
Hujan turun dengan deras di tengah gemuruh petir yang begitu dahsyat. Sesekali hutan yang gelap itu terang karena ada kilatan merah yang berasal dari langit. Dengan tubuh menggigil kedinginan, Pangeran Dalson terus berjalan sambil menggendong Reine yang masih belum sadarkan diri.
Pria itu ingin membawa Reine ke tempat yang aman. Dia ingin Reine segera sadar. Meskipun tidak semua bersalah, tetapi Pangeran Dalson sudah tidak percaya dengan pengawal pribadinya. Dia tahu kalau semua orang yang selama ini ada di sisinya dan selalu bersikap seolah melindunginya hanya akan patuh terhadap perintah Yang Mulia Ratu.
Rasa kecewa dan benci Pangeran Dalson semakin besar. Pria itu kini tidak lagi berpihak pada Yang Mulia Ratu. Pria tangguh itu memutuskan untuk berperang melawan Yang Mulia Ratu dan memenangkan kekuasaan di kerajaan.
"Darren," lirih Reine dengan suara yang pelan. Meskipun pelan tetapi Pangeran Dalson bisa mendengarnya dengan jelas.
Pria itu menunduk lalu menutup wajah Reine yang basah karena terkena tetesan air hujan. Dia sudah kehabisan cara untuk melindungi wanita itu. Akan tetapi tempat yang ia tuju bukan main jauhnya. Bahkan kuda yang seharusnya bisa ia gunakan sebagai kendaraan juga hilang entah kemana.
"Darren, apa sepenting itu dia bagimu? Sampai-sampai saat kau tidak sadarkan diri tetap nama dia yang keluar dari bibirmu," ujar Pangeran Dalson.
Entah kenapa dia mulai merasakan perasaan aneh ketika mendengar Reine menyebutkan nama pria lain. Hatinya terasa sangat sakit seperti diiris oleh belatih yang begitu tajam. Jantungnya seperti diremas hingga membuatnya sulit untuk bernapas. Pangeran Dalson belum pernah merasakan sesakit ini sebelumnya.
Pria itu seperti tidak terima ketika wanita yang seharusnya menjadi miliknya justru tertarik kepada pria lain. Meskipun Pangeran Dalson sendiri tahu kalau pria lain itu menggunakan tubuhnya selama ini.
Karena jalanan terlalu licin Pangeran Dalson terpeleset hingga ia terduduk dan kepalanya terbentur kayu. Ada luka yang mengeluarkan darah di dahinya. Namun pria itu sama sekali tidak mempedulikan keadaannya sendiri. Dia lebih mementingkan Reine. Dia memeriksa sekujur tubuh Reine dan memastikan kalau wanita itu tetap baik-baik saja.
Pangeran Dalson terlihat sudah kehabisan tenaga. Namun pria itu tetap memaksakan diri untuk tetap berjalan. Dia tidak mau sampai kehilangan Reine. Dia tidak mau sampai terlambat untuk membawa Reine ke sebuah rumah yang bisa mengobatinya.
"Reine, kau harus bertahan. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman." Pangeran Dalson berdiri tegak lalu kembali melangkah. Langkahnya sangat pelan karena kini Pangeran Dalson mulai merasa pusing.
Pria itu merasa sedikit lega ketika melihat hujan sudah mulai berhenti. Meskipun begitu tetap saja pakaiannya sudah basah kuyup dan dia kini sangat kedinginan. Ditambah lagi kabut di hutan tersebut sangat dingin hingga membuat Pangeran Dalson merasa seperti ada di tengah-tengah gunung es.
Setelah menempuh jarak berkilo-kilo meter akhirnya Pangeran Dalson tiba di sebuah rumah kayu sederhana. Pria itu merasa kalau kakinya kini sangat kaku dan sulit untuk dibuat melangkah lagi. Dia ambruk tepat di depan pintu masih dengan posisi menggendong Reine. Suara jatuhnya Pangeran Dalson membuat sang pemilik rumah segera keluar. Seorang wanita tua terlihat kaget ketika melihat Pangeran Dalson ada di hadapannya.
__ADS_1
"Pangeran, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Anda datang menemui saya. Lalu siapa wanita ini?"
Pangeran Dalson memaksa matanya agar tetap terbuka untuk mengucapkan beberapa kata kepada wanita yang ada di depannya. "Tolong selamatkan dia!" Setelah mengatakan kalimat tersebut Pangeran Dalson juga tidak sadarkan diri. Dia tergeletak di lantai kayu dengan wajah yang sangat pucat.
"Pangeran, bangun Pangeran!"
...***...
Reine membuka kedua matanya secara perlahan. Ketika sadar, hal yang pertama kali ia lakukan adalah memeriksa perutnya. Meskipun sempat menolak kehadiran janin di dalam rahimnya tetapi kini Reine sangat tidak mau kehilangan anak itu. Dia sudah mulai merasakan rasa kasih sayang terhadap anak di dalam perutnya.
"Dia baik-baik saja. Dia bayi yang sangat kuat. Meskipun Anda kehilangan banyak darah, tetapi dia tetap bertahan di dalam sana. Sepertinya dia sangat menyayangi ibunya. Sampai-sampai dia tidak mau meninggalkan ibunya meskipun bahaya sempat mengancamnya," ucap wanita tua yang kini berdiri di samping tempat tidur.
