The Ghost Prince

The Ghost Prince
Alasan Tepat


__ADS_3

Reine masih belum tahu kalau Darren sudah terganti dengan Pangeran Dalson. Wanita itu masih memperlihatkan sikap manjanya di hadapan Pangeran Dalson. Dia bahkan tidak seganas mencium pipi Pangeran Dalson sambil tersenyum malu.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," bisik Reine. Karena terlalu bahagia sampai-sampai dia tidak menatap kedua mata Pangeran Dalson. Reine menjatuhkan kepalanya di dada bidang Pangeran Dalson lalu membuat lingkaran kecil di sana. "Aku ingin kita selalu seperti ini."


"Reine? Apa yang dia lakukan? Bukankah kemarin dia terlihat sangat jijik ketika aku sentuh? Lalu sekarang apa yang dia lakukan? Cinta? Apa benar dia mencintaiku?" batin Pangeran Dalson semakin bingung. Pria itu memegang tangan Reine lalu menyingkirkannya. Dia kaget bukan main melihat tubuhnya dan Reine yang kini hanya tertutup selembar selimut saja.


"Ada apa? Kau mau kemana?" protes Reine. Wanita itu duduk lalu menarik lengan Pangeran Dalson. Dia bergelayut manja di sana. "Jangan pergi. Tetap di sini."


Entah kenapa Pangeran Dalson tidak bisa marah sedikitpun kali ini. Pria itu justru menurut saja ketika Reine menahannya untuk tetap berada di kamar itu. Meskipun kini matahari telah tinggi.

__ADS_1


"Sayang, sejak aku memutuskan untuk tinggal di istana ini. Aku sudah pasrah dengan yang namanya sebuah kematian. Mungkin cepat atau lambat aku juga akan celaka. Jadi, sebelum hari itu tiba. Aku ingin bersenang-senang denganmu," ucap Reine lagi. Meskipun tidak memandang secara langsung, tetapi Pangeran Dalson bisa tahu kalau kini Reine menangis.


Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Yang Mulia Ratu berdiri di sana dengan pelayan setianya. Reine dan Pangeran Dalson sama-sama kaget. Mereka tidak menyangka kalau wanita itu muncul tanpa peringatan sedikitpun.


"Yang Mulia, ada apa?" Reine segera menarik selimut dan menutup dirinya.


Pangeran Dalson terlihat sangat panik ketika kepergok seperti itu. Berbeda dengan ekspresi ketika Darren yang menguasai tubuhnya.


"Baik," jawab Pangeran Dalson. Dia segera mengambil kain yang tidak jauh dari tempat tidur sebelum berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Yang Mulia Ratu segera pergi meninggalkan kamar. Pelayan setia Yang Mulia Ratu menutup kembali pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Reine terlihat bingung melihat ekspresi Pangeran Dalson yang berbeda. "Apa itu Pangeran Dalson? Apa Darren pergi lagi?" batinnya ragu. Reine segera turun dari tempat tidur untuk mengejar Pangeran Dalson. "TUNGGU!"


Pangeran Dalson berhenti. Dia memutar tubuhnya lalu menatap Reine dengan begitu tajam. Reine melebarkan kedua matanya lalu melangkah mundur karena ketakutan. Wanita itu tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang.


"Ada apa? Maafkan aku. Mungkin tadi malam aku sangat mabuk sampai-sampai menyakitimu." Pangeran Dalson bisa melihat jelas jejak kepemilikan yang kini ada di leher dan bagian dada Reine. Dia berpikir kalau telah melakukan semua perbuatan itu saat sedang mabuk.


"Aku ... Aku ...." Reine tidak tahu harus jawab apa sekarang. Tidak mau menunggu, Pangeran Dalson segera masuk ke dalam kamar mandi. Reine memalingkan wajahnya dan menangis. "Sejak kapan Pangeran Dalson sadar?"


Di dalam kamar mandi, Pangeran Dalson memandang dirinya sendiri di depan cermin. Pria itu kelihatan bingung. Dia mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia tahu kalau seseorang sedang mengendalikannya saat ini. Namun Pangeran Dalson tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Aku harus segera mencari tahu. Kali ini aku sangat yakin kalau seseorang berniat jahat padaku."


__ADS_2