
Reine melepas pelukannya lalu memandang ke arah Pangeran Dalson. Dia mengusap pipi pria itu dengan lembut dan penuh perasaan. Ada senyum yang begitu tulus di wajah Reine malam itu. Dia memang ingin menceritakan semuanya kepada Darren. Namun sebelum dia mengatakan yang sebenarnya terjadi, dia ingin memastikan kalau tidak ada yang sedang menguping pembicaraan mereka.
"Bagaimana kalau kita ...." Reine membuka pakaian yang dikenakan oleh Pangeran Dalson.
Hal itu membuat Pangeran Dalson melebarkan kedua matanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang dipandang polos itu ternyata cukup berani di depan kekasihnya. Ya, kekasihnya. Bukan di depan Pangeran Dalson. Mengingat kenyataan pahit itu entah kenapa membuat Pangeran Dalson cemburu.
"Sayang, malam ini kau cantik sekali." Pangeran Dalson berusaha menekan emosinya. Dia juga harus bersikap seperti pria yang selama ini disukai oleh Reine.
"Apa di luar ada orang? Aku tidak mau ada yang mendengar pembicaraan kita," bisik Reine.
__ADS_1
Pangeran Dalson menggeleng. "Hang kita yang ada di sini. Aku sudah memerintahkan mereka pergi sejak tadi!"
Reine terdiam mendengarnya. Lalu wanita itu mengangguk. "Ayo kita ke sana." Wanita itu mengajaknya untuk duduk tanpa peduli kalau sekarang sudah malam.
"Reine, cepat ceritakan. Aku sudah sangat mengkhawatirkanmu!" protes Pangeran Dalson.
"Tadi pagi aku bertemu dengan tabib tua. Lalu Yang Mulia Ratu mengirimkan orang untuk membunuhku dan juga Tabib Tua. Mereka memukulku dengan sangat keras sampai aku pingsan. Aku yakin Tabib tua yang sudah melindungi nyawaku hingga akhirnya dia tewas," ucap Reine dengan ekspresi wajah yang menyakinkan.
"Aku tahu Yang Mulia Ratu memang wanita yang kejam. Tetapi aku tidak menyangka kalau dia bisa sekejam ini. Bukankah dia ingin Reine hamil? Lalu apa tujuan utamanya membunuh Reine secepat ini?" batin Pangeran Dalson.
__ADS_1
"Sebenarnya ini bukan terjadi sekali saja. Sudah sering Yang Mulia Ratu berniat mencelakaiku. Dari mulai mengirimkan makanan dan minuman beracun. Jika tanpa bantuan Tabib tua, aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku merasa takut. Aku sempat berpikir untuk bunuh diri saja daripada harus mati karena terbunuh. Tetapi aku tidak bisa pergi sebelum menyelamatkan Pangeran Dalson." Nada bicara Reine semakin menyakinkan.
"Menyelamatkan Pangeran Dalson? Kenapa dia?" Pangeran Dalson semakin penasaran.
"Sebenarnya Yang Mulia Ratu tidak benar-benar mencintai Pangeran Dalson. Dia hanya senang memanfaatkannya sajam. Suatu hari nanti jika rencana besarnya sudah berhasil, dia juga pasti akan menendang Pangeran Dalson.
Aku tidak mau sampai kekuasaan jatuh ke tangan Yang Mulia Ratu yang jahat itu. Tetapi aku ini bisa apa? Bahkan Pangeran Dalson saja hanya mengganggapku sampah. Rasanya sangat mustahil jika dia mau mempercayai perkataanku. Dia itu sudah tergila-gila dengan Yang Mulia Ratu!"
Reine merasa puas bisa mengerjai Pangeran Dalson seperti ini. Dia ingin Yang Mulia Ratu dan Pangeran Dalson seger berselisih paham. Dengan begitu dia tidak perlu khawatir untuk bertahan di istana tersebut sembari memikirkan cara untuk keluar dari istana.
__ADS_1
"Keterlaluan! Tadinya aku pikir Yang Mulia Ratu benar-benar tulus mencintaiku. Tidak aku sangka ternyata ada rencana besar di balik sikapnya yang manis!" umpat Pangeran Dalson di dalam hati. Pria itu benar-benar sudah terpancing dengan cerita bohong dari Reine.