
"Kau terlihat sangat pucat hari ini, Permaisuri. Apa kau sakti?" tanya Yang Mulia Ratu dengan wajah khawatir.
Pangeran Dalson yang saat itu ada di samping Reine memandang dengan wajah mengancam. Dia mencengkram tangan Reine sebelum memandang ke depan lagi. Sebenarnya dia tahu kalau Reine memang sedang tidak enak badan. Namun dia tidak mau sampai ibu kandungnya mengetahui hal itu.
"Reine baik-baik saja, Ma. Dia hanya kelelahan saja. Mama seperti tidak pernah muda saja sih. Bukankah ini biasa terjadi pada pengantin baru," ucap Pangeran Dalson dengan senyuman penuh arti.
Hal itu membuat Yang Mulia Ratu tersenyum bahagia. Berbeda dengan Reine yang lebih memilih untuk menunduk dan tidak lagi berani menatap wajah Yang Mulia Ratu secara langsung.
"Baiklah. Mama tidak akan mengkhawatirkan keadaan kalian berdua lagi. Kalian berdua terlihat seperti sepasang suami istri yang sangat serasi. Mama harap secepatnya kalian bisa saling mencintai dan memberikan Mama cucu. Istana ini butuh penerus."
"Mama tenang saja. Secepatnya aku akan memberikan Mama cucu, bukankah begitu istriku?" tanya Pangeran Dalson sambil merangkul tubuh Reine. Rangkulan pria itu sangat kuat hingga membuat Reine menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Yang Mulia Ratu, bolehkah saya kembali ke kamar saya? Saya butuh istirahat," ucap Reine dengan suara yang mulai serak.
"Tentu saja, Permaisuri. Kembalilah ke kamar anda." Yang Mulia Ratu memandang Pangeran Dalson. "Jika memang Permaisuri kurang tidur, kenapa kau tidak memberitahuku tadi? Mama tidak mau membuat permaisuri sakit," protes Yang Mulia Ratu kepada Pangeran Dalson.
"Istriku juga sangat ingin bertemu dengan Mama. Bagaimanapun juga mama adalah mertua Permaisuri. Meskipun saat ini posisi Mama yang paling tinggi di istana ini. Tetapi Dimata Reine, Mama tetap mertua."
"Baiklah. Cepat antarkan istrimu ke kamar. Dia butuh istirahat. Jangan mengganggunya sampai malam tiba. Sebagai seorang pria kau juga harus bisa menahan diri. Tidak bisa terus-terusan membuat istrimu kelelahan."
"Permaisuri!"
Reine memiringkan tubuhnya dan memandang ke samping. Bibirnya tersenyum manis melihat Mora berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Reine segera melangkah mendekati Mora, begitu juga dengan Mora yang berlari menghampiri Reine.
__ADS_1
"Biar saya saja yang mendatangi anda, Permaisuri. Untuk apa anda mendatangi saya seperti ini," bisik Mora agar orang yang ada di sekitar sana tidak mendengarnya.
"Mora, kau ke mana saja? Aku sangat ingin bicara denganmu. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu."
"Pangeran tidak memberikanku izin untuk menemui anda. Masalah ini yang membuat kita berpisah. Tidak bisakah anda membujuk Pangeran agar mengizinkan saya untuk mendampingi Anda seperti sebelumnya. Saya sangat ingin merawat anda ketika anda sedang sakit. Saya juga ingin melihat anda ketika anda sedang berbahagia."
"Sebenarnya Ada hal penting yang ingin aku katakan tapi aku tidak bisa mengatakannya di sini." Reine memandang para pelayan wanita yang kini memandangnya. Hal itu membuat Mora mengangguk mengerti.
"Saya akan pikirkan cara untuk menemui Anda tanpa diketahui orang lain," bisik Mora.
"Baiklah, aku akan segera menunggu kedatanganmu." Reine memutar tubuhnya dan berjalan pergi menuju ke kamar. Sedangkan Mora tetap berdiri di sana sambil memandang punggung Reine yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Sebenarnya Permaisuri tidak terlihat bahagia. Sepertinya terjadi sesuatu ketika dia telah menikah dengan pangeran," gumam Mora di dalam hati.