laporan. Zenni merasa dicueki oleh ketiga orang di ruangan itu.
"Sibuk semuanya yah?" ucap Zenni.
"Iya, sayang! Semua lagi kerja dan fokus bikin laporan. Kamu kalau sudah tidak ada kepentingan, lebih baik pulang saja, yah!" ucap Zaki. Herlina dan Liliana seketika mendongakkan kepala melihat pasangan istri itu secara bergantian.
"Enggak ah! Aku masih mau di sini! Kita akan makan bersama," ucap Zenni.
__ADS_1
"Tapi setelah ini kami mau ada jadwal meeting sayang! Kamu lebih baik pulang yah!" ucap Zaki. Zenni cemberut bibir nya.
"Pokoknya aku mau di sini! Oh iya Herlina dan Liliana! Saat ini aku sedang hamil loh!" ucap Zenni dengan wajah yang ceria.
"Wah, benarkah? Selamat yah, Zenni! Jaga kandungan kamu yah?" sahut Herlina.
"Tentu saja! Aku akan menjaga kandungan ini seperti menjaga suami aku dari godaan pelakor, wanita yang suka menggoda dan merusak rumah tangga seseorang," ucap Zenni penuh sindikat. Liliana dan Herlina saling pandang. Zaki menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Zenni, ayuk kita makan di kantin saja!" ajak Zaki. Zaki tidak ingin istrinya membuat ulah dan keributan di ruangan kerja itu. Zaki menarik tangan istrinya, Zenni ke kantin di depan perusahaan itu.
"Eh sebentar, sayang! Tupperware yang aku bawa untuk kamu," ucap Zenni sambil menyambar tupperware yang berisi makanan yang tadi dibawa oleh Zenni.
"Aku kok lama-lama menjadi enek yah melihat istrinya Zaki. Dia itu suka sekali memamerkan perhatian nya di depan kita," ucap Liliana.
"Kenapa? Hak Zenni, dia kan istri Zaki! Wajar kan kasih perhatian pada suaminya," sahut Herlina.
__ADS_1
"Tapi ini di kantor! Kadang sangat lebay banget! Tadi juga seperti menyindir kamu juga," kata Liliana.
"Tidak Apa-apa! Itu artinya Zenni sangat mencintai Zaki dan takut kehilangan Zaki. Apalagi ada aku yang dia ketahui adalah mantan Zaki," ucap Herlina.
"Kapan kamu akan menikah Herlina?" tanya Liliana.
"Menikah dengan siapa sih?" tanya Herlina.
"Pacar kamu yang baru!" sahut Liliana.
"Tidak ada kok!" kata Herlina.
"Kalau kamu menikah, muncul Zenni tidak lagi sering-sering ke mari," kata Liliana.
"Setelah aku gagal menikah dengan Zaki, aku sudah malas memulai hubungan yang serius. Entah kenapa, pokoknya takut saja dikecewakan oleh laki-laki lagi," kata Herlina. Kini Herlina merebahkan punggungnya di kursinya.
__ADS_1
"Kita jajan bakso dulu di depan kantor yuk!" ajak Liliana.
"Ayolah!" sahut Herlina. Keduanya bangkit dari kursinya dan menyambar tas kecilnya keluar dari ruangan itu.