
"PERGI! AKU TIDAK MAU MAKAN!" teriak Yang Mulia Ratu. Semua pelayan yang saat itu ingin menghidangkan makanan terlihat bingung. Posisi mereka serba salah. Mereka tidak mungkin memaksa Yang Mulia Ratu untuk makan. Akan tetapi membawa makanan itu kembali ke dapur hanya akan menimbulkan masalah baru.
"Bagaimana ini? Sejak tadi pagi Yang Mulia Ratu tidak mau makan. Jika Yang Mulia Ratu sampai jatuh sakit, Pangeran Dalson pasti akan menghukum kita," ucap salah satu pelayan dengan wajah bingung.
"Aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa tidak sebaiknya kita temui saja Pangeran Dalson dan katakan padanya bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu saat ini."
"Ide yang bagus. Aku akan pergi untuk menemui Pangeran Dalson."
Baru juga pelayan itu berdiri dan ingin berlari menuju ke kediaman Pangeran Dalson, tiba-tiba wanita itu menunduk hormat karena Pangeran Dalson telah muncul di hadapannya. Tanpa mengucapkan satu kata pun Pangeran Dalson segera menerobos masuk ke kamar Yang Mulia Ratu.
"Kenapa kau tidak makan sejak pagi?" protes Pangeran Dalson.
"Dalson sayang, akhirnya kau datang juga." Yang Mulia Ratu segera menyambut kedatangan Pangeran Dalson. "Apa hanya ketika aku tidak mau makan saja kau datang ke sini? Apa kau lupa kalau semalam kau telah membuatku cemburu. Aku tidak bisa tidur sampai pagi karena memikirkanmu. Aku menunggumu tetapi kau tidak juga datang ke kamarku."
__ADS_1
Pangeran Dalson tersenyum. Dia mengusap pipi Yang Mulia Ratu. "Aku tertidur sampai pagi. Maafkan Aku."
"Tertidur? Kau tidak melakukan hal apapun dengannya?" tanya Yang Mulia Ratu ingin tahu.
Pangeran Dalson kembali ingat dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Reine. Wajah ketakutan Reine ketika ia memaksa wanita itu untuk melayaninya terus saja mengiang di dalam ingatannya.
"Sayang."
"Sudah kuduga. Perkataanmu tadi malam hanya ingin membuat Reine percaya. Aku senang setelah mendengar penjelasanmu ini."
"Perkataanku tadi malam? Apa tadi malam kalian bertemu? Kenapa aku bisa tidak tahu? Apa yang kalian bicarakan?"
Yang Mulia Ratu kembali terdiam mendengar pertanyaan Pangeran Dalson. Jelas-jelas pria itu juga ada di sana dan mengetahui kehadirannya. Tetapi kini justru Pangeran Dalson bertanya seperti orang kebingungan yang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Bukankah tadi malam-"
"Ah, sudahlah. Sekarang waktunya makan. Aku tidak mau sampai kau jatuh sakit." Pangeran Dalson memandang ke arah pintu. "Pelayan!" teriaknya hingga membuat seorang pelayan wanita muncul di sana.
"Ya pangeran. Ada yang bisa saya bantu?"
"Siapkan makanan untuk Yang Mulia Ratu. Pastikan semua makanan itu masih dalam keadaan hangat!" perintah Pangeran Dalson sebelum memandang ke arah Yang Mulia Ratu lagi. "Habiskanlah makananmu. Aku harus pergi karena ada beberapa urusan penting yang harus segera Aku selesaikan."
"Urusan apa? Tidak ada yang lebih penting di istana ini selain aku." Yang Mulia Ratu memegang tangan Pangeran Dalson lalu mengusapnya dengan lembut. Tiba-tiba saja wanita itu duduk di atas pangkuan Pangeran Dalson lalu menciumnya dengan penuh kerinduan.
"Apa yang kau lakukan? Ada pelayan di sini!" protes Pangeran Dalson dengan wajah kurang setuju.
"Kita bisa segera menyingkirkan mereka. Apa susahnya? Bukankah seperti itu yang kita lakukan selama ini?" jawab Yang Mulai Ratu dengan santai. Seperti tidak ada beban sedikitpun ketika ia meminta Pangeran Dalson untuk membunuh pelayan yang sudah mengetahui hubungan mereka.
__ADS_1