
Reine terlihat sedih ketika tidak berhasil menemukan tabib yang mengetahui kehamilannya. Kini wanita itu sudah berada di kediaman Tabib. Namun sayangnya dia tidak menemukan satu orangpun di dalam sana. Justru Reine menemukan beberapa bekas tetesan darah yang sudah kering.
"Kenapa harus secepat ini kita berpisah? Siapa orang yang tega melakukan pembunuhan ini? Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu," batin Reine dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu memandang ke jendela. Dia juga tidak menemukan apapun di luar rumah. Hingga akhirnya Reine memutuskan untuk segera pergi dan kembali ke istana.
Ketika ingin menutup pintu, tiba-tiba Reine mendengar suara sepatu. Dengan penuh tanda tanya dia kembali masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi Reine tidak menemukan satu orangpun di dalam sana.
"Aku yakin kalau tadi suara sepatu seorang pria. Tapi, dimana sekarang dia?" tanya Reine sendiri. Rasanya dia tidak mau pergi begitu saja dari sana.
"Permaisuri, kenapa anda ke sini?"
Reine langsung memutar tubuhnya mendengar seseorang bicara dibelakangnya. Wanita itu sempat melangkah mundur karena ketakutan. Pria berpakaian pengawal yang kini berdiri di depannya membuatnya tidak tenang.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Permaisuri, jangan takut seperti itu. Ini saya." Tabib membuka penutup mulut dan hidung yang dia kenakan. Meskipun Tabib dengan sengaja membuat luka pada wajahnya agar menjadi cacat, namun tetap saja Reine bisa mengenalinya.
__ADS_1
"Anda? Apa yang anda lakukan? Kenapa mengenakan pakaian seperti ini?" Reine akhirnya lega ketika tahu kalau tabib masih hidup.
"Seseorang mengincar nyawa saya. Jadi saya ciptakan berita kematian palsu ini. Saya tahu jika mereka gagal untuk membunuh saya hari ini mereka akan mencobanya lagi besok dan itu akan terus berlanjut sampai saya benar-benar mati."
"Siapa yang memiliki niat jahat seperti itu? Bukankah selama ini anda berjasa besar bagi keluarga Kerajaan. Lalu apa alasan mereka mengincar nyawa anda?"
"Anda permaisuri. Karena selama ini saya dan Anda terlihat sangat akrab dan beberapa kali Saya berusaha untuk mengobati anda. Jadi seseorang tidak menyukainya dan berniat untuk menghabisi nyawa saya agar tidak ada lagi orang yang menolong anda ketika anda diracuni."
"Diracuni? Diracuni seperti apa maksud Anda? Kenapa selama ini saya tidak pernah tahu kalau seseorang ingin meracuni saya?"
Reine terharu mendengarnya dia sama sekali tidak menyangka kalau Tabib tua itu selama ini telah melindunginya secara diam-diam. Padahal tadi Reine sendiri sempat tidak percaya pada tabib itu. Bahkan berpikir kalau Tabib itu ada di pihak Yang Mulia Ratu."
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Tidak ada permaisuri. Anda tidak perlu melakukan hal apapun. Tetap bersikap seolah saya sudah tidak ada. Biarkan saya yang bekerja di belakang layar. Setelah saya berhasil mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di istana itu, saya akan membongkar semuanya di depan para menteri."
__ADS_1
"Apakah para menteri itu memiliki hak untuk bersuara dan mengeluarkan hukuman?"
"Tentu saja ada Permaisuri. Jika Keluarga Kerajaan melakukan pelanggaran mereka meyakini kalau negara ini cepat atau lambat akan dihadapkan oleh bencana yang besar. Dengan begitu mereka akan mencari cara untuk mencegah bencana besar tersebut. Satu-satunya cara yang biasa mereka ambil adalah menghukum bahkan membunuh orang yang menjadi sumber masalah tersebut."
"Apa seserius itu? Tapi bukankah untuk mencari bukti di kerajaan sangat susah?"
"Ya saya tahu. Itulah yang menyebabkan Keluarga Kerajaan sampai detik ini dikenal sebagai keluarga yang baik. Karena memang selama mereka memimpin, tidak pernah ada celah sedikitpun yang membuat warga dan para menteri memiliki pemikiran yang buruk terhadap mereka."
"Apa aku ceritakan saja ya soal perselingkuhan pangeran Dalson dan Yang Mulia Ratu?" tawar Reine.
"Anda juga tidak bisa bersikap gegabah. Kita harus bertindak dengan halus hingga mereka semua tidak menyadari rencana kita."
Reine tersenyum bahagia mendengarnya. "Baiklah. Tapi saranku, kau bisa memulai penyelidikan melalui kediaman Yang Mulia Ratu. Ada banyak misteri di sana."
Tabib tua mengangguk. "Baik, Permaisuri. Saya harap anda bisa menjaga diri anda baik-baik."
__ADS_1