"Siapa anda? Dimana ini?" Reine kembali mengingat ketika dirinya menabrak Pangeran Dalson saat pengawal kerajaan ingin membunuhnya. "Dimana Pangeran Dalson?"
Wanita tua itu tersenyum mendengar nama Pangeran Dalson. "Sepertinya Pangeran sangat menyayangi anda, Permaisuri. Apa anda tahu apa yang sudah dia lakukan? Padahal dia sendiri juga kondisinya sedang sakit. Tetapi dia rela pergi ke hutan untuk mencari ramuan agar bisa mengobati anda. Baru ini saya melihat sisi baik dari seorang Pangeran Dalson. Biasanya semua orang yang kenal dengan Pangeran Dalson pasti akan menilai kalau dia adalah pria yang sangat kejam dan tidak memiliki hati nurani. Tetapi hari ini saya melihat dari tatapan matanya kalau dia sebenarnya adalah pria yang sangat baik dan tulus terhadap orang yang ia sayangi."
Reine ingat dengan kandungnya lagi. "Apa Pangeran Dalson tahu kalau saya hamil?"
Nenek Tua itu terdiam sejenak. "Apa sebelumnya Anda merahasiakan kehamilan ini?"
"Ya," jawab Reine. "Tetapi setelah mendengar cerita dari Anda saya bisa menilai kalau Pangeran Dalson sudah mengetahui kehamilan ini."
"Maafkan saya, Permaisuri. Saya memang tidak tahu apa alasan anda merahasiakan kehamilan ini dari Pangeran Dalson. Tetapi jika saya tidak memberitahu keadaan Anda yang sebenarnya, Pangeran Dalson pasti akan semakin gelisah. Sekali lagi saya minta maaf," ucap wanita tua itu dengan wajah yang sangat menyesal.
"Sekarang ada di mana Pangeran Dalson? Saya ingin bertemu dengannya."
__ADS_1
"Tidak perlu, Permaisuri. Anda tidak boleh banyak gerak dulu demi kebaikan anak yang ada di dalam kandungan anda. Sebaiknya Anda istirahat saja di sini biar saya yang mencarikan Pangeran Dalson. Anda juga harus makan karena selama beberapa hari ini-"
"Beberapa hari Anda bilang?" potong Reine dengan wajah bingung.
"Benar,Permaisuri. Anda sudah beberapa hari tidak sadarkan diri. Kondisi Anda benar-benar lemah. Sebelumnya saya sempat meminta Pangeran Dalson untuk membawa anda ke rumah sakit agar anda bisa dirawat dengan para tim medis yang lebih ahli dalam bidangnya. Tetapi Pangeran Dalson menolak. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap anda. Saya sendiri tidak tahu hal buruk apa yang dihindari Pangeran."
"Pasti Pangeran Dalson takut jika anak buah Yang Mulia Ratu menemukan keberadaan kami jika kami berada di rumah sakit. Tapi apa benar Pangeran Dalson telah berubah? Atau ada tujuan lain di balik sikapnya yang baik ini," gumam Reine di dalam hati.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan Pangeran Dalson muncul di sana. Pria itu menatap ke arah Reine dengan tatapan yang tidak terbaca. Dia berjalan pelan menghampiri Reine hingga membuat wanita tua yang sempat berbicara dengan Reine memilih untuk menyingkir.
"Nenek Mery, terimakasih karena sudah membuat Reine kembali sehat," ucap Pangeran Dalson.
Nenek Mery menunduk hormat sambil tersenyum. "Memang sudah tugas saya untuk membantu Anda Pangeran. Saya permisi dulu. Saya ingin menyiapkan makanan untuk Permaisuri."
Pangeran Dalson hanya mengangguk saja. Dia tetap diam sampai Nenek Mery benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu.
"Pangeran, saya bisa jelaskan kenapa saya memilih untuk merahasiakan kehamilan ini." Reine yang tidak sabar justru lebih memilih untuk mengeluarkan kata lebih dulu.
Pangeran Dalson memandang ke arah Reine sebelum akhirnya tersenyum. Dia duduk di samping Reine. Memandang perut Reine sejenak. "Itu keputusan yang sangat bijak. Mungkin anak itu tidak ada lagi di perutmu jika kau memberitahuku lebih awal."
Reine mengernyitkan dahinya. "Anda tidak menyalahkan saya?"
"Tidak. Justru saya ingin minta maaf. Karena ulah pengawal pribadi saya, kau hampir saja celaka dan anak itu hampir saja keguguran."Wajah Pangeran Dalson terlihat sangat serius.
"Ini anak kita," ucap Reine dengan hati-hati sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana ketika mengetahui kalau kau sedang mengandung pewaris kerajaan. Nyawamu pasti dalam bahaya Reine jika Yang Mulia Ratu sampai mengetahui semua ini."
"Tapi semua itu tidak penting bagi saya. Yang ingin saya tahu apakah anda bahagia dan siap menerima anak ini sebagai anak anda?"