
Saat Reine sibuk memikirkan cara untuk bisa menang menghadapi Yang Mulia Ratu. Tiba-tiba Pangeran Dalson terjatuh dan terduduk. Padahal sudah jelas-jelas kalau dia tidak terluka sama sekali.
Pengawal yang tadi sempat bertarung dengan Pangeran Dalson melangkah mundur. Mereka memang tidak berani untuk membunuh Pangeran Dalson. Tugas mereka hanya menangkap Pangeran Dalson dan Reine serta memasukkan mereka berdua ke dalam penjara.
"Pangeran," celetuk Reine. Wanita itu segera berlari mendekati Pangeran Dalson. "Ada apa? Apa ada yang terluka?"
Pangeran Dalson mengangkat kepalanya dan memegang pipi Reine. "Mereka melemparkan serbuk beracun. Reine, jangan menghirupnya," ucap Pangeran Dalson sebelum akhirnya pria itu tidak sadarkan diri.
"Pangeran, Pangeran bangun Pangeran." Reine menepuk pipi Pangeran Dalson dengan wajah khawatir. Dia mengangkat tangannya dan melihat serbuk berwarna putih yang kini mendarat di telapak tangannya. "Kenapa kepalaku pusing?" Reine juga tergeletak di samping Pangeran Dalson. Wanita itu memejamkan mata sambil memeluk Pangeran Dalson.
__ADS_1
Setelah serbuk yang di lempar ke udara hilang, Yang Mulai Ratu dan seluruh bawahannya mengelilingi Pangeran Dalson dan Reine. Wanita paruh baya itu memandang Pangeran Dalson dengan tatapan sedih. Namun dia berusaha menguatkan diri agar tidak terjebak dengan perasaannya lagi.
"Bawa mereka ke penjara bawah tanah. Sebarkan pengumuman kalau malam ini Pangeran Dalson berniat untuk membunuh Ratu. Pastikan semua orang tahu kalau Pangeran Dalson mengincar kekuasaan hingga akhirnya dia tega membunuh ibu kandungnya sendiri!" perintah Yang Mulia Ratu.
"Baik, Yang Mulia," jawab pengawal itu sebelum membawa Pangeran Dalson dan Reine ke penjara bawah tanah.
Yang Mulia Ratu tersenyum puas melihat Pangeran Dalson dan Reine yang kini tidak bisa berkutik lagi. "Aku pastikan kalian akan di hukum gantung. Ini adalah hukuman yang pas untuk orang-orang seperti kalian!" gumam Yang Mulia Ratu penuh dendam.
Berita itu cepat sekali menyebar. Bahkan kini sudah sampai ke telinga orang yang ada di asrama tempat Reine dulu dibesarkan. Mereka semua kaget mendengarnya. Terlebih lagi sahabat terbaik Reine yaitu Angel dan Mora.
__ADS_1
"Kita tidak bisa diam saja. Aku tidak mau jika sampai Reine di hukum gantung. Aku tidak mau kehilangan Reine," ujar Angel dengan mata berkaca-kaca. "Dia sudah seperti saudara kandungku. Aku harus ke istana. Aku yakin Reine tidak sejahat itu. Dia tidak pernah haus akan jabatan."
"Angel, tenanglah. Jika kau marah-marah seperti ini aku juga tidak bisa berpikir," sahut Mora. Wanita itu mengigit bibir bawahnya dengan wajah yang sangat gelisah. "Kau tidak tahu bagaimana kehidupan di istana. Nyawa orang sudah seperti nyawa nyamuk. Hanya orang yang kuat yang akan bertahan. Aku sendiri juga kaget mendengar berita ini. Bukankah setahuku kalau Pangeran Dalson sangat menyayangi ibunya? Lalu, kenapa dia tega membunuh Yang Mulia Ratu. Permaisuri Reine juga tidak mungkin mendukung niat jahat Pangeran Dalson. Sepertinya ada yang janggal di sini."
Angel berjalan mendekati Mora. Dia memegang tangan wanita itu. "Kita harus menolong Reine. Mora, cepat pikirkan cara untuk menyelamatkan Reine."
"Angel, aku ini siapa? Jika aku kembali ke istana, itu sama saja aku mengantar nyawa. Aku keluar dari istana karena ingin menyelamatkan nyawaku." Mora juga terlihat frustasi. Idenya benar-benar buntu saat ini.
"Jika memang mereka akan dihukum gantung, kira-kira kapan? Apa itu disaksikan oleh semua warga?"
__ADS_1
Mora mengangguk. "Dari informasi yang aku dapat, Pangeran Dalson dan Permaisuri Reine akan di hukum gantung satu Minggu lagi."
Angel menggeleng tidak percaya. "Satu minggu lagi kau bilang?"