The Ghost Prince

The Ghost Prince
Bernegosiasi


__ADS_3

Tabib itu menyipitkan kedua matanya mendengar ancaman dari Reine. Dia mendengus kasar sebelum mendorong minuman hangat yang sebagai dia buat untuk Reine.


"Sebenarnya saya tidak mau kita bermusuhan seperti ini, Permaisuri. Anda sangat berjaga bagi saya dan putri saya. Tapi, tidak adakah rencana lain yang bisa kita lakukan selain mengugurkan calon Pangeran?"


"Apa? Hanya kehamilan ini masalahnya!" sahut Reine dengan emosi yang mulai tidak stabil.


"Begini saja. Saya janji akan merahasiakan kehamilan ini. Tetapi anda juga harus berjanji untuk menjaga kandungan ini. Setiap hari saya akan mengirimkan ramuan untuk memperkuat kandungan anda. Tapi anda harus berjanji untuk tidak mengugurkan kandungan anda. Bagaimana?" tawar tabib itu dengan ekspresi wajah yang serius.


Reine menggeleng tidak setuju. Dia mengambil minuman hangat di depannya lalu meneguknya secara perlahan. "Kehamilan tidak bisa ditutupi. Perutku akan membesar karena bayi di dalam rahimku juga tumbuh. Bagaimana caranya menutupi semua ini?"


"Saya belum memikirkan caranya. Tetapi sampai usia kandungan 7 bulan, kita masih bisa menyembunyikannya. Apa lagi baju yang anda kenakan cukup lebar di bagian perut. Itu akan menjadi sangat mudah.

__ADS_1


Yang penting calon Pangeran tumbuh dengan sehat di dalam kandungan. Saya berharap seiring bertumbuhnya calon Pangeran di rahim anda. Anda bisa berubah pikiran dan mau memberi tahu informasi ini kepada Pangeran Dalson."


"Baiklah. Saya setuju." Reine memegang kepalanya yang terasa pusing. Semua terasa berputar. Bahkan wajah tabib itu tidak jelas lagi. "Ada apa ini? Kenapa pusing sekali?"


Ketika Reine hampir terjatuh, tabib itu segera menangkap tubuh Reine. Dia memeriksa denyut nadi Reine. Semua normal. Namun entah kenapa kini Reine pingsan. Minuman yang dia berikan juga tidak ada campuran apapun. Sama dengan minuman yang selama ini di konsumsi oleh Reine.


BRUAKKK


"Mereka pengawal Yang Mulia Ratu. Untuk apa mereka ke sini?" batin tabib.


Salah satu dari pengawal maju tanpa mau mengatakan sepatah katapun. Dengan cepat si tabib melempar serbuk yang memang selalu ia bawa untuk melindungi dirinya dari bahaya.

__ADS_1


Pengawal yang baru saja melangkah maju itu memegang wajahnya yang terasa panas. Dalam sekejap seluruh tubuhnya melepuh seperti baru di siram air panas. Rekannya tidak terima melihat pengawal itu sekarat.


Dia segera maju untuk memberi pelajaran kepada si tabib. Namun kali ini tabib itu menggunakan rencana yang berbeda. Dia menginjak lantai rumahnya hingga tiba-tiba saja lantai yang dipijak pengawal itu terbalik dan dia masuk ke dalam jebakan.


Pengawal sebelumnya telah tewas karena serbuk yang diberikan tabib. Melihat sudah ada korban tabib itu segera menariknya agar masuk ke dalam jebakan di bawah lantai.


"Aku tahu kalian datang untuk membuat masalah. Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Yang Mulia Ratu mengirim pengawalnya dan berniat mencelakaiku?" Tabib itu memandang ke arah Reine yang masih tidak sadarkan diri. "Tidak. Mereka tidak mengincar nyawaku. Tetapi nyawa Permaisuri. Kenapa aku bodoh sekali. Kenapa aku baru sadar?"


Tabib itu segera memeriksa keadaan Reine lagi. Dia takut ada racun di dalam minuman yang diminum oleh Reine. Maka cepat-cepat dia ambil sisanya dan dia periksa.


"Tidak ada. Aroma khas minuman ini masih terasa. Sepertinya Permaisuri memang pingsan karena terlalu banyak pikiran. Ini hal yang wajar saat seorang wanita hamil muda. Sekarang kau memiliki tugas lain. Aku harus menyelidiki hubungan Permaisuri dengan Yang Mulia Ratu."

__ADS_1


__ADS_2