
"Nona." Reine membuka kedua matanya ketika Mora membangunkannya di tengah malam. Padahal Reine merasa tidurnya sangat menyenangkan malam ini karena di peluk oleh Darren. Sampai-sampai Reine bermimpi sedang bermain bersama Darren di sebuah taman. Sayang, semua harus berakhir ketika Mora membangunkannya.
"Ada apa, Mora?" tanya Reine. Wanita itu mencari keberadaan Darren di sampingnya. Namun memang pria itu sudah tidak ada. Entah pergi kemana.
"Nona, saya merasa takut." Mora memandang ke samping kanan dan kiri. "Saya merasa kamar ini ada hantunya," bisik Mora dengan suara berbisik. Setahu Reine, Mora wanita yang pemberani. Jika wanita itu sampai ketakutan berarti di memang benar-benar ketakutan.
"Tidak ada. Saya sudah bertahun-tahun tinggal di sini tapi tidak pernah melihat hantu," sangkal Reine. Dia tidak mau sampai Mora tahu kalau Darren memang selalu ada di kamar itu.
"Nona, saya sangat yakin kalau itu hantu. Dia menjatuhkan bantal ke lantai. Setelah saya ambil dan saya letakkan di atas, bantalnya jatuh lagi. Seperti di sengaja Nona," ujar Mora dengan penuh keyakinan.
"Apa Darren yang melakukan semua ini? Tapi biasanya Darren tidak pernah iseng. Dia tidak pernah mengganggu Angel selama ini," gumam Reine di dalam hati.
"Nona, kenapa anda diam saja? Apa benar kamar ini ada hantunya?" tanya Mora sekali lagi. "Saya takut, Nona."
"Mora, ada aku di sini. Jangan takut. Kita akan baik-baik saja. Aku jamin, tidak akan ada yang mengganggumu lagi. Tidurlah jika kau sudah mengantuk. Aku yang akan menjagamu sekarang," ucap Reine. Hal itu membuat Mora geleng-geleng kepala.
"Saya yang seharusnya menjaga anda, Nona. Bukan anda yang menjaga saya." Mora menghela napas panjang. Sekali lagi dia memandang ke jendela untuk memastikan kalau tidak ada hantu di sana.
"Mora ... percaya padaku. Tidurlah...."
"Benarkah tidak ada hantu di sini, Nona?" Mora masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reine. Tetapi kedua matanya sangat ngantuk. Tubuhnya juga terasa lelah.
"Jika ada hantu di kamar ini, aku tidak akan mungkin merindukan kamar ini, Mora. Percayalah padaku. Jika kau tidak percaya padaku. Untuk apa kau bekerja untukku?" tanya Reine balik.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona." Mora mengambil selimut dan mulai mencari posisi nyamannya. Wanita itu memejamkan matanya dengan perasaan yang masih takut-takut. Namun, dia mulai tenang ketika kini ada Reine yang menjaganya sampai terlelap.
Setelah Mora benar-benar terlelap, Reine melangkah ke kamar mandi. Wanita itu ingin bertemu Darren di sana. Dia ingin bertanya sama Darren, apa benar pria itu yang sudah mengganggu Mora atau ada hantu lain yang sengaja datang untuk mengganggu Mora.
"Darren," ucap Reine pelan. Dia juga tidak mau sampai Mora mendengar suaranya. "Darren muncullah." Reine lagi-lagi memanggil Darren. Dia ingin segera bertemu namun Darren tidak juga muncul di hadapannya. "Kemana dia? Apa dia menghindariku sekarang?" protes Reine di dalam hati. Wanita itu ingin keluar dan kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang memegang lengannya. "Darren?"
"Bukan aku yang mengganggunya," ucap Darren sebelum pria itu memperlihatkan wujudnya. "Sebenarnya tidak ada yang mengganggunya. Dia takut karena perasaannya sendiri. Bantal itu jatuh karena memang dia meletakkannya tidak pas. Tadi Angel dan yang lainnya bercerita soal hantu. Mungkin itu yang membuat Mora jadi ketakutan dan mengaitkan semuanya dengan hantu."
Reine mengangguk. "Sudah ku duga." Wanita itu memandang Darren lalu tersenyum. "Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa tadi kau menghilang?"
"Aku tahu kau akan menyalahkanku. Jadi aku bersembunyi saja agar tidak terlihat." Darren memalingkan wajahnya hingga membuat Reine penasaran.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Ayo katakan." Reine menarik lengan Darren dan memaksa pria itu untuk cerita. Tidak peduli kini sudah tengah malam. Wanita itu ingin mengajak Darren bercanda.
"Reine, tidurlah. Kau bisa kelelahan besok," protes Darren dengan eskpresi wajah yang serius.
"Apa besok kau akan mengantarkanku seperti yang lain?"
"Tidak," jawabnya tanpa memandang.
"Kau masih belum siap berpisah dariku?" Kali ini wajah Reine terlihat sedih.
__ADS_1
"Ya."
Reine tersentuh mendengar jawaban Darren. Wanita itu segera memeluknya. "Masih ada waktu. Bawa aku pergi jika kau tidak rela aku menikah dengan pangeran."
"Aku hanya hantu. Aku tidak bisa membahagiakanmu. Hanya manusia yang bisa memenuhi apa yang kau inginkan. Pergilah. Temui pangeran. Menikahlah dengannya." Darren mengusap punggung Reine sebelum mengecup pucuk kepalanya. Ketika Reine mengangkat dagunya, Darren sudah menghilang tanpa permisi.
"Hantu yang aneh," gumam Reine sebelum keluar dari kamar mandi. Ia juga ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda.
...***...
Darren lagi-lagi menghilang ketika Reine akan kembali ke istana. Hal itu membuat Reine sedih. Namun dia juga merasa lega karena tidak harus meneteskan air mata ketika berpisah dari Darren. Setelah perpisahan dengan semua orang yang ada di asrama, Reine dan Mora masuk ke kereta kuda. Mereka akan berangkat ke istana sekarang juga.
Pesta pernikahan telah di tentukan tanggalnya. Reine harus mengikuti serangkaian aturan yang harus dia patuhi sebelum resmi menjadi istri pangeran.
Ketika langit hampir gelap, Reine dan yang lainnya baru tiba di istana. Reine melangkah menuju ke kamar mewah yang sudah disiapkan untuknya. Di dalam kamar itu telah ada baju dan perhiasan yang akan di kenakan Reine di hari pernikahan nanti. Semua barang mewah dan pastinya tidak ada yang memilikinya selain Reine. Semua wanita pasti bahagia.
Tapi tidak dengan Reine. Semakin dekat dengan hari pernikahannya, wanita itu justru semakin sedih. Di tambah lagi Darren yang tidak kunjung muncul di hadapannya. Hal itu menjadi pertanda kalau mereka memang sudah benar-benar berpisah.
"Nona, apa yang anda pikirkan?" Mora ternyata sejak tadi memperhatikan Reine yang terlihat murung. Wanita itu kini sedang menyisir rambut Reine.
"Pangeran siapa namanya?"
Mora menahan gerakannya. Dia menatap wajah Reine melalui cermin yang ada di hadapannya. "Pangeran Dalson, Nona."
__ADS_1