The Ghost Prince

The Ghost Prince
Serba Salah


__ADS_3

Langit semakin gelap. Sejak kejadian tadi sore, Pangeran Dalson tidak lagi muncul. Pria itu entah hilang kemana. Beberapa pelayan wanita terus saja melayani Reine. Kali ini Reine tidak lagi dibiarkan sendirian.


Reine memandang pelayan yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Sebenarnya dia ingin mengusir mereka semua. Tapi, mereka tidak mau pergi. Mereka hanya akan pergi jika Pangeran Dalson yang memberi perintah.


"Berada di kamar ini saja aku sudah tidak merasa nyaman. Kini ditambah lagi dengan munculnya mereka," umpat Reine di dalam hati. Dia memandang keluar jendela. Entah kenapa dia merasa bersalah karena sudah bicara seperti itu. Dia berpikir kalau kini Pangeran Dalson marah padanya. "Apa yang aku katakan memang benar adanya. Kenapa dia harus marah?"


Reine duduk di atas tempat tidur. Matanya mulai mengantuk. Kali ini bayi yang ada di dalam kandungannya telah membuatnya mengantuk. Reine menjatuhkan tubuhnya. Setelah mendapat posisi yang pas, wanita itu mulai memejamkan matanya secara perlahan. Tidak lagi peduli dengan kehadiran pelayan dikamar itu.


"Pangeran, anda baik-baik saja?"


Reine merasa seperti mendengar sesuatu. Kedua matanya terasa sangat berat. Dengan sekuat tenaga Reine membuka kedua matanya secara perlahan. Samar-samar dia melihat beberapa pelayan berkumpul. Pandangannya masih belum jelas. Kali ini memang Reine ngantuk berat. Hingga tak lama kemudian, Reine melihat wajah Pangeran Dalson. Wanita itu kali ini segera terbangun. Dia melihat suaminya yang duduk dengan pakaian yang dipenuhi darah.


"PERGI!" teriak Pangeran Dalson hingga membuat semua pelayan yang mengkhawatirkannya pergi. Mereka semua tidak bisa berbuat banyak.


"Apa yang terjadi?" Reine segera turun. Dia mendekati Pangeran Dalson dan memperhatikan penampilan pria itu. "Anda terluka?"

__ADS_1


"Ini darah rusa," sahutnya. "Tadi aku pergi berburu."


Reine akhirnya bisa bernapas lega. Wanita itu mendekati Pangeran Dalson dan membantu pria itu untuk membuka pakaiannya. Karena memang yang seharusnya melakukan semua itu adalah pelayan-pelayan wanita tadi. Akan tetapi kini mereka sudah di usir.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Pangeran Dalson dengan wajah bingung.


"Anda harus mandi. Ayo cepat angkat sedikit tangannya agar aku tidak sulit untuk menariknya," perintah Reine.


Pangeran Dalson hanya menurut saja. Pria itu melirik perut Reine yang masih rata. "Apa dia sudah memberikan tanda-tanda kalau dia ada di sana?"


"Dia?" Reine menahan gerakannya dengan wajah bingung.


Reine menunduk lalu tersenyum. "Aku sudah mulai merasakan ada yang bergerak. Dia tumbuh dengan sehat," jawab Reine. Wanita itu mengusap perutnya sendiri.


"Aku ingin bicara dengannya." Pangeran Dalson meminta Reine untuk duduk. Pria itu lalu meletakkan telinganya di perut Reine. "Hei, apa yang kau lakukan di dalam sana? Kau mendengar Daddy?"

__ADS_1


Entah kenapa Reine justru ingin menangis melihat kelakuan Pangeran Dalson. Wanita itu memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya secara diam-diam.


"Jangan pernah menyusahkan mommy. Oke?" ucap Pangeran Dalson lagi. "Daddy janji, setelah kau lahir nanti. Daddy akan menjagamu dan melindungimu. Mengajakmu bermain." Pangeran Dalson mencium perut Reine dengan penuh kasih sayang.


Reine memegang rambut Pangeran Dalson. Hal itu membuat Pangeran Dalson mendongak ke atas. Pria itu tersentuh melihat Reine kini memandangnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau menangis?" Pangeran Dalson segera duduk di samping Reine. Pria itu mengusap air mata yang ada di pipi Reine. "Apa yang membuatmu menangis?"


Reine menggeleng pelan. "Maafkan aku," lirihnya semakin sedih.


Pangeran Dalson mengangkat dagu Reine. "Maaf? Tapi kau tidak salah apapun. Aku yang salah. Dan seharusnya aku yang minta maaf."


"Terima kasih karena sudah mau menerima anak ini."


"Itu pernyataan yang konyol! Anak ini anakku. Bagaimana mungkin aku menolaknya?" Pangeran Dalson mengusap lembut bibir Reine. Pria itu mulai tergoda melihatnya. "Jangan pernah ucapkan kalimat seperti itu lagi. Aku tidak suka."

__ADS_1


Reine mengangguk. Pangeran Dalson segera mencium Reine. Kali ini Reine tidak melakukan penolakan sedikitpun. Wanita itu justru membalas ciuman Pangeran Dalson. Sentuhan Pangeran Dalson sangat lembut dan dipenuhi cinta. Sama seperti saat Darren mencumbunya.


Kali ini Reine benar-benar tidak bisa menolak keinginan Pangeran Dalson. Hingga dengan suka rela, wanita itu melayani Pangeran Dalson. Tanpa rasa keberatan sedikitpun!


__ADS_2