The Ghost Prince

The Ghost Prince
Tidak Aman


__ADS_3

Reine memejamkan mata sesuai dengan perintah Tabib tua ketika para pengawal datang untuk memeriksa. Wanita itu berusaha mengatur nafasnya agar terlihat tenang ketika para pengawal memperhatikannya dengan begitu teliti. Bahkan mereka juga memeriksa seluruh ruang tahanan tersebut.


Beruntungnya tadi Reine sempat mengambil kunci dan menyimpan benda mungil itu di genggaman tangannya. Karena posisi tangan Reine masih terborgol, mereka sama sekali tidak khawatir. Begitupun dengan kaki Reine yang masih di rantai.


"Ayo kita keluar. Kita harus memeriksa Pangeran Dalson."


Salah satu pengawal keluar lebih dulu. Namun, satu pengawal justru masih berdiri diam di belakang Reine. Tiba-tiba saja dia merebut kunci yang ada di genggaman Reine hingga membuat Reine tersentak kaget. Namun wanita itu tidak mau membuka mata. Ia tetap bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun di sana.


Pengawal itu memasukkan kunci hingga borgol terbuka sebelum akhirnya pergi. Jeruji besi kembali di tutup rapat dan dalam hitungan detik saja ruangan itu kembali hening.


"Apa dia orang kepercayaan Tabib tua? Dia ada dipihakku?" batin Reine. Dia segera melepas tangannya dari borgol. Wanita itu mengambil kuncinya lagi lalu membuka rantai pada kedua kakinya.

__ADS_1


Reine merasa lega karena kini bisa bergerak bebas tanpa adanya rantai dan borgol. Wanita itu berusaha berdiri dan berjalan. Dia tersenyum puas. Sambil mengusap perutnya, wanita itu mengucapkan beberapa kalimat.


"Sayang, ayo kita pergi dari tempat ini. Mommy tahu, tempat mommy bukan di sini. Bahkan sejak awal mommy memandang sudah menolak tinggal di tempat ini," ujar Reine sebelum membuka pintu ruangan tersebut.


Reine menahan gerakannya ketika dia mendengar orang-orang yang tadi memeriksanya masih berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu mematung karena takut. Dia tidak mau sampai ketahuan.


"Sekarang aku harus bagaimana?" gumam Reine bingung. Dia tidak bisa melihat apa yang ada di lorong kanan dan kiri. Wanita hanya diam mematung dengan wajah pasrah. Sampai akhirnya suara sepatu itu menjauh dan tidak terdengar lagi. Reine pun bisa bernapas lega. "Uh, hampir saja."


Sesuai dengan petunjuk tabib tua. Kini Reine melangkah menuju lorong sebelah kiri. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat seorang pelayan yang dalam keadaan sekarat. Wanita itu tergeletak dengan kondisi yang mengenaskan. Reine menjadi tidak tega.


"Ingat, Nona! Segera pergi. Ada 5 nyawa yang rela berkorban demi anda!"

__ADS_1


Reine kembali mengingat pesan tabib tua. Pada akhirnya dia segera melanjutkan langkah kakinya agar bisa segera meninggalkan tempat terkutuk tersebut.


Sepanjang lorong baik sisi kanan maupun sisi kiri hanya dipenuhi dengan tawanan yang sudah lama tinggal di sana. Bahkan Reine bisa menebak di antara mereka ada yang sudah tewas namun jasadnya dibiarkan membusuk di dalam ruangan sempit itu. Membuat bau tidak sedap dan menimbulkan berbagai macam penyakit.


Reine menahan langkah kakinya ketika dia berada di depan ruang tahanan yang sangat bersih. Ruangan itu memang beda dari yang lain. Bahkan posisinya juga sedikit menyendiri.


Reine memandang ke samping. Kedua matanya melebar melihat Pangeran Dalson duduk di sebuah kursi sambil memejamkan mata. Pria itu masih dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada sedikitpun luka di tubuh maupun di wajahnya. Bahkan ada makanan yang sengaja dipersiapkan untuk Pangeran Dalson. Sangat jauh berbeda dengan perlakuan terhadap Reine dan juga tawanan lainnya.


"Pangeran Dalson?" celetuk Reine.


Dari depan Reine mendengar suara sepatu yang begitu ramai. Wanita itu panik bukan main.

__ADS_1


"Gawat! Sekarang kau harus bagaimana?"


__ADS_2