
Reine membuka kedua matanya secara perlahan ketika merasakan teriak matahari yang begitu menyengat. Secara otomatis tangannya terangkat untuk menghalangi cahaya matahari yang sejak tadi bertatap langsung dengan wajahnya.
"Reine, kau sudah bangun?" Angel segera beranjak dan mendekati Reine. "Maafkan aku. Tadinya di sini teduh. Tapi matahari terus bergerak hingga seperti ini," jelas Angel dengan wajah menyesal.
Reine masih belum percaya dengan apa yang dia lihat. Wanita itu berusaha duduk dan dibantu oleh Angel.
"Hati-hati," protes Angel.
"Angel?" tanya Reine tidak percaya.
"Ya, siapa lagi?" sahut Angel dengan santai.
Reine segera memeluk wanita itu dengan nata berkaca-kaca. "Terima kasih Tuhan. Terima kasih," puji Reine dengan hati yang bahagia.
Angel tersenyum bahagia. "Maafkan aku karena berpikir kalau selama ini kau bersenang-senang di istana hingga lupa dengan kami yang ada di asrama. Reine, kenapa kau tidak pernah cerita apa yang sebenarnya terjadi di asrama? Bahkan Mora juga seperti menutupinya," protes Angel tidak terima.
__ADS_1
"Aku hanya tidak mau membuat semua keluargaku yang ada di asrama khawatir. Maafkan aku juga ya." Reine menatap wajah Angel. "Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah tadi aku ada di tong sampah? Bersama mayat busuk yang sangat baik." Bahkan hanya membayangkannya saja sudah membuat Reine ingin muntah.
"Seorang pengawal datang ke asrama. Dia bilang kalau bisa membantumu untuk kabur dari istana. Jadi, dia menunjukkan sebuah jalan rahasia. Aku dan Mora menunggu di sana. Kami menunggu sampai setengah hari. Saat itu kami berpikir kalau kau tidak akan berhasil kabur meninggalkan penjara bawah tanah. Di tambah lagi Mora yang terus saja mengatakan kalau penjara bawah tanah seperti sebuah neraka. Hanya ada penyiksaan di sana dan kecil kemungkinan orang yang sudah masuk bisa keluar hidup-hidup."
Angel masih mengingat semua yang dikatakan Mora. Ada rasa kesal ketika wanita itu selalu saja membuatnya takut. Kalau bukan demi Reine, mungkin Angel tidak mau akrab dengan Mora.
"Lalu sekarang dimana Mora?" Reine mencari ke segala arah. Namun dia hanya menemukan pepohonan tinggi di sana. Tidak ada manusia lain selain mereka berdua.
"Ke sungai. Baju yang tadi kau kenakan sangat bau. Jadi dia ingin mencucinya dan membawakan air untuk kita," jawab Angel apa adanya.
"Reine jangan melamun. Oh iya, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada yang sakit? Reine, apa bayi di dalam kandunganmu baik-baik saja?" Angel memegang perut Reine berharap tidak ada masalah dengan keponakan kecilnya itu.
"Gerakannya masih terasa dengan begitu jelas. Sepertinya dia kelaparan," sahut Reine sambil tertawa kecil. Tidak ada niat untuk menyusahkan Angel. Namun Reine merasakan lapar yang tidak tertahankan lagi.
"Aku tahu kau pasti lapar. Itu kenapa aku membakar ubi ini." Angel mengambil ubi yang sejak tadi dia bakar. "Hanya ini yang aku miliki. Setelah tiba di kota, kau bisa memakan apapun sesuka hatimu."
__ADS_1
"Ke kota?" tanya Reine bingung. Tadinya dia berpikir kalau akan pulang ke asrama.
"Ya. Mereka pasti akan mencarimu ke asrama." Angel meletakkan ubi yang sudah hangat di atas tangan Reine.
"Kau benar," jawab Reine dengan wajah lemas. Dia memakan ubi itu secara perlahan.
"LARI!"
Angel kaget bukan main mendengar teriakkan Mora. Wanita itu segera memegang tangan Reine dan memaksanya berdiri. "Reine, kita harus segera pergi dari sini."
"Ada apa?" Reine terlihat kebingungan.
"Itu suara Mora. Dia bilang jika dia sampai berteriak lari, itu berarti kita dalam bahaya." Angel segera berlari kencang menuju ke tengah-tengah hutan bersama dengan Reine. Reine yang masih lemas tetap memaksakan dirinya agar bisa lolos dari kejaran musuh. Hingga satu hal yang tidak terduga terjadi. Saat baru berlari beberapa meter, justru mereka kini sudah dikepung. Reine dan Angel berhenti dan memandang semua pengawal bersenjata yang kini mengelilingi mereka.
"Reine, sekarang kita harus bagaimana?"
__ADS_1