
Reine memasukkan makan malamnya ke mulut secara perlahan. Sebenarnya dia tidak selera untuk menghabiskan makanan di depannya. Tetapi anak yang ada di dalam kandungannya membutuhkan banyak asupan gizi. Reine tidak mau egois. Semua dia lakukan demi kesehatan anak kandungnya.
Di depan Reine, ada Pangeran Dalson yang juga terlihat tidak selera untuk makan. Pria itu memikirkan solusi yang tepat untuk menyingkirkan Yang Mulia Ratu. Kali ini lawannya bulan orang sembarangan. Jika tidak mempersiapkan rencana yang pas, mungkin dia sendiri yang akan terjebak.
Sudah hampir 15 menit mereka makan dan belum selesai juga. Hingga pada akhirnya, Reine membanting sumpit yang ia genggam hingga membuat Pangeran Dalson kaget. Pria itu tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Pangeran Dalson bingung.
"Aku tidak sanggup menghabiskannya," sahut Reine. Wanita itu segera beranjak dari duduknya.
"Tunggu Reine. Sedikit lagi. Kau tidak akan bisa tidur dengan nyenyak jika perutmu lapar," bujuk Pangeran Dalson.
"Tapi aku tidak mau makan mie!" sahut Reine dengan wajah kesal meskipun akhirnya dia kembali duduk.
"Kau ingin makan apa?" Pangeran Dalson benar-benar sabar saat bicara dengan Reine. Tidak mau sedikitpun menyinggung perasaan istrinya itu.
"Tidak ada," ketus Reine galak. "Aku mau tidur saja."
__ADS_1
Kali ini Pangeran Dalson tidak lagi mencegah Reine. Dia meminta pelayan masuk ke kamar dan membereskan semua makanan yang ada di meja. Baik yang sudah di makan maupun yang masih utuh. Sedangkan Reine berbaring di atas tempat tidur. Suasana hatinya masih buruk akibat kejadian tadi siang.
Pangeran Dalson masih berdiri tidak jauh dari tempat tidur. Setelah semua pelayan keluar, dia baru berjalan mendekati Reine. Pria itu menarik selimut dan menutupi tubuh Reine meskipun Reine masih belum memejamkan mata.
"Kau masih marah padaku? Aku sudah menjelaskan semua yang terjadi. Kenapa kau masih belum mau memaafkanku Reine?" Pangeran Dalson duduk di pinggir tempat tidur. Dia berusaha memegang tangan Reine namun gagal karena Reine menyembunyikan tangannya di balik selimut.
"Aku tidak tahu harus percaya dengan siapa saat ini. Aku merasa sendiri." Reine memalingkan wajahnya. "Aku ingin tidur di sini sendirian. Tolong jangan ganggu aku." Wanita itu segera mencari posisi agar bisa tidur dengan nyenyak.
Pangeran Dalson segera berdiri. Pria itu merasa ada yang aneh dengan tubuhnya sendiri. Hingga tidak lama kemudian, sorot mata pria itu berubah. Kini Darren telah kembali. Setelah sekian lama akhirnya dia berhasil menguasai tubuh Pangeran Dalson lagi.
"Akhirnya," ujar Darren dengan senyuman. Pria itu mengangkat tangannya dan menggerakkannya perlahan. Setelah itu dia memandang ke arah Reine yang kini masih belum menyadari keberadaannya.
Reine mengernyitkan dahi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Pangeran Dalson mau membujuknya hingga seperti itu. Kini justru pipi Reine memerah. Wanita itu merasa tersanjung.
"Aku masih marah. Pergilah!" ketus Reine sambil menahan senyum.
"Kau marah padaku?" Darren sama sekali tidak peduli. Bahkan dia berpikir kalau kini Reine sudah mengetahui kehadirannya. "Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Reine kali ini hanya diam saja ketika tangan kekar itu memeluknya dari belakang dan mencium lehernya dengan mesra. Selama hamil memang Reine menjadi wanita yang suka sekali di puji dan diperlakukan dengan lembut.
"Pangeran Dalson, kenapa anda bisa berubah seperti ini? Apa benar kalau anda tulus mencintaiku? Bagaimana caranya aku mempercayaimu?" batin Reine.
"Reine, kau tidak ingin memandang wajahku?" tanya Darren lagi.
Reine segera memutar tubuhnya. Wanita itu tidak lah bisa membedakan mana tatapan milik Pangeran Dalson dan mana tatapan milik Darren. Dua pria itu kini memandangnya dengan penuh cinta. Tidak ada aura kebencian yang membuat Reine mampu membedakannya.
Tanpa permisi Darren segera mencium bibir Reine. Pria itu sangat merindukan kekasihnya. Biasanya dia bisa dengan bebas melakukan hal yang dia suka. Sekarang dia hanya bisa memanfaatkan raga Pangeran Dalson.
"Apa yang anda lakukan Pangeran? Anda pikir saya sudah tidak marah lagi!" ketus Reine kesal. Dia mendorong tubuh Darren hingga menjauh.
"Reine, ini aku. Darren," ucap Darren pada akhirnya.
Reine tertegun mendengarnya. Wanita itu memegang pipi Darren dan menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Kau kembali?"
Darren mengangguk. "Sayang, aktingmu sangat bagus. Sepertinya mulai sekarang aku lebih mudah untuk menguasai raga Pangeran Dalson. Sekarang dia sudah berubah menjadi pria yang lemah. Tidak sekuat dulu lagi. Emosinya tidak pernah stabil. Terima kasih sayang. Usahamu tidak sia-sia." Lagi-lagi Darren mencium bibir Reine. Kali ini Reine tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya diam ketika bibir yang dingin itu menyentuhnya dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa sedih? Kenapa aku ingin menangis? Bukankah ini yang aku inginkan?"