
Reine terlihat lahap ketika menyantap menu makan malam yang disediakan oleh ibu asrama. Walau baru sebentar, tapi rasanya sudah bertahun-tahun tidak makan makanan enak dan lezat. Satu-satunya makanan yang cocok di lidah Reine hanya makanan yang di masak oleh ibu asrama. Selain itu akan terasa tidak enak. Meskipun di istana koki yang memasak makanan termasuk koki pilihan.
Berbeda dengan Reine yang terlihat sangat lahap ketika menghabiskan makan malamnya. Sedangkan Mora justru tidak berselera. Menu yang disajikan memang beraneka ragam. Tapi rata-rata masakan itu sangat manis. Sedangkan Mora lebih suka makanan pedas. Walaupun begitu, dia tetap menghargai ibu asrama dengan memasukkan beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Apa kau mau tambah, Mora?" tawar Reine. Mora segera menggeleng kepalanya. Dia tidak mau tambah lagi. Menghabiskan yang ada di piring saja rasanya sulit sekali.
"Saya sudah kenyang, Nona," jawab Mora.
Namun Reine tidak percaya. Wanita itu tetap mengambil sesendok lauk di piring saji dan meletakkannya di atas piring Mora.
"Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Kau harus makan sampai kenyang agar nanti malam kau tidak kelaparan," ucap Reine sambil tersenyum.
Mora mengukir senyum terpaksa melihat makanan di depannya. "Nona, lain kali biasakan untuk tidak bicara ketika makan. Di istana, itu tidak boleh dilakukan," bisik Mora dengan begitu pelan.
"Maafkan aku. Aku lupa," jawab Reine. Wanita itu segera melanjutkan makan malamnya yang belum selesai. Dia tidak mau mengajak Mora bicara lagi agar mereka bisa secepatnya menghabiskan makan malam mereka.
Angel tersenyum melihat Reine makan dengan begitu lahap. Begitu juga dengan ibu asrama. Rasanya mereka tidak rela jika sebentar lagi harus berpisah dengan Reine.
Tidak butuh waktu lama, Reine dan yang lain sudah selesai makan malam. Sebagian kembali ke kamar sedangkan sebagi lagi memilih untuk duduk di ruang utama sambil bercerita. Salah satu wanita yang terlihat di ruangan itu adalah Reine. Reine duduk di samping Mora dan juga Angel. Wanita itu terlihat sangat bahagia ketika menceritakan kehidupannya selama berada di asrama.
"Nona, itu sungguh menggemaskan. Aku tidak percaya awalnya ketika anda bilang kalau Nona Reine bisa manjat pohon. Tetapi, ketika melihat foto ini saya jadi percaya." Mora memperhatikan foto yang ada ditangannya. Wanita itu tersenyum lagi ketika membayangkan Reine yang dulu. Si wanita pemberani yang tingkahnya sama seperti laki-laki.
__ADS_1
"Gini-gini sebenarnya lagi aku akan menjadi istri pangeran. Aku tidak malu dengan kelemahan yang aku miliki. Justru aku bangga karena dulu aku itu terlihat seperti wanita yang hebat. Tidak seperti sekarang yang sedikit-sedikit tahunya nangis," ucap Reine sambil tersenyum manis. Tanpa sengaja wanita itu memandang Darren yang duduk di dekat jendela sambil memperhatikan mereka. Reine sangat ingin bertemu dengan Darren dan bicara sama pria itu. Namun Reine tidak tahu kapan waktu yang tepat. Mora akan terus-menerus berada di sampingnya. Bahkan ketika tidur nanti malam.
"Nona, apa yang anda lakukan?" tanya Mora. Dia juga memandang ke jendela namun tidak menemukan apapun di sana.
"Aku ngantuk," jawab Reine. Dia mengucek kedua matanya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. "Aku mau tidur."
Mora memandang Angel yang sejak tadi menemani mereka. "Nona, apa anda tidak ngantuk? Saya mau menemani Nona Reine tidur."
"Jangan Mora. Kau temani Angel saja. Aku bisa tidur sendirian," tolak Reine dengan wajah yang menyakinkan.
