The Ghost Prince

The Ghost Prince
Setelah Kejadian


__ADS_3

Pagi harinya Reine terbangun dengan tubuh yang terasa begitu sakit dan menyiksa. Kedua matanya masih bengkak karena Reine terlalu banyak menangis. Wanita itu merasa kalau suhu tubuhnya meningkat. Reine jatuh sakit. Wanita itu demam. Seumur hidupnya dia tidak pernah disiksa hingga separah itu. Tubuhnya benar-benar tidak siap untuk menerima penyiksaan yang dilakukan oleh Pangeran Dalson.


Pangeran Dalson tidak mengizinkan semua pelayan yang sebelumnya mengurus Reine masuk ke dalam kamar pribadinya. Termasuk Mora. Hanya pekerja yang berada di bawah perintahnya yang boleh masuk ke dalam kamar itu. Mereka yang membantu Reine untuk bersiap. Pagi ini mereka harus menemui ibunda Ratu setelah sah menjadi suami istri. Pangeran Dalson sudah siap dan berpenampilan rapi. Pria itu sudah menunggu di depan pintu kamar.


"Apa dia sudah bangun? Kenapa lama sekali?" umpat Pangeran Dalson tidak sabar. Seorang pelayan keluar dari dalam kamar untuk memberitahu informasi.


"Maaf Pangeran. Permaisuri baru saja bangun tidur. Sepertinya kami tidak bisa membawanya untuk mandi karena suhu tubuhnya sangat tinggi. Permaisuri sakit. Apa anda tetap akan membawanya bertemu Yang Mulia Ratu, pangeran?"


Pangeran Dalson diam sejenak. "Wanita itu benar-benar lemah. Baru mendapat penyiksaan seperti itu saja sudah jatuh sakit. Apa jadinya jika dia aku siksa lebih parah dari yang tadi malam. Bisa-bisa dia tewas setelahnya," gumam Pangeran Dalson di dalam hati.

__ADS_1


"Pangeran, apa anda mendengar saya?" tanya pelayan itu lagi ketika pangeran Dalson tidak memberi respon apapun.


"Biarkan dia istirahat di dalam kamar. Aku akan menemui Ibuku sendiri. Aku akan katakan kepada Yang Mulia Ratu kalau Permaisuri sakit dan tidak bisa bertemu dengan siapapun. Aku juga tidak mau jika wanita itu sampai bertemu dengan ibunda Ratu."


"Baik, Pangeran. Saya izin masuk lagi ke dalam." Pelayan itu segera masuk ke dalam kamar lagi meninggalkan Pangeran Dalson yang masih berdiri di depan sana.


Di dalam kamar, Reine berjalan pelan di bantu oleh pelayan wanita. Dia ingin berendam agar demamnya hilang. Wanita itu tidak mau sampai jatuh sakit. Bahkan sehat saja dia tidak bisa menang melawan Pangeran Dalson, bagaimana mungkin dia bisa menang melawan Pangeran Dalson jika dalam keadaan sakit seperti ini.


"Apa Pangeran Dalson memang terkenal kejam. Apa pangeran dikenal sebagai pria yang tidak memiliki hati?" tanya Reine kepada pelayan wanita yang kini membantunya.

__ADS_1


"Tidak, Permaisuri. Pangeran dikenal sebagai pria yang sangat baik dan terhormat. Tetapi, ketika sedang berperang, pangeran memang terkenal sangat kejam. Dia selalu menyiksa musuhnya dan membuat musuhnya menyesal karena sudah pernah mengusik ketenangannya."


"Bagaimana dengan ibunda Ratu. Apa dia wanita yang baik atau wanita yang jahat?" tanya Reine lagi ingin tahu.


"Maafkan kami Permaisuri. Kami tidak bisa selalu menjawab pertanyaan yang Anda berikan kepada kami. Karena jika sampai salah menjawab nyawa kami yang bisa menjadi taruhannya. Saya berharap semua orang yang ada di istana ini baik kepada anda. Termasuk pangeran dan Yang Mulia Ratu."


Dari jawaban yang diberikan oleh pelayan itu Reine sudah bisa mengambil kesimpulan kalau yang mulia Ratu juga bukan wanita yang baik. Hal itu membuat Reine semakin sedih dan kecewa. Ia tidak tahu harus ke mana ia minta perlindungan jika Pangeran Dalson datang untuk menyiksanya lagi.


"Apa umurku akan panjang. Tetapi aku lebih memilih mati dan bertemu Darren daripada harus hidup bersama dengan pria iblis seperti pangeran Dalson," gumam Reine di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2