"Nona, tapi saya harus memijat tubuh anda agar anda tidak kelelahan." Mora sudah berdiri dan siap untuk menemani Reine ke kamar tidur.
"Mora, jika kau belum ngantuk kau temani Angel saja di sini. Aku akan baik-baik saja meskipun tidak di pijat malam ini. Sekarang kita tidak ada di istana. Jadi aku mau kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Tanpa ada rasa takut dihukum seperti yang selama ini kau rasakan."
"Oke, Mora. Aku ke kamar duluan ya." Tanpa banyak bicara lagi, Reine segera melangkah menuju ke kamar. Sambil berjalan wanita itu memandang Darren dan mengedipkan matanya sebagai kode agar pria itu segera pergi ke kamar juga.
...***...
Reine menutup pintu dengan rapat. Kali ini dia tidak mau mengunci pintu kamarnya karena dia tahu nanti Mora juga akan tidur di kamar itu. Ketika berputar ingin ke tempat tidur, Reine menabrak tubuh Darren. Wanita itu langsung tersenyum manis sebelum mengangkat dagunya dan memandang wajah Darren yang kini ada di depannya.
"Hai, apa kau merindukanku?" tanya Reine dengan manja.
__ADS_1
"Hmmm. Aku sangat merindukanmu." Darren segera mengangkat tubuh Reine dan membawanya ke tempat tidur. Meletakkan wanita itu di atas tempat tidur dengan hati-hati.
"Aku juga merindukanmu. Apa kita langsung tidur?"
Reine yang sudah berbaring di tempat tidur kini duduk lagi. Wanita itu memandang wajah Darren dan menepuk sisi tempat tidur yang kosong. "Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan."
Tanpa banyak protes, Darren segera duduk di tempat yang ditunjuk oleh Reine. Pria itu memandang wajah kekasihnya sambil tersenyum.
"Apa yang ingin kau katakan? Cepat katakan dan segera tidur. Aku akan menemanimu di sini sampai kau terlelap."
"Aku akan segera menikah dengan pangeran," ucap Reine. "Apa kita tidak akan bertemu lagi ketika aku sudah menikah nanti. Bukankah kau bilang kau tidak akan bisa bertemu dengan wanita yang sudah bersuami. Aku tahu ini akan menyakitkan hatimu. Tapi aku harus mengatakannya sekarang juga agar tidak timbul masalah baru."
"Hantu tidak memiliki perasaan. Dia tidak akan pernah sakit hati. Lakukan saja apa yang membuatmu bahagia. Jika aku bisa aku akan datang menemuimu. Tapi jika tidak, mungkin malam ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir."
Walau sebenarnya Darren tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Reine . Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya makhluk yang tidak bisa menyentuh benda apapun. Dia juga tidak bisa muncul di depan semua orang. Darren juga tidak mau Reine terjebak di lingkaran hantu seperti sekarang. Darren rela sakit hati asal dia bisa melihat Reine bahagia.
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan?"
"Ya. Besok aku akan kembali ke istana dan setelah itu aku akan menikah dengan pangeran. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Kebersamaan kita biarlah menjadi kenangan indah yang kusimpan di dalam hati dan pikiranku. Aku tahu di dunia nyata Aku tidak akan pernah bertemu dengan pria sebaik kau."
Darren menarik tubuh Reine lalu mengusap punggungnya dengan lembut. "Ingat satu hal. Jika kau sampai disakiti, aku pasti akan langsung muncul untuk menemani. Hanya itu alasanku untuk bisa hadir di dekatmu. Tetapi jika kau bahagia bersama dengan pria itu, maka aku tidak memiliki alasan lagi untuk muncul di hadapanmu."
__ADS_1
Reine hanya diam saja berada di dalam pelukan Darren. Wanita itu memejamkan matanya secara perlahan karena merasa tubuhnya sangat lelah dan mengantuk.
"Tapi aku yakin, pria itu akan menyakitimu. Dan inilah yang membuatmu merasa jauh lebih tenang karena aku masih memiliki alasan untuk menemuimu lagi, Reine ...," ucap Darren ketika Reine sudah benar-benar tertidur lelap.